Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN mengenai ancaman kiamat perubahan iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Wilayah kutub utara ini tidak hanya mencair, tetapi berubah bentuk akibat tekanan perubahan iklim yang ekstrem.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa apa yang terjadi di Greenland saat ini adalah sinyal nyata bahwa stabilitas Bumi sedang berada di titik kritis.
Berdasarkan studi terbaru yang dirilis dalam ScienceAlert (Januari 2026), daratan es Greenland dilaporkan sedang berputar dan bergeser ke arah barat laut. Pergerakan ini bukan sekadar pergeseran lempeng tektonik biasa, melainkan hasil dari hilangnya massa es secara masif yang selama ini menekan daratan tersebut ke bawah.
Fenomena yang dikenal sebagai post-glacial rebound ini menyebabkan daratan Greenland "mengembang" dan berubah bentuk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Lapisan Es Greenland (GrIS) tidak lagi mampu menahan beban dirinya sendiri akibat pemanasan global. Perubahan bentuk daratan ini memicu aktivitas seismik dan retakan-retakan baru yang mempercepat aliran es ke laut, menciptakan siklus kerusakan yang sulit dihentikan.
Selain perubahan bentuk fisik, para peneliti sempat dihebohkan oleh "tanda misterius" yang terekam di dalam lapisan es Greenland. Awalnya, beberapa pihak menduga sinyal tersebut berasal dari aktivitas luar angkasa atau sisa badai matahari purba.
Namun, laporan terbaru dari ScienceAlert mengklarifikasi bahwa tanda tersebut kemungkinan besar merupakan jejak kimiawi dari aktivitas internal Bumi dan polusi atmosfer yang terperangkap dalam es.
Ancaman Kiamat Es
Melansir ulasan dari The Guardian, para ahli iklim mulai menggunakan istilah "Ice Apocalypse" atau kiamat es untuk menggambarkan kecepatan pencairan di kutub. Greenland mengandung cadangan es yang cukup untuk kenaikan permukaan laut global hingga 7 meter.
Jika pencairan terus berakselerasi mengikuti pola pergerakan daratan yang ditemukan saat ini, kota-kota besar di pesisir dunia diprediksi akan tenggelam lebih cepat dari perkiraan semula.
Dampak ini tidak hanya soal kenaikan air laut, tetapi juga gangguan pada arus samudra global yang mengatur cuaca dunia. (ScienceAlert/The Guardian/H-4).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Air dari lapisan Es Greenland ini sudah menjadi sumber global terbesar atas kenaikan permukaan laut dengan menyumbang kenaikan 0,6 inci (15,24 centimeter) sejak 1990-an.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved