Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KADAR karbon dioksida (CO2) di atmosfer Bumi mencatat lonjakan tertinggi sepanjang sejarah pada 2024, memperkuat laju pemanasan global. Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, peningkatan tahunan mencapai 3,5 bagian per juta (ppm), angka tertinggi sejak pencatatan modern dimulai pada 1957.
Para peneliti mengaitkan lonjakan ini dengan penggunaan bahan bakar fosil yang masih tinggi, meningkatnya kebakaran hutan, serta berkurangnya kemampuan alam dalam menyerap karbon. Laut dan hutan yang biasanya menjadi penyerap alami CO2 kini semakin terbebani.
“Panas yang terperangkap oleh CO2 dan gas rumah kaca lainnya mempercepat perubahan iklim dan memicu cuaca ekstrem,” kata Ko Barrett, Wakil Sekretaris Jenderal WMO. Menurutnya, pengurangan emisi tidak hanya penting bagi iklim, tetapi juga untuk keamanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Gas rumah kaca seperti CO2 menyerap radiasi panas, sehingga suhu rata-rata global meningkat. Dampaknya, pola cuaca berubah, permukaan laut naik, dan kemampuan pertanian terganggu. Berbagai efek lainnya bahkan dapat menimbulkan kerugian besar sekaligus mengancam kehidupan miliaran orang di seluruh dunia.
Sejak 1990, CO2 bertanggung jawab atas sekitar 80% pemanasan atmosfer, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Pada 2024, konsentrasi CO2 mencapai 423,9 ppm, naik 152% dibandingkan tingkat praindustri sebelum 1750.
Selain CO2, dua gas rumah kaca penting lainnya, yaitu metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) juga meningkat signifikan. Masing-masing naik 166% dan 25% dari tingkat praindustri.
Tiga negara penyumbang emisi terbesar adalah Tiongkok (29,2%), Amerika Serikat (11,1%), dan India (8,2%). Sementara Tiongkok dan India mencatat kenaikan emisi dibanding tahun sebelumnya, emisi Amerika Serikat relatif stabil. Meski Tiongkok berkomitmen mengurangi emisi, dan Amerika Serikat pernah menjadi bagian Perjanjian Paris 2015, penilaian Climate Action Tracker menunjukkan upaya keduanya masih sangat kurang.
Selain faktor manusia, kemampuan alam menyerap karbon kini juga menurun. Pemanasan laut mengurangi kapasitas air laut menyerap CO2, menciptakan efek umpan balik yang mempercepat pemanasan global.
“Ada kekhawatiran bahwa penyerapan CO2 oleh laut dan daratan semakin melemah, sehingga lebih banyak CO2 tertahan di atmosfer,” ujar Oksana Tarasova, pejabat ilmiah senior WMO. Ia menekankan, pemantauan gas rumah kaca yang berkelanjutan sangat penting untuk memahami siklus ini dan mengambil langkah mitigasi lebih cepat.
Temuan ini menjadi peringatan bahwa tindakan pengurangan emisi tidak bisa ditunda lagi. Tanpa pengendalian yang efektif, dampak perubahan iklim akan semakin parah, mengancam keseimbangan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan manusia di seluruh dunia. (Live Science/Z-2)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved