Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dari Rumah Sakit TNI AD Singaraja Lucky Yogasatria Natasukma mengatakan orangtua perlu memberikan contoh yang baik saat mengenalkan pola hidup sehat pada anak.
"Yang perlu diingat, anak itu adalah peniru yang ulung. Berarti, kalau mau anak makan sehat, ibunya harus mulai makan sehat. Mau anak cuci tangan, ya ibunya juga cuci tangan, ajarin," kata Lucky dalam sebuah acara virtual, dikutip Sabtu (2/4).
"Jangan kita menyuruh anak makan sayur dan buah, tapi bapak dan ibunya enggak makan sayur dan buah," lanjut dia.
Baca juga: Social Distancing Pengaruhi Tiga Aspek Tumbuh Kembang Anak
Mengajari anak untuk mau makan makanan sehat, terutama makanan yang masih asing baginya, memang tidak mudah. Oleh karena itu, menurut Lucky, orangtua perlu lebih sabar karena hal tersebut butuh konsistensi.
"Ketika mau kasih makan pepaya, anaknya enggak mau. Ibunya langsung bilang, 'Anak saya enggak mau pepaya, ya sudah saya enggak kasih lagi'. Enggak begitu. Untuk mengenalkan makanan baru itu butuh konsistensi. Secara teori, untuk mengenalkan makanan baru ke anak itu butuh 15 kali," ujar Lucky.
"Jadi kalau sekali dikasih anak enggak mau, besoknya coba dikasih lagi, sambil ibunya juga makan. Pelan-pelan dan tanpa ada paksaan, dicontohkan berulang-ulang. Kalau dipaksa malah semakin enggak mau makan," lanjutnya.
Lucky juga mengingatkan bahwa lingkungan sekitar harus bisa mendukung anak dalam menjalankan pola hidup sehat. Misalnya, orangtua perlu aktif mengajak anak olahraga secara rutin dan memastikan bahwa tidak ada orang yang merokok di sekitar anak.
Sejak dini, anak memang perlu diajarkan untuk menjaga kesehatan dari berbagai aspek.
Menurut Lucky, semakin banyak upaya yang dilakukan, maka akan semakin optimal dalam menjaga kesehatan anak.
"Jangan hanya dari makanan saja. Tapi lengkapi lagi dengan pola hidup bersih dan sehat, lingkungan yang sehat, aktivitas di luar rumah harus aktif, ditambah vaksinasi. Ini akan lebih optimal dalam menjaga kesehatan," katanya.
"Kalau vitamin, itu sebenarnya tidak perlu diberikan jika anak sudah diberikan makanan yang bervariasi. Vitamin itu umumnya diberikan pada saat asupannya kurang, misal ketika anak lagi sakit tentu kebutuhan vitaminnya meningkat," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan menyentuh balita untuk mencegah terjadinya penularan campak.
Poltekes Bhakti Kencana menawarkan tiga program studi strategis yang dirancang berdasarkan kebutuhan pasar kerja
KITA semua mengikuti dengan waspada perkembangan eskalasi konflik dan perang di kawasan Timur Tengah.
Kondisi kesehatan Nadiem Makarim menurun akibat reinfeksi bekas operasi. Eks Mendikbudristek ini terancam operasi lagi di tengah sidang korupsi Chromebook.
Penyumbatan jantung atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) pada arteri koroner.
Meskipun populer dan estetik, bubble tea menyimpan risiko kesehatan serius seperti paparan timbal, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental. Simak faktanya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved