Kamis 31 Maret 2022, 13:43 WIB

Apa itu Afasia yang Bikin Bruce Willis Berhenti Akting?

Mediaindonesia.com | Humaniora
Apa itu Afasia yang Bikin Bruce Willis Berhenti Akting?

AFP/Dominick Reuter.
Bruce Willis.

 

Apa yang perlu diketahui tentang afasia, diagnosis Bruce Willis

BERITA bahwa bintang film Bruce Willis telah pensiun dari dunia akting karena afasia merebak pada hari ini. Afasia menyoroti gangguan komunikasi sehingga yang kurang dipahami.

Inilah penjelasan terkait penyakit afasia.

Apa itu afasia? 

"Afasia hanya berarti bahwa seseorang memiliki masalah dengan bahasa yang tidak mereka miliki sejak lahir," ujar Hugo Botha, ahli saraf di Mayo Clinic di Minnesota.

Penyebab paling umum yaitu stroke atau cedera kepala. Para ahli menekankan bahwa meskipun hal itu dapat memengaruhi produksi dan pemahaman kata-kata baik ucapan maupun tulisan, biasanya tidak memengaruhi kecerdasan.

Afasia mempengaruhi sekitar dua juta orang Amerika, menurut National Aphasia Association, membuatnya lebih umum daripada Penyakit Parkinson, cerebral palsy, atau distrofi otot. Survei pada 2016 yang dilakukan oleh kelompok yang sama menemukan bahwa kurang dari 9% orang tahu tentang afasia.

Baca juga: Sakit, Bruce Willis Pensiun dari Akting

Meskipun biasanya disebabkan oleh peristiwa satu kali tertentu seperti stroke, "Ada kemungkinan lain, seperti dari penyakit neurodegeneratif atau tumor yang tumbuh," jelas Brenda Rapp, ilmuwan kognitif di Universitas Johns Hopkins. Dalam kasus seperti itu, kerusakan bersifat progresif dan terapi berfokus pada pencegahan hilangnya fungsi lebih lanjut.

Keluarga Willis tidak membagikan penyebab diagnosisnya dalam pernyataan mereka.

Apa saja bentuknya? 

Sistem otak yang mengatur bahasa merupakan mesin yang sangat kompleks. Ia melibatkan, "Pemilihan kata yang tepat, menggerakkan mulut dengan tepat untuk menyuarakannya, dan di sisi lain mendengar dan menguraikan maknanya," kata Rapp.

Setiap orang kadang-kadang berjuang untuk menemukan kata yang tepat, "Tetapi Anda bisa membayangkan pada afasia, ini sering terjadi," tambahnya. Dokter terkadang membagi afasia ke dalam kategori klinis luas yang berkorelasi dengan tempat terjadinya cedera otak.

Dalam afasia ekspresif, orang, "Biasanya memahami dengan cukup baik tetapi mengalami kesulitan mengeluarkan kata-kata," kata ahli patologi wicara Brooke Hatfield, dari American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Seseorang dengan jenis afasia ini mungkin menggunakan kalimat sederhana seperti ingin makanan untuk dipahami.

Dalam afasia reseptif, "Kata-kata datang dengan mudah, tetapi itu mungkin bukan kata-kata yang tepat. Sulit pula bagi orang itu untuk memahami yang mereka dengar," tambah Hatfield.

Afasia global memiliki komponen ekspresif dan reseptif.

Terapi wicara 

Kabar baiknya, kata Hatfield, yaitu orang dapat berkembang dalam jangka panjang. "Ada orang yang terkena stroke 30 tahun lalu yang masih menggunakan bahasa dan komunikasi mereka dan mereka masih mendapatkan keuntungan."

Otak sangat plastis dan terapi wicara, kata Rapp, dapat melibatkan bagian lain dari otak untuk memotong penghalang jalan dari area yang rusak dan menjalin koneksi baru. Terapi semacam itu juga mengajarkan orang untuk membicarakan topik tersebut jika mereka terjebak pada kata tertentu.

Anggota keluarga juga dapat mengembangkan strategi untuk membuat diri mereka lebih dipahami. "Hal-hal seperti kalimat yang lebih pendek dan memastikan bahwa Anda berbicara dengan orang tersebut dalam pandangan penuh daripada ruangan lain dan meminimalkan kebisingan," kata Botha. Beberapa orang melakukannya dengan baik menggunakan alat bantu karena kemampuan mereka untuk menulis tidak terpengaruh.

Baca juga: Wanita Bicara Rasa Sakit Menjadi Botak akibat Alopecia Areata 

Selain itu, ada perawatan eksperimental yang menggabungkan stimulasi listrik otak dengan terapi wicara yang telah menunjukkan harapan dalam memulihkan fungsi. Dalam kasus afasia progresif, pengembangan obat yang menargetkan pembentukan plak protein dan kusut di otak yang menyebabkan penyakit neurodegeneratif dianggap sebagai jalan keluar.

Kesabaran

Semua ahli menekankan kesabaran. Afasia dapat membuat frustrasi dan mengasingkan diri, karena, "Hubungan kita dengan orang lain sangat bergantung pada kemampuan untuk berbicara dengan mereka dan berkomunikasi dengan mereka," kata Rapp. Ini menyebabkan seseorang atau pengasuhnya menarik diri.

"Ini mirip dengan tiba-tiba terbangun di negara yang Anda tidak berbicara bahasa itu," kata Hatfield daripada perubahan dalam kemampuan kognitif yang mendasarinya. (AFP/OL-14)

Baca Juga

Antara

Indeks Literasi Digital Indonesia Masih Perlu Peningkatan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:42 WIB
Indonesia dipandang perlu pemahaman terkait literasi digital yakni kemampuan dalam mengakses, mencari, menyaring, dan memanfaatkan setiap...
AFP

Gelombang Terakhir Kedatangan Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:29 WIB
Kelompok terbang (Kloter) 44 Embarkasi Solo (SOC 43) tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Minggu...
AFP/Valentin

Indonesia Ingin Perbaiki Infrastruktur Nuklir

👤Dinda Shabrina 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:20 WIB
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjajaki peluang kerja sama dengan pihak perancis dalam mengembangkan teknologi nuklir di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya