Kamis 10 Maret 2022, 06:30 WIB

Masih Muda Sudah Sakit Ginjal? Ini Penyebabnya

Zubaedah Hanum | Humaniora
Masih Muda Sudah Sakit Ginjal? Ini Penyebabnya

123RF
Ilustrasi ginjal

 

PENYAKIT ginjal bisa dialami mereka yang bahkan masih berusia muda dan salah satunya terkait dengan penyakit bawaan, ungkap Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Aida Lydia.

"Gangguan ginjal pada usia yang sangat muda biasanya terkait dengan penyakit bawaan. Tetapi pada usia yang lebih besar misalnya usia sekolah dasar yang paling banyak kami jumpai adalah glomerulonefritis (GN)," kata dia dalam sebuah konferensi pers virtual, dilansir dari Antara.

Glomerulonefritis merupakan suatu gangguan ginjal yang disebabkan karena reaksi radang pada ginjal. Penyebabnya dapat berbagai macam antara lain karena didahului infeksi, faktor keturunan, paparan dengan sesuatu dari lingkungan dan lainnya.

Penyakit ginjal juga dikaitkan dengan gaya hidup tak sehat sehingga memunculkan penyakit seperti hipertensi, diabetes dan obesitas sebagai penyumbang terbesar pada terjadinya gagal ginjal. Gaya hidup tak sehat ini mencakup kebiasaan merokok, kurang aktif bergerak, diet tinggi gula, garam dan lemak, kemudian stres dan kurangnya waktu beristirahat.

"Gaya hidup merupakan faktor risiko penyakit ginjal kronik (PGK) memang tinggi di masyarakat. Hipertensi didapatkan 34,1%, diabetes 10,9% dan obesitas 21,8%. Angka merokok juga tinggi 28,8%, ini faktor risiko PGK," kata Aida.

Ia menjelaskan, pada awal perjalanan penyakit PGK umumnya tidak ada gejala, berbagai keluhan baru dirasakan bila penyakit sudah lanjut.

Di Indonesia, prevalensi PGK semakin meningkat setiap tahun. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi PGK yakni 0,38% atau naik hampir dua kali lipat dibandingkan 2013 yang tercatat 0,2%.

Sementara itu, data registri Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) pada tahun 2006 menunjukkan, prevalensi PGK bahkan sudah mencapai 12,5%.


Kurang literasi
Menurut dokter Aida, kemungkinan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan ginjal menjadi salah satu penyebab kenapa pada umumnya pasien sering terlambat berobat dan sering datang dalam kondisi yang sudah lanjut.

Padahal, gangguan ginjal dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, diagnosis dini dan tatalaksana yang optimal agar pasien tidak sampai mengalami gagal ginjal.

"Rendahnya pengetahuan dan rendahnya literasi kesehatan di masyarakat turut berperan terhadap tingginya angka penyakit ginjal karena tidak mengetahui bagamana kesehatan ginjalnya," ujar Aida.

Menurut dia, literasi kesehatan pada semua kalangan menjadi kunci yang dapat meningkatkan kewaspadaan kesehatan ginjal dan keberhasilan program kesehatan pemerintah.

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, sependapat dengan Aida terkait pola hidup tak sehat sehingga memunculkan penyakit hipertensi dan diabetes menjadi penyumbang gangguan pada ginjal termasuk PGK .

"Itu semua karena pola hidup yang kurang baik di usia muda artinya konsumsi garam, lemak yang berlebihan sehingga kelebihan berat badan yang juga mengakibatkan memiliki hipertensi lalu ke dokter dan tidak meminum obat secara rutin. Obatnya habis, tidak memeriksakan kesehatan lanjutan," kata dia.

Di sisi lain, menurut dia, rendahnya edukasi pada masyarakat, tidak disiplin pengobatan menyebabkan timbulnya gejala penyakit ginjal kronik.

"Seperti saya di usia 26 tahun mengalami gagal ginjal stadium akhir karena hipertensi yang tidak terkontrol," demikian kata Tony. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Fakhri Hermansyah

Lebih Rentan, Lansia Diminta Segera Divaksin Booster

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:49 WIB
Budi mengatakan lansia memiliki risiko kematian 20 kali lebih tinggi bila terpapar covid-19 dan dirawat di rumah...
AFP/Handout / National Institutes of Health

Subvarian Covid-19 BA.5 Punya Gejala yang Berbeda Dibandingkan Varian Lain

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:45 WIB
Ada satu yang membedakan BA.5 dari varian lain yaitu jarang ditemukan pasien BA.5 yang mengalami anosmia atau kehilangan indera perasa dan...
Freepik

90 Persen Ibu Menyusui Membutuhkan Dukungan Suami

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:27 WIB
Ketika dukungan tersebut hilang dan ibu menyusui merasa tidak bahagia dengan proses laktasi, ibu juga bisa mengalami konsekuensi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya