Selasa 25 Januari 2022, 19:49 WIB

TPA Terancam Penuh, Masyarakat Diminta Bijak Kelola Sampah

Rahmatul Fajri | Humaniora
TPA Terancam Penuh, Masyarakat Diminta Bijak Kelola Sampah

MI/ASTRI NOVARIA
Talkshow Nunggu Sunset bertajuk Bijak Kelola Sampah saat Pandemi di KLHK, Selasa (25/1).

 

DIREKTUR Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sinta Saptarina meminta masyarakat bijak dalam mengelola sampah selama pandemi covid-19. Ia mengatakan terdapat peningkatan penggunaan plastik kemasan hingga 30% dalam dua tahun terakhir atau selama pandemi covid-19 yang membuat volume sampah dari plastik di tempat pembuangan akhir (TPA) mengalami peningkatan.

Ia berharap masyarakat bisa mengelola plastik dari kemasan dan menggunakannya kembali guna mengurangi sampah yang akan dibuang ke TPA.

Baca juga: DPR RI Pertanyakan Ketersediaan Kamar Rawat Inap Pasien BPJS Kesehatan

"Pengiriman barang itu harus dengan bungkus (plastik), sehingga memang kita perlu langkah selanjutnya. Jika itu masih bermanfaat mohon digunakan kembali, sehingga beban untuk lingkungan yang dibuang ke TPA itu sedikit," kata Sinta, dalam acara Nunggu Sunset Media Indonesia di Jakarta, Selasa (25/1).

Selain meminta masyarakat untuk bijak mengelola sampah, pihaknya juga telah mengimbau pemerintah daerah untuk memperbanyak bank sampah untuk masyarakat. Sehingga, masyarakat dapat membuang sampah di tempatnya dan tidak mencemari lingkungan.

Namun, ia mengatakan yang terpenting saat ini adalah bagaimana masyarakat dapat memahami dan bijak dalam mengelola sampah. Ia mengatakan masyarakat harus paham mana sampah yang bisa dipakai kembali. 

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk memilah kemasan sebelum berbelanja sesuatu. Jika barang yang dibeli dikemas dengan plastik, maka bisa diganti dengan kertas yang lebih ramah lingkungan. Ia mengatakan jika plastik harus digunakan, maka sebaiknya plastik digunakan kembali.

"Sebetulnya mekanisme yang baik ada upaya pengurangan dulu di rumah kita. Sampah di rumah yang bisa dimanfaatkan dapat digunakan terus menerus karena kita tahu sampah plastik umurnya panjang. Kita butuh plastik memang, tapi tidak harus dimusuhi. Kita pakai lagi dan didaur ulang kembali," katanya.

Sinta mengatakan imbauan untuk mengelola sampah harus terus didengungkan kepada masyarakat. Pasalnya, kata ia, mengelola sampah merupakan gaya hidup yang butuh waktu untuk diubah. Maka dari itu, ia meminta semua pihak dari swasta hingga masyarakat untuk sama-sama peduli dan bijak dalam mengelola sampah.

"Pendampingan masyarakat itu sampai bertahun-tahun, terutama di kawasan pesisir yang sulit sekali menempatkan sampah yang tepat dan sanitasi, sehingga perlu pendampingan terus menerus," katanya.

Lebih lanjut, Sinta juga menyeroti adanya limbah medis selama pandemi covid-19, seperti masker dan alat pelindung diri. Ia mengatakan masyarakat juga diharapkan dapat memisahkan sampah medis, seperti masker dan melakukan penanganan khusus, seperti disemprot desinfektan, digunting, dimasukkan ke kantong plastik yang tertutup.

Ia mengatakan pihaknya telah meminta pemda untuk membagikan kantong kuning ke setiap rumah guna mengumpulkan limbah medis. Ia mengatakan nantinya akan mengirimkan sampah tersebut ke pengelola limbah medis yang telah mendapatkan izin menggunakan insinerator. Insinerator merupakan alat yang digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu.

Sementara itu, CEO Rekosistem Ernest Layman mengatakan pihaknya ingin berkontribusi dalam pengelolaan sampah dengan menghadirkan aplikasi pengangkutan dan pengolahan sampah. Ia mengatakan sejauh ini pihaknya mengelola sampah organik, anorganik dan residu. Nantinya, pihak yang ingin sampahnya diangkut bisa mengakses aplikasi Rekosistem. Setelah itu, Rekosistem menyambungkan dengan mitra kerja seperti perusahaan daur ulang dan peternak maggot. 

Ia mengatakan sejauh ini pihaknya telah mengangkut dan mengelola 35 ton sampah per hari.

"Kita menghubungkan orang punya sampah, pakai platform kita, kemudian diangkut sama mitra angkut atau dikumpulkan di tempatnya, terus didistribusikan. Yang organik ke tempat maggot, anorganik ke daur ulang, residu kita bekerja sama dengan mitra yang bisa memanfaatkan untuk produksi semen atau menghasilkan karbon padat atau likuid karbon," katanya.

(OL-6)

Baca Juga

Antara/Mohamad Hamzah

Pengawasan Ketat Ternak Impor dan Karantina Hewan Cegah Meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:44 WIB
“Titik-titik pemeriksaan, pengawasan dan karantina untuk sapi impor perlu menjadi fokus pemerintah supaya PMK tidak semakin...
DOK Kemenko PMK

Pemerintah Maksimalkan Perlindungan Bagi Anak dan Penyandang Disabilitas yang Terdampak Pandemi

👤Widhoroso 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:01 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, masa depan anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang kehilangan orang tua pada masa Pandemi...
Antara

14,3 Juta Lansia Rampung Divaksinasi

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:38 WIB
Jumlah itu setara 66,44 persen dari target 21.553.118...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya