Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

TPA Cipayung Overkapasitas, Sampah Meluber hingga ke Jalan Protokol Depok

Kisar Rajagukguk
09/3/2026 16:19
 TPA Cipayung Overkapasitas, Sampah Meluber hingga ke Jalan Protokol Depok
Tumpukan sampah dari tempat penampungan sementara meluber hingga ke jalan di Kota Depok, Jawa Barat .(MI/Kisar Rajagukguk)

KONDISI pengelolaan sampah di Kota Depok, Jawa Barat, kian mengkhawatirkan. Pantauan pada Senin (9/3) siang, menunjukkan tumpukan sampah berserakan di sepanjang Jalan Raya Bogor yang merupakan akses utama menuju Kantor Wali Kota Depok. Ketiadaan fasilitas tempat sampah di sepanjang jalan negara tersebut memicu warga membuang limbah rumah tangga dan plastik sembarangan di bahu jalan.

Tumpukan sampah tersebut tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga menebar bau busuk yang menyengat. Fenomena ini disebabkan oleh proses pembusukan organik, munculnya cairan lindi, serta keterlambatan pengangkutan oleh armada kebersihan.

Kondisi ini memicu protes keras dari warga dan pengguna jalan. Selain mencemari lingkungan, keberadaan sampah tersebut berpotensi menjadi sarang nyamuk, lalat, dan cacing yang mengancam kesehatan masyarakat, serta berisiko mencemari air tanah melalui rembesan lindi.

Oben, 53, seorang pengendara yang kerap melintas di Jalan Raya Bogor, mengaku sangat terganggu dengan pemandangan dan polusi udara yang ditimbulkan.

"Situasi ini meresahkan karena menimbulkan bau busuk, pemandangan tidak sedap, bahaya bagi pengendara, dan potensi kemacetan. Selain sangat mengganggu ke-estetikaan lingkungan," katanya, Senin (9/3).

Ia menambahkan bahwa keberadaan sampah di jalan protokol memberikan dampak langsung yang dirasakan oleh setiap pengendara. "Keberadaannya di sepanjang jalan raya membuat pengaruhnya terlihat secara langsung dan dapat dirasakan oleh pengendara yang melintas di jalan tersebut," ujarnya.

Krisis Sampah di Pasar Tradisional
Selain di jalan nasional, krisis serupa melanda sejumlah pasar tradisional di Kota Depok, seperti Pasar Cisalak, Pasar Kemiri Muka, dan Pasar Agung. Penumpukan sampah di lokasi-lokasi tersebut dipicu oleh keterbatasan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Cisalak, Budi Haryanto, mengungkapkan bahwa sampah yang menumpuk didominasi oleh limbah organik seperti sayur dan buah, serta sampah rumah tangga. Dampaknya, kondisi pasar menjadi kumuh dan sepi pembeli.

"Aroma menyengat dan belatung serta bau tidak sedap membuat penurunan omzet pedagang lantaran pembeli enggan datang ke pasar yang kotor. Tumpukan sampah ini mengakibatkan kerugian ekonomi bagi pedagang," ungkap Budi.

Ia menegaskan tumpukan sampah tersebut telah menjadi sarang hama seperti tikus dan kecoak yang menyebarkan penyakit, sekaligus menimbulkan polusi udara yang mengganggu aktivitas perdagangan.

TPA Cipayung Kritis
Menanggapi persoalan ini, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Depok, Udara Kodratulloh, mengakui adanya kendala pengangkutan akibat daya tampung TPA yang sudah tidak memadai.

Menurutnya, penumpukan di sejumlah titik jalan dan pasar merupakan dampak berantai dari kondisi TPA Cipayung yang sudah mencapai titik kritis.

"TPA Cipayung, Kota Depok, mengalami overcapacity parah dengan ketinggian sampah mencapai 30 meter, melebihi daya tampung 1,3 juta meter kubik. Lebih dari 1.400 ton sampah masuk setiap hari, menyebabkan antrean truk dan potensi longsor. Kondisi kritis ini membuat penanganan sampah di TPS sekitarnya terhambat," pungkasnya. (KG/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya