Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI pengelolaan sampah di Kota Depok, Jawa Barat, kian mengkhawatirkan. Pantauan pada Senin (9/3) siang, menunjukkan tumpukan sampah berserakan di sepanjang Jalan Raya Bogor yang merupakan akses utama menuju Kantor Wali Kota Depok. Ketiadaan fasilitas tempat sampah di sepanjang jalan negara tersebut memicu warga membuang limbah rumah tangga dan plastik sembarangan di bahu jalan.
Tumpukan sampah tersebut tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga menebar bau busuk yang menyengat. Fenomena ini disebabkan oleh proses pembusukan organik, munculnya cairan lindi, serta keterlambatan pengangkutan oleh armada kebersihan.
Kondisi ini memicu protes keras dari warga dan pengguna jalan. Selain mencemari lingkungan, keberadaan sampah tersebut berpotensi menjadi sarang nyamuk, lalat, dan cacing yang mengancam kesehatan masyarakat, serta berisiko mencemari air tanah melalui rembesan lindi.
Oben, 53, seorang pengendara yang kerap melintas di Jalan Raya Bogor, mengaku sangat terganggu dengan pemandangan dan polusi udara yang ditimbulkan.
"Situasi ini meresahkan karena menimbulkan bau busuk, pemandangan tidak sedap, bahaya bagi pengendara, dan potensi kemacetan. Selain sangat mengganggu ke-estetikaan lingkungan," katanya, Senin (9/3).
Ia menambahkan bahwa keberadaan sampah di jalan protokol memberikan dampak langsung yang dirasakan oleh setiap pengendara. "Keberadaannya di sepanjang jalan raya membuat pengaruhnya terlihat secara langsung dan dapat dirasakan oleh pengendara yang melintas di jalan tersebut," ujarnya.
Krisis Sampah di Pasar Tradisional
Selain di jalan nasional, krisis serupa melanda sejumlah pasar tradisional di Kota Depok, seperti Pasar Cisalak, Pasar Kemiri Muka, dan Pasar Agung. Penumpukan sampah di lokasi-lokasi tersebut dipicu oleh keterbatasan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Cisalak, Budi Haryanto, mengungkapkan bahwa sampah yang menumpuk didominasi oleh limbah organik seperti sayur dan buah, serta sampah rumah tangga. Dampaknya, kondisi pasar menjadi kumuh dan sepi pembeli.
"Aroma menyengat dan belatung serta bau tidak sedap membuat penurunan omzet pedagang lantaran pembeli enggan datang ke pasar yang kotor. Tumpukan sampah ini mengakibatkan kerugian ekonomi bagi pedagang," ungkap Budi.
Ia menegaskan tumpukan sampah tersebut telah menjadi sarang hama seperti tikus dan kecoak yang menyebarkan penyakit, sekaligus menimbulkan polusi udara yang mengganggu aktivitas perdagangan.
TPA Cipayung Kritis
Menanggapi persoalan ini, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Depok, Udara Kodratulloh, mengakui adanya kendala pengangkutan akibat daya tampung TPA yang sudah tidak memadai.
Menurutnya, penumpukan di sejumlah titik jalan dan pasar merupakan dampak berantai dari kondisi TPA Cipayung yang sudah mencapai titik kritis.
"TPA Cipayung, Kota Depok, mengalami overcapacity parah dengan ketinggian sampah mencapai 30 meter, melebihi daya tampung 1,3 juta meter kubik. Lebih dari 1.400 ton sampah masuk setiap hari, menyebabkan antrean truk dan potensi longsor. Kondisi kritis ini membuat penanganan sampah di TPS sekitarnya terhambat," pungkasnya. (KG/P-2)
Kepala Dinkes Depok Devi Maryori menekankan pencegahan campak melalui pemantauan, imunisasi, dan edukasi kesehatan masyarakat.
CEO Sagha Group Hanta Yuda Rasyid menyalurkan 15.000 santunan bagi dhuafa, ojek online, disabilitas, hingga pekerja informal di Jabodetabek selama Ramadan 1447.
INTENSITAS bencana tanah longsor akibat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi di Kota Depok, Jawa Barat per Februari 2026 meningkat.
Dana tersebut diindikasikan digunakan antara lain untuk kepentingan pribadi, pembayaran bunga deposito yang telah dicairkan tanpa sepengetahuan deposan
Meskipun harga terpantau stabil, pemerintah akan terus melakukan sidak secara rutin selama Ramadan untuk memantau pergerakan harga.
Volume sampah di Depok terus meningkat dan kini mencapai sekitar 1.400 ton per hari
DINAS Lingkungan Hidup dan Kebersihan atau DLHK Kota Depok, Jawa Barat, mengangkut ribuan ton lebih sampah dari 11 wilayah kecamatan selama momen mudik dan libur lebaran 2025.
PASAR tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), menghadapi masalah serius terkait pencemaran limbah.
Longsor yang terjadi di TPA berimbas pada terganggunya operasional pembuangan sampah di Kota Depok dan menyebabkan antrean truk sampah karena tidak bisa masuk ke arena pembuangan.
Penanganan sampah tak hanya dilakukan di hilir, tapi berlaku juga di hulu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved