Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Depok Tingkatkan Kewaspadaan dan Pencegahan Penyakit Campak

Irvan Sihombing
08/3/2026 15:45
Depok Tingkatkan Kewaspadaan dan Pencegahan Penyakit Campak
Ilustrasi(Antara)

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Jawa Barat, terus meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan penyakit campak. Kepala Dinkes Kota Depok, Devi Maryori, mengatakan pihaknya melakukan pemantauan kasus melalui sistem pelaporan kesehatan yang terintegrasi.

“Kami secara rutin melakukan pemantauan, verifikasi, serta analisis penyakit campak melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) dan laporan rutin surveilans,” ujar Devi, Minggu (8/3).

Devi menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, klinik, bidan praktik mandiri, dan praktik dokter perseorangan, diminta aktif melakukan penemuan, pencatatan, pelaporan, dan penatalaksanaan kasus campak secara tepat.

Selain pemantauan, Dinkes Depok menggelar sosialisasi kepada fasilitas kesehatan terkait pencatatan dan pelaporan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Upaya pencegahan juga dilakukan melalui promosi kesehatan kepada masyarakat.

“Edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui publikasi promosi kesehatan tentang campak di media sosial dan videotron agar menjangkau lebih banyak warga,” jelas Devi.

Devi menekankan pentingnya masyarakat mengenali gejala campak sejak dini agar segera memperoleh penanganan tepat. Gejala awal biasanya ditandai dengan demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, disertai ruam kemerahan yang muncul dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Penderita juga kerap mengalami batuk kering dan pilek.

Dengan meningkatnya laporan kasus di beberapa daerah, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci mencegah penularan lebih luas, terutama di lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat umum.

Menurut Devi, jumlah kasus suspek campak di Kota Depok pada 2025 tercatat sebanyak 1.365 kasus, dengan 144 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Campak merupakan penyakit yang sangat menular akibat virus Morbilivirus, yang dapat menyebar melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

“Penularannya sangat mudah terjadi, terutama pada anak-anak, sehingga kewaspadaan dan imunisasi rutin menjadi langkah utama pencegahan campak,” tegas Devi.

Sering menyamar seperti flu

Di sisi lain, Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh, dr. Putri Mutiara Sari, menjelaskan bahwa gejala campak pada tahap awal sering menyamar seperti flu biasa, disertai panas tinggi, dan biasanya baru muncul tujuh hingga 14 hari setelah anak terpapar virus.

Setelah gejala flu muncul, anak kemudian mengalami kombinasi gejala lain, termasuk demam drastis yang bisa melonjak hingga 40°C, batuk kering, hidung tersumbat, serta mata memerah dan berair.

Gejala khas lainnya adalah bintik koplik di bagian dalam pipi. Bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah ini biasanya muncul satu hingga dua hari sebelum ruam merah terlihat di kulit.

“Ruam merah yang menyebar biasanya muncul pertama di wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki dalam waktu sekitar satu minggu,” ujar dr. Putri Mutiara Sari di Tangerang. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya