Senin 24 Januari 2022, 21:40 WIB

Ini Alasan Kemendikbudristek Kukuh Pertahankan PTM Meski Kasus Omikron Meningkat 

Faustinus Nua | Humaniora
Ini Alasan Kemendikbudristek Kukuh Pertahankan PTM Meski Kasus Omikron Meningkat 

Antara/Asprilla Dwi Adha
Pelaksanaan PTM 100 persen di Depok

 

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) tetap kukuh mempertahankan kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) digelar di masa pandemi. Khususnya di tengah peningkatan kasus covid-19 varian Omikron saat ini, kebijakan tersebut tetap harus dilaksanakan satuan pendidikan sesuai dengan syarat dalam SKB 4 Menteri. 

"PTM sangat urgen, kita sudah menutup sekolah hampir dua tahun dan selama waktu tersebut banyak kejadian luar biasa diantaranya kesenjangan hasil belajar, tekanan psikologis, banyak sekolah swasta colaps, banyak anak drop out sekolah," jelas Dirjen PAUD Dikdasmen, Jumeri kepada Media Indonesia, Senin (24/1). 

Jumeri mengatakan, kementerian menghargai dan mengapresiasi masukan dari berbagai pihak. Termasuk desakan sejumlah organisasi medis untuk mengevaluasi dan menutup kembali sekolah-sekolah. 

Kekhawatiran akan penyebaran virus pada anak-anak memang hal yang sepatutnya diperhatikan. Lantas, kata Jumeri, kementerian sefrekuensi untuk menomorsatukan kesehatan dan keselamatan anak-anak Indonesia. 

"Antara Kemendikbud-Ristek dan organisasi profesi medis dalam satu frekuensi bahwa kesehatan peserta didik, guru, dan masyarakat adalah nomor satu," tegasnya. 

Untuk itu, dalam SKB 4 Menteri memang sudah dicantumkan langkah-langkah mitigasi. Level PPKM, cakupan vaksnasi dan penerapan protokol kesehatan merupakan syarat mutlak bagi sekolah untuk menggelar PTM. 

Baca juga : KPAI Imbau Sekolah Penuhi Syarat Kebutuhan Penyelenggaraan PTMT

Selain itu, diberi keleluasaan untuk membuka atau menutup sekolah bila ada kejadian atau kasus baru. Sehingga, kebijakan PTM tetap terjaga dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi untuk merespons situasi di lapangan. 

Lebih lanjut, Jumeri mengatakan, PTM harus tetap berjalan sebab PJJ yang diterapkan selama ini tidak ideal. PTM diharapkan bisa segera memulihkan sektor pendidikan yang terpuruk karena pandemi. 

"Jadi kita mendesak untuk sesegera mungkin PTM agar bisa terjadi pemulihan pembelajaran. PJJ kita sangat tidak ideal karena banyak keterbatasan," terangnya. 

Sejauh ini, meski di tengah meningkatnya kasus Omikron, aktivitas masyarakat dibatasi sesuai level PPKM. Artinya untuk daerah seperti Jakarta sebagai epicentrum Omikron di Tanah Air, level PPKM masih pada level 2. 

"Kita juga melihat mal, restaurant, pasar, tempat wisata sudah dibuka penuh, masak sekolah yang mempertaruhkan masa depan SDM negeri ini dibiarkan terus ditutup?" tuturnya. 

"Kita membuka PTM tapi tetap memperhatikan level dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat serta surveillance terpadu," tutup Jumeri. (OL-7)

Baca Juga

Ist

46 Perguruan Tinggi Luar Negeri Siap Terima Mahasiswa Vokasi Indonesia

👤Widhoroso 🕔Kamis 19 Mei 2022, 18:55 WIB
Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, meluncurkan Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) Edisi Vokasi, April...
Antara

The Body Shop Indonesia Manfaatkan Sampah untuk Gerai Terbarunya

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 19 Mei 2022, 18:36 WIB
Change-making Beauty Store merupakan konsep gerai terbaru yang diusung oleh The Body Shop dimana hampir 100% materi yang dipakai terbuat...
DOK.MI

Romo Benny Sebut Harkitnas Momentum Bangun Gerakan Melawan Radikalisme

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 19 Mei 2022, 17:35 WIB
Dibutuhkan gerakan nasional guna mempersempit gerak kelompok intoleran, ekstrem, dan radikal agar tidak berkembang lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya