Rabu 01 Desember 2021, 21:31 WIB

UNESCO dan Balai Konservasi Borobudur Luncurkan Buku Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur  

Ghani Nurcahyadi | Humaniora
UNESCO dan Balai Konservasi Borobudur Luncurkan Buku Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur  

Dok. Pribadi
Buku Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur

 

UNESCO Jakarta yang mendapatkan dukungan dari Oriental Cultural Heritage Sites Protection Alliance (OCHSPA) dan bekerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur meluncurkan buku “Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur” secara daring. Penyusunan buku ini bertujuan sebagai dukungan pengelolaan pengunjung Candi Borobudur dan upaya untuk meningkatkan geliat ekonomi untuk masyarakat di kawasan Borobudur. 

Buku itu disusun secara partisipatoris dengan melibatkan 20 desa di kawasan Borobudur serta para pengelola cagar budaya dari Balai Konservasi Borobudur di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penyusunan buku ini juga melibatkan serangkaian antropolog dan penulis yang telah dilaksanakan selama 3 tahun terakhir. 

Buku Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur menjadi sangat penting, karena adanya keberadaan Candi Borobudur yang tercatat dalam daftar Warisan Dunia pada 1991. Dalam sektor pariwisata sendiri,  Candi Borobudur dan Prambanan menarik 3 juta dan 1,5 juta wisatawan tiap tahunnya. Dalam perjalanannya, situs-situs Warisan Dunia tersebut telah menjadi bagian penting dari identitas budaya dan khasanah di Indonesia.  

“Partisipasi komunitas merupakan sebuah keharusan untuk keberlangsungan dan menjaga keberlanjutan dari situs Warisan Dunia. Tentunya hal ini tidak akan terjadi kalau kita hanya memberikan kuliah mengenai pentingnya Candi Borobudur sebagai monumen nasional atau Situs Warisan Dunia layaknya atasan ke bawahan. Tentunya ada perbedaan yang tipikal tentang apa yang dianggap penting oleh pemerintah dan para ahli dan apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Jika kita ingin masyarakat mengapresiasi situs Warisan Dunia, maka kita harus memperlihatkan bagaimana ketertarikan dan kepedulian kita terhadap warisan budaya masyarakat. Ketika kita menghargai warisan masyarakat, maka dengan cara itulah masyarakat dapat peduli dengan Borobudur.” Ujar Moe Chiba, Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta. 

Peranan masyarakat yang tinggal di sekitar zona Warisan Dunia yang populer tentu menjadi sangat penting, namun dalam perjalanannya masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan di sekitar zona Warisan Dunia tersebut belum tentu mendapatkan manfaat secara ekonomi secara merata. 

Keadaan itu menyebabkan kurangnya rasa kepemilikan dari komunitas lokal untuk perlindungan Situs Warisan Dunia. Selain itu, tingkat kunjungan wisata yang tinggi di monumen utama Warisan Dunia juga menjadi ancaman serius bagi konservasi situs tersebut. Oleh sebab itu, sebagai upaya pelestarian jangka panjang dan berkelanjutan, pengelolaan Warisan Dunia sudah selayaknya semakin melibatkan partisipasi masyarakat di sekitar situs Warisan Dunia. 

“Menjadi penghargaan yang besar serta momen yang membahagiakan bagi kami, OCHSPA bisa mendukung program pemetaan yang sudah berjalan selama ini. Tetapi perayaan hari ini bukan menjadi kesimpulan akhir, tetapi menjadi salah satu titik awal untuk mengkaji kembali Borobudur yang mememberikan ruang untuk pemetaan kebudayaan berikutnya. OCHSPA akan tetap menemani dalam tahun-tahun selanjutnya dengan titik masuk proteksi warisan budaya, dengan aspek inspirasi, keunikan, dan pembangunan kebudayaan.” ungkap Eric Dubois, Perwakilan OCHSPA  

Dalam perkembangannya selama paruh dasawarsa terakhir, desa-desa di sekitar kawasan Borobudur semakin menggeliat. Potensi wisata ke desa semakin mencuat dengan semakin ditemukannya produk lokal yang beragam termasuk di dalamnya berkembangnya kesenian rakyat, kuliner khas lokal, tempat wisata baru yang kekinian dan masih banyak lagi. Peran lembaga lokal dan masyarakat pun semakin aktif untuk mempromosikan potensi wisatanya. 

Baca juga : Media Indonesia-Pemkab Purwakarta Akan Gelar Pelatihan Jurnalistik Bagi Siswa SMA

Keberadaan buku Pemetaan Potensi Kawasan Borobudur menjadi usaha untuk merekam perkembangan serta inovasi yang dihadirkan oleh masyarakat, sebagai salah satu acuan dalam perumusan kebijakan yang nantinya akan direncanakan maupun diputuskan di area Borobudur.  

“Kehormatan bagi kami juga peluncuran buku ini bertepatan dengan ulang tahun dari Balai Konservasi Borobudur ke 30. Kami memberikan apresiasi yang besar dalam peluncuran buku ini semoga bermanfaat untuk pelestarian cagar budaya berbasis masyarakat. “ Ujar Wiwit Kasiyati, Kepala Balai Konservasi Borobudur. 

Penulisan buku itu juga tetap dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 sejak awal 2020 telah menyebabkan lesunya perekonomian secara global termasuk di kawasan Borobudur. Pengetatan moblisasi masyarakat selama beberapa saat demi pengurangan penyebaran wabah pandemi tentu saja menyebabkan berkurangnya pemasukan masyarakat Borobudur terutama yang menggantungkan nasibnya pada geliat wisata. 

Sehingga upaya Pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menyegerakan vaksin menjadi kunci dalam penintkatan sektor ekonomi sekaligus pariwisata di Indonesia. Vaksinasi yang gencar, membuat pergerakan masyarakat lebih leluasa dengan menerapkan protokol kesehatan dan memenuhi peraturan yang diterapkan Pemerintah. 

“Sejalan dengan penetapan destinasi wisata prioritas nasional, lingkungan di sekitar Borobudur turut berkembang dan bergerak maju. Dengan dua aspek, yaitu anugerah alam yang hijau serta budaya warga yang dekat dan melekat. Potensi alam dan budaya yang dibalut dalam koridor wisata desa sebenarnya sekaligus mendorong keberlanjutan artefak di Borobudur, menjaga kelestarian lingkungan alamnya dan menjaga budaya adiluhung dari desa. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memastikan turut berpartisipasi dalam proses pelestarian Borobudur ini dengan arah kebijakan pembangunan desa, dengan menjaga kearifan lokal dalam kelembagaan desa yang dinamis dan budaya desa yang adaptif.” Ujar Budi Arie Setiadi, Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 

Diharapkan buku pemetaan itu mejadi sebuah rujukan bagi masyarakat untuk mengembangkan kembali potensi pariwisatanya ke depan pada kondisi pascapandemi, serta meningkatkan pengetahuan tentang potensi Kawasan Borobudur berikut desa dan cagar budayanya secara umum. 

Selain itu, keberadaan buku ini diharapkan menjadi rujukan potensi desa secara umum untuk pengunjung, pelaku wisata dan pelaku usaha di berbagai sektor, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa-desa di sekitar kawasan Candi Borobudur dan membantu mempromosikan produk lokal. Sehingga masyarakat juga dapat meningkatkan peranan serta rasa kepemilikan terhadap situs Warisan Dunia melalui buku ini.  (RO/OL-7)

Baca Juga

DOK Uhamka

FKIP Uhamka Luluskan 1.469 Guru Profesional

👤Widhoroso 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 18:12 WIB
FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menyelenggarakan Yudisium Pendidikan Profesi...
Medcom.id/Ilham Pratama

Beasiswa OSC Diharapkan Dapat Menghadirkan Bibit Unggul di Tanah Air

👤Fachri Audhia Hafiez 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 18:11 WIB
Kualitas sumber daya manusia itu diyakini mempermudah juga dalam proses pembelajaran di perguruan...
Ist

Poltracking Indonesia Raih Penghargaan Best Performing Company 2022

👤Widhoroso 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 17:35 WIB
LEMBAGA survei Poltracking Indonesia dinobatkan sebagai Indonesia Best Performing Company 2022 pada ajang Indonesia Award...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya