Selasa 16 Maret 2021, 23:43 WIB

Jaga Marwah Iptek, Menristek Serukan Perangi Predatory Journals

Faustinus Nua | Humaniora
Jaga Marwah Iptek, Menristek Serukan Perangi Predatory Journals

ilustrasi
iLustrasi pendidikan tinggi

 

MENTERI Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa dunia ilmu pengetahuan yang melibatkan peneliti dan pengajar perlu ditinjau lagi. Dibutuhkan langkah serius untuk memerangi peridatory journals yang menciderai lembaga penelitian dan pendidikan Indonesia.

"Mengenai jurnal predator kita harus berani melakukan review mengenai staff peneliti atau staff pengajar kita," ungkapnya dalam webinar Knowledge Sector Initiative (KSI), Selasa (16/3).

Predatory journals adalah model bisnis penerbitan akademis yang mengenakan biaya penerbitan tulisan kepada penulis dan tidak memeriksa mutu dan keabsahan dari tulisan yang terkandung di dalamnya. Hal itu akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari seperti isi journal yang tidak sesuai hingga pada potensi terjadinya plagiat.

Bagi penerbit, hal itu akan mendatangkan keuntungan melalui penerbitan jurnal yang dibayar penulis. Sementara bagi penulis, jurnal yang diterbitkan dapat digunakan untuk kepetingan naik jabatan dan lainnya.

"Kalau ada usulan kenaikan pangkat harus diganti dengan jurnal yang kredibel," tegas Menristek.

Fenomena tersebut marak terjadi di era teknologi saat ini. Biasanya penerbit abal-abal memiliki teknologi yang lebih maju untuk menarik perhatian para penulis yang rata-rata adalah peneliti atau dosen di perguruan tinggi.

Baca juga : Jenis Plastik PET Punya Nilai Ekonomi Tinggi

Ilmuwan Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dewi Fortuna Anwar mengatakan, peranan ilmiah dalam mewujudkan ekosistem inovasi sangatlah penting. Akan tetapi, sektor ilmu pengetahuan Indonesia saat ini masih jauh tertinggal berdasarkan global indeks yang hanya menempati urutan 40-an.

"Itu sangat mengkhawatirkan kita, tertinggal dari negara ASEAN. Ekosistem inovasi terkait langsung dengan upaya sistematik," jelasnya.

Menurutnya, masalah ilmu pengetahuan dipengaruhi berbagai hal dan salah satunya unsur ilmiah dalam penerbitan jurnal. Masalah plagiarisme yang dilakukan beberapa peneliti atau dosen belakangan ini merupakan puncak gunung es.

Sejumlah alasan menjadi penyebab palgiarisme jurnal ilmiah itu terjadi. Mulai dari kurangnya perhatian pemerintah hingga pada kurangnya kemampuan melakukan riset.

"Kurang kemampuann melakukan riset dengan baik yang hanya justru mementingkan hasil tanpa mempedulikan proses. Dalam proses membentuk sang ilmuan tidak ada shortcut," ucapnya

Untuk itu, perlu ada perbaikan dalam dunia ilmu pengetahuan. Untuk menciptakan ekosistem inovasi yang bisa berkontribusi pada pembangunan Indonesia, maka peran ilmu pengetahuan harus diperkuat dan berbagai kebijakan yang diambil pun perlu berbasis ilmiah.(OL-7)

Baca Juga

Antara

33.041 Warga Manado Sembuh dari Covid-19

👤Ant 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 23:59 WIB
Steaven Dandel berharap warga terus menerapkan protokol kesehatan ketat sehingga bisa menekan angka...
Antara

Pesan Indonesia untuk Dunia Dituaikan dalam Batik Biota Laut di Dubai Expo

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 22:59 WIB
Batik dipilih sebagai objek pameran karena merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui...
Ist

Dari Hasil Penelitian, Ada Perbedaan Nilai Perorangan dan Budaya Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 20:18 WIB
Rektor Universitas Pancasila Prof. Dr. Edie Toet Hendratno mengtaakan hal ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya