Sabtu 16 Januari 2021, 21:01 WIB

AJI: Jurnalis Rentan Alami Kekerasan Seksual Saat Liputan

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
AJI: Jurnalis Rentan Alami Kekerasan Seksual Saat Liputan

ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Sejumlah jurnalis membentangkan poster saat melakukan aksi damai dan keprihatinan kekerasan terhadap jurnalis di Pekalongan, Jawa Tengah,

 

ALIANSI Jurnalis Independen (AJI) Jakarta merilis hasil survei terkait kekerasan seksual di kalangan wartawan. Hasilnya, dari 34 jurnalis dari berbagai kota yang mengisi kuesioner, terdiri dari 31 perempuan dan 3 laki-laki, 25 di antaranya pernah mengalami kekerasan seksual.

"Ada 34 jurnalis dari berbagai kota yang mengisi survei kami, 25 responden pernah mengalami kekerasan seksual," kata Koordinator Divisi Gender, Anak dan Kelompok Marjinal AJI Jakarta Widia Primastika dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu (16/1).

Survei yang dilakukan pada Agustus 2020 ini, diketahui sebanyak 15 responden menjawab mengalami pelecehan saat liputan, 8 saat di kantor, 15 di luar waktu kerja yang masih berhubungan dengan profesi, dan 1 dalam acara pertemuan jurnalis.

"Saat kami menanyakan bentuk kejadian kekerasan seksual, ada lebih dari 25 jawaban. Artinya, mereka pernah mengalami kekerasan seksual lebih dari satu kali," sebutnya.

Adapun jenis media dari responden juga beragam, yakni 20 media online, 7 media cetak, 5 media televisi, dan 2 media radio.

Oleh karena itu, ia mengingatkan kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang jabatan, gender, dan terjadi kapan saja.

"Jurnalis rentan mengalami kekerasan seksual baik saat berada di dalam sebuah kegiatan bersama jurnalis, saat liputan di lapangan, maupun saat berada di kantor," paparnya.

Menurutnya, perlindungan dan pemulihan bagi jurnalis kekerasan seksual masih minim, bahkan masih banyak jurnalis yang disalahkan dan kasusnya diabaikan.

Organisasi jurnalis, termasuk di antaranya AJI Indonesia dan AJI Jakarta, merekomendasikan wajib memiliki SOP Penanganan Kekerasan Seksual yang komprehensif dan berperspektif korban.

Kemudian perusahaan media sebaiknya membentuk SOP Penanganan Kekerasan Seksual yang berperspektif korban sebagai instrumen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta memberikan pelatihan sensitif gender bagi seluruh pekerjanya.

"Meminta kepada Dewan Pers untuk mendorong media agar membentuk SOP Penanganan Kekerasan Seksual yang berperspektif korban sebagai komitmen dalam mewujudkan ruang kerja yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual bagi semua jurnalis," pungkasnya. (Fer/OL-09)

Baca Juga

MI/Susanto.

18 Jemaah Haji Indonesia dalam Kondisi Dirawat karena Sakit

👤Susanto 🕔Minggu 26 Juni 2022, 20:45 WIB
Namun, kondisi jemaah itu akan terus dipantau oleh tim kesehatan. Jika tetap sakit, mereka akan disafariwukufkan oleh tim khusus pada 9...
Ist

Tangkap Peluang Wisata Medis, Kembangkan Layanan Kesehatan Berkualitas

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 Juni 2022, 20:31 WIB
Indonesia perlu serius meningkatkan layanan kesehatan dan mengembangkan wisata medis (medical tourism), maka diperlukan peran dan...
DOK Pribadi.

Perkembangan Teknologi Harus Dimanfaatkan untuk Perkokoh Nilai Kebangsaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 Juni 2022, 17:30 WIB
Daya adaptasi dan inovasi yang mumpuni dari setiap anak bangsa yang didasari nilai-nilai kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjawab...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya