Selasa 11 Agustus 2020, 02:20 WIB

Manajemen Wabah Buruk, Klaim Obat Marak

(Ata/H-2) | Humaniora
Manajemen Wabah Buruk, Klaim Obat Marak

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.
Peneliti melakukan pengeringan beku ekstrak bahan alam untuk imunomodulator (peningkat imun tubuh) bagi pasien COVID-19

 

MARAKNYA klaim obat covid-19 terjadi karena buruknya manajemen penanganan wabah yang dilakukan pemerintah. Tidak mengherankan jika akhirnya masyarakat mencari
cara sendiri untuk bertahan hidup semasa pandemi covid-19.

“Pejabat publik memberikan contoh kurang baik dan kurang mencerdaskan sehingga saat ini kalau ada klaim bermunculan, itu efek dari itu semua,” kata Ketua Pengurus
Harian YLKI Tulus Abadi dalam webinar bertajuk Menyikapi Maraknya Klaim Obat Covid-19 melalui media sosial, Senin (10/8).

Dari sisi undang-undang dasar, sebut Tulus, klaim pengobatan sendiri tidak dilarang. Namun, untuk dikomersialisasikan, itu baru terlarang.

“Sementara itu, penegakan hukum di bidang obat belum optimal, khususnya pada penjualan daring. Lemahnya literasi masyarakat juga menjadi masalah,” tambahnya.

Hingga kini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menegaskan belum ada obat herbal sebagai antivirus covid-19. Kalau memang ada pihak yang mau mengklaimnya,
harus dilakukan uji klinis dulu.

“Belum ada herbal yang menjadi antivirus. Untuk uji antivirus itu, harus di laboratorium biosafety level (BSL) 3. Kalau labnya tidak terproteksi memadai, itu akan membahayakan
si pengujinya,” ucap Deputi II Badan POM Maya Agustina Andriani.

Obat herbal terdiri atas tiga jenis, yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Jamu merupakan ramuan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selanjutnya, obat herbal terstandar, yakni obat yang dibuat dari bahan dasar herbal, tapi telah memasuki tahap uji praklinis. Sementara itu, fitofarmaka ialah obat yang dibuat
dari bahan dasar herbal, tetapi telah melewati tahap uji klinis.

Obat herbal, tegas Maya, bukan digunakan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan untuk menjaga daya tahan tubuh dan harus dikonsumsi bersama obat konvensional
untuk menyembuhkan penyakit.

“Kalau memang dia jamu, ya, sudah biarkan dia jamu. Kalau ada penemuan baru covid-19 sekarang, ya, zaman nenek moyang kita belum ada covid-19. Kalau mau klaim, harus
dilakukan uji terlebih dahulu,” bebernya. (Ata/H-2)

Baca Juga

Dok. Kemenag

Menag: Seleksi Mahasiswa Sarana Peningkatan Mutu PTKIN 

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Januari 2022, 22:41 WIB
Pada 2021 misalnya, tidak kurang 280 ribu calon mahasiswa yang mendaftar, terdiri atas 182.890 pendaftar dari dari 11.920 sekolah melalui...
AAFP/Javier Torres.

Penelitian Terbaru, Kucing Besar Tertular Covid-19 dari Penjaganya

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Januari 2022, 22:15 WIB
Penelitian ini muncul dalam jurnal peer-review dan akses terbuka yang disebut...
Dok. Pribadi

Magang Bersertifikat di Pasar Rakyat, Libatkan Mahasiswa Jadi Penggerak Ekonomi Nasional 

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Januari 2022, 22:02 WIB
Menurutnya program ini sesuai dengan salah satu filosofi Kampus Merdeka yakni kolaborasi dan gotong royong, terutama untuk bergotong royong...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya