Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
JELANG usia ke-75 tahun pada November 2026, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk terus berkomitmen menjaga kualitas dan mengembangkan produk-produknya.
Pada momentum ini, Sido Muncul mengingatkan kembali bahwa produk-produknya adalah produk yang secara medis aman dikonsumsi oleh siapapun, Selasa (20/1). Pada kesempatan itu, produk yang diulas Tolak Angin cair.
Dua peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yaitu Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc dan apt. Phebe Hendra, Ph.D,, serta peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si; yang melakukan uji yang dimaksud sekitar 23 tahun lalu.
''Kami melakukan uji toksisitas subkronis untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang pada hewan uji selama sebagian umur hewan,'' jelas Ipang secara daring.
50 EKOR TIKUS
Lebih lanjut, Ipang mengungkapkan uji itu, melibatkan 50 ekor tikus jantan dan betina, umur 2 bulan, berat badan antara 150-200 gram. Hewan ini dibagi dalam 5 kelompok secara acak lengkap dengan setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus jantan dan 5 ekor tikus betina. Kelompok 1 sebagai kontrol dan 4 kelompok diberikan Tolak Angin Cair dengan 4 peringkat dosis 0,45; 1,35; 4,05; 12,15 ml per kg berat badan.
Ipang menjelaskan uji selama 90 hari pada hewan uji tikus jantan dan betina, dengan berbagai tingkatan dosis, mulai dari dosis normal hingga dosis yang sangat tinggi setara dengan konsumsi 9 sachet sekaligus per hari.
“Pengujian dilakukan dengan pengamatan gejala klinis, uji darah, uji kimia klinik, serta pemeriksaan histologi pada organ-organ vital meliputi paru-paru, limpa, jantung, usus, lambung, ginjal, hati, serta organ reproduksi hewan uji,” ujarnya.
Uji toksisitas dilakukan selama 90 hari atau jika dikonversi ke waktu manusia yaitu sekitar 101 bulan atau sekitar 8 tahun 5 bulan. Ini untuk menunjukkan bahwa produk ini aman dikonsumsi teratur untuk waktu yang panjang.
Selama 90 hari, dilakukan pengamatan dan pengujian gejala klinik dan uji darah rutin untuk mengetahui spektrum efek toksik yang timbul secara fisiologis, lalu uji kimia klinik untuk mengetahui spektrum efek toksik secara biokimiawi, serta pengamatan histologi organ untuk mengetahui spektrum efek toksik secara struktural, dan uji reversibilitas untuk mengetahui keterbalikan efek toksik yang terjadi secara fisiologi, biokimia dan struktural.
SEJAK 2000
Di hari terakhir uji toksisitas ini, didapatkan hasil penelitian bahwa tidak ditemukan adanya kematian dan perubahan gejala klinis selama 90 hari perlakuan pada tikus jantan maupun betina. Selain itu, berat badan tikus-tikus ini tidak terpengaruh, serta tidak ditemukan perubahan struktural pada organ paru, liver, jantung, usus, lambung, uterus/testis dari hewan uji. Selain itu, secara umum, fungsi ginjal dan hepar hewan uji coba masih dalam batas normal pada dosis yang telah
dianjurkan. Sehingga Ipang dan Phebe menyimpulkan bahwa Tolak Angin cair aman dikonsumsi sesuai aturan yang telah ditentukan.
“Sebagai perusahaan terbuka, kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Direktur Sido Muncul, Dr. (HC) Irwan Hidayat, saat Press Conference Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Selasa (20/1).
Sejak 2000, kata Irwan, Sido Muncul mulai melakukan uji toksisitas dan uji khasiat. ''Untuk sebuah jamu, ini sebuah kemajuan. Bahkan saat itu, Tolak Angin merupakan pionir produk jamu di Indonesia yang diuji secara ilmiah," ucapnya.
RISET JADI ALASAN
Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F. Noya, menilai komitmen riset ilmiah menjadi alasan utama dirinya bersedia mendukung produk tersebut. "Ketika diminta menjadi brand ambassador, pertanyaan saya sederhana: apakah produk ini merugikan atau menguntungkan masyarakat? Jawabannya ada pada data dan kajian ilmiah,” ujar Andy.
Menurut Andy, ini menjadi bukti keseriusan perusahaan menjaga mutu dan keamanan sebuah produk. “Semua dijelaskan berbasis data dan kajian ilmiah oleh para pakar dan dokter. Kalau ada yang meragukan, silakan membantah dengan kajian ilmiah lain, bukan dengan asumsi,” tegasnya. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved