Selasa 21 Juli 2020, 13:50 WIB

Eijkman: Indonesia Harus Punya Kedaulatan Vaksin

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Eijkman: Indonesia Harus Punya Kedaulatan Vaksin

AFP/Andrew Caballero-Reynlods
Vaksin yang sedang diteliti di laboratorium Novavax di Gaithersburg, Maryland

 

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan Indonesia harus memiliki kedaulatan vaksin untuk dapat menangkal virus SARS-CoV-2 yang saat ini tengah mewabah. Pasalnya jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak, yakni mencapai 260 juta jiwa. Lalu, untuk mendapatkan perlindungan yang memadai, kita harus memastikan bahwa sekitar 70 persen atau 170 juta jiwa masyarakat memiliki kekebalan terhadap covid-19.

“Bukan dengan cara menceburkan mereka ke wabah ya. Kemudian ada proses seleksi, yang kuat akan hidup yang lemah akan mati misalnya, bukan demikian. Tapi kita melalui vaksinasi,” ujar Amin dalam Seminar PPRA LX Lemhannas RI, Selasa (21/7).

Amin menuturkan jika Indonesia tidak memiliki kedaulatan vaksin covid-19, maka negara harus bersiap menanggung biaya sekitar Rp52 triliun untuk mengimpor vaksin dari luar negeri.

Baca juga: Eijkman: Impor Vaksin Covid-19 untuk Penanganan Jangka Pendek

“Kalau satu orang harus divaksinasi dua kali, kita membutuhkan 350 juta dosis (untuk 170 juta orang). Kalau kita harus beli, harga vaksin normalnya US$1 per dosis, tapi kalau harga pandemi itu jadi US$10. Nah, 350 juta (dosis vaksin) dikalikan US$10 atau Rp150 ribu katakan. Itu angkanya jadi Rp52 triliun. Sangat fantastis. Masa kita mesti beli?” jelasnya.

Di samping itu, suplai vaksin juga akan menjadi kendala sebab produsen di luar negeri belum tentu sanggup memasok vaksin dengan jumlah hingga ratusan juta ke Indonesia dalam waktu singkat.

Amin memprediksi dibutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk menyelesaikan vaksinasi bagi 70 persen masyarakat Indonesia jika kita hanya mengimpor vaksin dari negara lain.

“Pabrik di luar negeri pasti harus mensuplai ke negara lainnya juga. Kalau Indonesia mendapat jatah misalnya satu juta dosis per minggu, maka kita butuh 350 minggu untuk menyelesaikan vaksinasi berarti tujuh tahun baru selesai. Yang ingin saya tekankan adalah kita harus mampu punya kapasitas menghasilkan vaksin sendiri supaya kita punya kedaulatan dan perusahaan Indonesia sudah mampu menghasilkan 350 juta dosis per tahun,” tandasnya. (OL-14)

Baca Juga

Ist

ITM Ambil Bagian Mewujudkan Ibu Kota Nusantara sebagai Smart Forest City

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 08:50 WIB
PT Indo Tambangraya Megah (ITM) Tbk resmi menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan Persemaian Mentawir guna mewujudkan Ibu Kota...
MI/Miskah Syifa

KCCI Hadirkan Kuliah Umum tentang Diaspora Korea Berdasarkan Novel dan Drama Pachinko

👤Miskah Syifa Putri 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 08:44 WIB
Pachinko merupakan novel karya Min Jin Lee yang kemudian diadaptasikan menjadi sebuah drama. Mengisahkan tentang 3 generasi dari sebuah...
MI/Adi Kristiadi

Pesantren Idrisiyyah Tasikmalaya Dirikan STAI untuk Umum

👤Adi Kristiadi 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:30 WIB
PONDOK Pesantren Idrisiyyah di Kampung Pagendingan, Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat mendirikan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya