Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK riset herbal Indonesia tidak ada wujudnya. Kalung kayu putih (Eucalyptus) inovasi Kementerian Pertanian menjadi salah satu produk tanaman herbal yang nasibnya lebih baik daripada riset herbal-herbal lain.
Bagaimana tidak? Kalung yang dipercaya meredakan kesakitan akibat virus korona baru atau covid-19 ini sudah melalui uji laboratorium Balitbang Kementerian Pertanian dan mengantongi izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sebagai jamu.
Dengan bermodal hasil uji tersebut, kalung inovasi Kementan ini sudah diproduksi massal. Meskipun belum melalui uji klinis karena itu membutuhkan waktu sedikitnya 18 bulan.
Kementan resmi meluncurkan inovasi berbasis tanaman Eucalyptus itu sebagai hasil inovasi Balitbangtan dan telah berhasil mendapatkan hak patennya. Pada Mei 2020, Kementan menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksinya secara massal.
Selanjutnya, untuk pengembangan penelitian menuju tahapan uji klinis kepada pasien yang terpapar virus Sars-Cov-2, Kementan telah menjajaki kerja sama dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam mengatakan minyak kayu putih sudah digunakan sejak dahulu kala untuk berbagai masalah kesehatan. Untuk itu, riset mengenai khasiat produk berbahan Eucalyptus sebagai antivirus SARS-Cov-2 penyebab covid-19 saat ini perlu diseriusi.
Dukungan dari kalangan kesehatan ini adalah kabar baik. Kayu putih termasuk beruntung karena tahapan hilirisasi produknya berjalan cepat.
Baca juga : Inilah Khasiat Kalung Antivirus Menurut Kepala Balitbang Kementan
Baca juga : PB IDI Sambut Baik Kerja Sama Riset Eucalyptus dengan Kementan
Baca juga : Guru Besar Unhas Kalung Antivirus Mentan Butuh Pembuktian Ilmiah
Sebelum temuan kalung kayu putih, sudah banyak produk herbal yang yang dijadikan bahan riset tapi belum ada wujudnya. Yang cukup menghebohkan adalah hasil riset obat antikanker bajakah milik tiga pelajar SMAN 2 Palangka Raya pada 2019 lalu.
Temuan ilmiah itu menyita perhatian publik seusai kemenangan mereka di ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, Juli 2019. Obat turun-temurun suku Dayak itu terbukti mengandung 40 zat penyembuh kanker.
Uji coba di Laboratorium Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dilakukan pada tikus putih kecil yang mengidap tumor. Setelah diuji dengan memberikan minum air kayu bajakah tunggal selama dua pekan, ternyata tumor yang ada didalam tubuh tikus kecil itu hilang, bahkan tikus itu berkembang biak.
Sayangnya, penelitian itu baru pada tahap uji praklinis. Juga tidak ada info apakah proses penelitian itu memenuhi syarat standar internasional.
Kabar terakhir, Kepala Badan POM Penny K Lukito mengungkapkan, bajakah termasuk dalam produk-produk fitofarmaka, yang sedang dikembangkan. Selain bajakah, ada juga riset ekstrak seledri, binahong, daun kelor, dan daun gambir.
Baca juga : Khasiat Bajakah dari Kalimantan
Baca juga : Riset Obat Kanker Bajakah akan Diuji ke Manusia
Baca juga : Kemenkes akan Teliti Kandungan Bajakah untuk Kanker
Tahapan uji klinis
Untuk mengembangkan satu fitofarmaka tentu perlu ada studi ilmiah guna mengetahui senyawa apa yang terkandung dalam flora ataupun fauna. Setelahnya, studi in vitro dilakukan, baik dari bioassay hingga
mekanisme aksi untuk mencari kandungan ekstrak ataupun senyawa tunggal yang ada pada tanaman.
Tahapan uji praklinis lalu dilakukan untuk mengetahui bagaimana aktivitas senyawa itu pada mahluk hidup. Pada tahap itu, hewan-hewan uji laboratorium seperti mencit hingga primata yang memang bebas dari
mikroorganisme patogen, memiliki reaksi imunitas yang baik, kepekaan pada suatu penyakit, dan performa atau anatomi tubuh yang baik yang berperan.
Saat uji praklinis dilakukan, proses trial and error terjadi. Kemampuan laboratorium diuji untuk mampu memastikan senyawa calon obat tadi aman untuk lolos ke tahap uji klinis, yang akan diujikan pada
manusia.
Peneliti Centre for Drug Discovery and Development (CDDD) di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mega Ferdina Warsito mengungkapkan, butuh waktu rata-rata pengembangan obat memang plus minus sampai 10 tahun.
Sejauh ini baru ada 18 fitofarmaka yang kelihatan wujudnya di Indonesia. Perlu komitmen semua pihak untuk mengakselerasi perkembangannya di Indonesia mulai dari komitmen pendanaan, regulasi, regulasi Badan POM, regulasi dari Kementerian Kesehatan untuk uji trial semua mempengaruhi. (Ant/H-2)
BPOM mencatat, suplemen ilegal dapat berasal dari pabrik-pabrik tersembunyi yang beroperasi di tengah permukiman padat dengan kondisi yang jauh dari standar Cara Pembuatan yang Baik (CPB).
TPID bersama Satgas Pangan bertugas menjamin kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok penting, sambil aktif mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan penimbunan
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kemitraan dan keberhasilan Kosmesia dalam mendampingi UMKM kosmetik melalui Proaktif yang digagas BPOM.
Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun ekosistem distribusi produk yang aman, transparan, dan terpercaya.
BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 di Aula Bhinneka Tunggal Ika (BTI) BPOM, Jakarta, Selasa (28/10
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Taruna Ikrar menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional melalui pengembangan obat bahan alam.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Upaya peningkatan kualitas nutrisi masyarakat Indonesia terus diperkuat melalui riset dan publikasi ilmiah yang berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved