Rabu 21 Agustus 2019, 04:40 WIB

Riset Obat Kanker Bajakah akan Diuji ke Manusia

(AT/SS/H-2) | Humaniora
Riset Obat Kanker Bajakah akan Diuji ke Manusia

MI/ARDI TERISTI HARDI
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek mengajak masyarakat kembali menggunakan obat tradisional dalam simposium di Yogyakarta

 

PENELITIAN lanjutan diperlukan untuk membuktikan riset obat penyembuh kanker dari tanaman bajakah tunggal yang ditemukan tiga pelajar SMAN 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek berjanji akan menggandeng industri untuk merealisasikan itu.

Menurutnya, penelitian lanjutan harus dilakukan untuk menelaah lagi kandungan pada bajakah. Jika pada riset awal, ketiga pelajar itu sudah membuktikannya pada tikus, uji coba selanjutnya harus dilakukan pada manusia.

"Setelah berhasil diuji ke manusia, bajakah baru bisa menjadi sebuah produk," kata Menkes di sela-sela Simposium Pengembangan Industri Obat Tradisional dan Peningkatan Penggunaan Obat Tradisional di Yogyakarta, kemarin.

Indonesia memiliki 2.848 spesies tumbuhan obat dengan 32.014 ramuan obat. Selain bajakah, masih banyak lagi potensi tanaman obat di Indonesia yang bisa diteliti lebih lanjut, salah satunya manfaat daun kelor yang terbukti efektif mengatasi stunting. "Tanaman obat bisa mencegah dan mengatasi aneka penyakit, mulai wasir hingga diabetes," cetusnya.

Menkes memuji kerja keras tiga pelajar SMAN 2 Palangka Raya, yakni Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya, hingga riset obat kanker bajakah mereka memenangi medali emas di ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, Juli 2019.

Selama ini, bajakah merupakan obat turun-temurun suku Dayak. Berbekal informasi itu, ketiganya meneliti bajakah selama dua tahun di bawah bimbingan guru pendamping.

Setelah diteliti di laboratorium, tanaman bajakah terbukti mengandung 40 macam zat penyembuh kanker. Uji coba dilakukan pada tikus putih kecil yang mengidap tumor. Setelah diuji dengan memberikan minum air kayu bajakah tunggal selama dua pekan, ternyata tumor yang ada didalam tubuh tikus kecil itu hilang, bahkan tikus itu berkembang biak.

Peneliti dari Balai besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Litbang Kemenkes Mujahid mengatakan, uji lanjutan temuan tiga pelajar mendesak dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban akibat salah penggunaan, seiring dengan meningkatnya permintaan bajakah belakangan ini.

"Nanti dengan data penelitian kita, bisa direkomendasikan apakah bajakah boleh digunakan atau tidak," katanya seusai Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Hasil Penelitian Bajakah di Palangka Raya, kemarin.

Menurutnya, penelitian lebih lanjut obat tradisional umumnya butuh waktu tahunan untuk bisa dinyatakan legal sebagai obat.

Dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Pemprov Kalteng memutuskan untuk melarang perdagangan tanaman bajakah ke luar wilayahnya untuk sementara waktu. "Saat ini kami setop, kecuali hanya untuk kepentingan riset," tegas Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah Fahrizal Fitri.

Pemprov akan membentuk tim dengan melibatkan seluruh instansi terkait guna dilakukan penelitian lebih lanjut, pembahasan hak paten, pengawasan, hingga edukasi kepada masyarakat. Berbagai upaya itu dilakukan dalam menyikapi eksploitasi tanaman bajakah pascatemuan tiga siswa penemu obat penyembuh kanker.

"Ada sekitar 200 jenis bajakah dan tidak semuanya diduga memiliki khasiat obat, sebagian ada yang diduga beracun," katanya. (AT/SS/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More