Kamis 09 Januari 2020, 20:44 WIB

Kekerasan Anak Masih Tinggi, KPAI Ajak Kepedulian Semua Pihak

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Kekerasan Anak Masih Tinggi, KPAI Ajak Kepedulian Semua Pihak

Istimewa
Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah.

 

TERKAIT penyataan Presiden Jokowi bahwa kasus kekerasan terhadap anak selama 2015-2016 meningkat secara signifikan, Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, menyebut peningkatan kekerasan terhadap anak di tahun yang disebutkan Presiden Jokowi memang cukup mengkhawatirkan.

"Artinya di waktu tahun 2015 dan 2016 itu yang kemudian menjadi latar belakang KPAI meminta adanya hukuman tambahan dalam UU 35 2014 yang waktu itu masih perpu kebiri dalam konteks kekerasan seksual," kata Ai kepada Media Indonesia, Kamis (9/1).

Dia menjelaskan, terkait kekerasan terhadap anak secara umum belum ada tren penurunan, baik kekerasan fisik, psikis dan kekerasan perundungan. Oleh karena itu, pihaknya bersyukur presiden Jokowi mengingat bahwa dalam kurun waktu kekerasan anak sangat tinggi.

"Kekerasan anak masih tinggi, makanya Indonesia harus memiliki awareness, adanya langkah-langkah pencegahan, penanganan serta bagaimana menumbuhkan rasa kebangkitan atau survivor yang telah menjadi korban bisa bangkit kembali," sebut Ai

Dia menegaskan, KPAI memang mendorong pencegahan dan penanganan kembalinya situasi wajar pada anak, orang tua dan keluarga setelah peristiwa yang dialami tersebut.

Sedangkan terkait efek jera terhadap pelaku kekerasan fisik yang dilakukan orang dewasa, kata Ai memang kondisinya miris. Bahkan anak-anak dalam pengasuhan juga terjadi kekerasan.

"Misalnya di Jakarta Barat, ada anak yang digigit oleh bapaknya sampai meninggal dan ditemukan di badanya juga banyak perilaku kekerasan lainnya," lanjutnya.

Menurutnya ditingkat pengasuhan juga masih rentan kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, persoalan efektivitas tidak hanya dari penegakan hukum tetapi juga dari pencegahan secara dini.

"Penegakan hukum hari ini sudah terbuka dengan UU Perlindungan Anak, dengan optimalisasi hukuman terhadap pelakunya orang tua, tenaga pendidik dan oknum pemerintah misalnya ada penambahan 20 tahun," papar Ai.

Ai juga menyoroti beberapa kasus yang belum ada kepedulian tinggi banyak pihak seperti trafficking, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan eksploitasi.

"Sebenarnya hari ini kita juga harus melihat komitmen pemerintah turut serta menangani persoalan kekerasan di masyarakat," pungkasnya. (Fer/OL-09)

Baca Juga

AFP/Scott Olson.

Tambahkan Kacang ke Makanan Anak Kecil Bantu Hindari Alergi

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 13:00 WIB
Studi peer-review, yang diterbitkan di The Lancet, Jumat (21/1), itu melibatkan 146 anak yang alergi kacang tanah berusia antara nol dan...
DOK Pribadi.

Khasiat Poliherbal Pasak Bumi, Purwoceng, Tribulus, Jahe, Biji Pinang

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 12:45 WIB
Dalam penelitian Hurip, 2016, menemukan kadar testosteron dapat meningkat secara nyata setelah konsumsi pasak bumi selama tiga...
Antara/Prasetia Fauzani.

Vaksin Covid-19 Tunjukkan Kemanjuran Tinggi terhadap Infeksi Parah Omikron

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 11:27 WIB
Makalah itu juga menunjukkan bahwa sementara kematian di antara orang-orang yang divaksinasi lengkap meningkat tajam selama gelombang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya