Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BRAND elektronik dari Eropa, Beko yang juga sponsor utama klub FC Barcelona meluncurkan kampanye makan sehat untuk cegah obesitas bertajuk "Eat Like A Pro" menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli nanti.
Kampanye yang juga menggandeng FC Barcelona itu bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya obesitas yang mengancam anak-anak di seluruh dunia. Beko mengajak para orang tua menanamkan kebiasaan baik mengonsumsi makanan sehat dan aktif bergerak guna mencegah terjadinya obesitas pada anak.
Country General Manager Beko Indonesia Ali Cagri Gonculer mengatakan, obesitas pada anak merupakan isu global yang perlu disikapi secara serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi jumlah anak penderita obesitas di dunia akan mencapai 70 juta jiwa pada 2025 mendatang.
Di Beko, lanjut Ali, pihaknya terus berupaya membantu mengatasi isu tersebut melalui 2 cara, yaitu melalui ragam teknologi yang ditawarkan untuk memudahkan konsumsi terhadap makanan sehat dan menumbuhkan ketertarikan anak-anak untuk mengonsumsi makanan sehat.
"Di sini, peran orang tua sebagai hero pertama yang dikenal anak, menjadi sangat krusial. Melalui kampanye ’Eat Like A Pro’, kami juga mengajak orang tua untuk memberikan contoh baik, dan bersama anak mereka menjalani hidup sehat dengan cara yang menyenangkan," kata Ali dalam keterangan tertulisnya.
Baca juga : Jumlah Kasus Obesitas Meningkat Satu Dekade Terakhir
Beko menjadikan bek FC Barcelona Gerard Pique sebagai duta kampanye "Eat Like A Pro". Ali beralasan, pihaknya menggandeng pesepakbola sebagai bagian dari kampanye karena anak-anak banyak memandang atlet sebagai panutan dalam hidupnya.
"Sepak bola sendiri telah menjadi cabang olahraga yang paling banyak digemari di seluruh dunia, dan sangat dekat dengan anak-anak, termasuk di Indonesia. Karenanya, Beko dengan antusias dan bangga hati berdampingan dengan FC Barcelona, menjadikannya sebagai personifikasi sosok hero, para pro, bagi anak-anak," ujar Ali.
Ali menjelaskan, kampanye terbaru Beko itu diluncurkan karena menghadirkan makanan sehat bagi anak-anak masih menjadi tantangan bagi orang tua di Indonesia. Makanan padat energi dan tinggi lemak justru lebih dipilih, terlebih dalam rupa camilan atau penganan tambahan yang lambat laun turut berandil pada terjadinya obesitas pada anak di Tanah Air.
Temuan YouGov mendapati Indonesia sebagai negara kedua di Asia Pasifik yang paling menggemari camilan; dengan mayoritas lebih memilih keripik, biskuit, roti atau kue, ketimbang kudapan sehat. Berkelindan, Deloitte Consumer Insights mengungkap bahwa makanan kemasan menjadi kategori produk yang semakin sering dibeli oleh masyarakat Indonesia secara harian atau mingguan di gerai modern (seperti super market atau minimarket).
Riset yang sama juga menemukan adanya dua faktor utama memilih produk makanan kemasan, yakni rasa dan harga; sementara kesehatan jelas bukan pertimbangan kunci.
Karenanya, umum terjumpai, anak-anak menerima suguhan makanan cepat saji dan camilan kemasan. Bagi orang tua, selain mudah diperoleh dan disajikan, rasa lezat di lidah membuat mereka cenderung memilih makanan kemasan dibandingkan asupan bergizi.
Berlangsung terus menerus dan menjadi kebiasaan, tak heran data Riskesdas 2018 menyebut 95% masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah.
Spesialis Gizi Klinik Diana F. Suganda menambahkan, kondisi itu diperburuk dengan gaya hidup sedentary atau kurang gerak, salah satunya dipicu oleh kemudahan yang dihadirkan teknologi dan gawai digital, sehingga membuat anak enggan beraktivitas fisik. P
ola hidup yang patut diwaspadai, mengingat obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dibuang. Peran orang tua untuk meneladani alias menjadi hero di mata anak, semakin urgen.
“Obesitas umumnya disebabkan oleh 3 faktor: perilaku, lingkungan, dan genetik. Faktor genetik menyumbang sekitar 10-30%, sementara faktor perilaku dan lingkungan dapat mencapai 70%. Berbagai risiko kesehatan berbahaya mengancam anak-anak penderita obesitas, seperti diabetes dan penyakit jantung. Tentunya, kondisi ini akan berpengaruh pada kualitas hidup mereka di masa mendatang,” jelas Diana F. Suganda.
Untuk melindungi anak dari risiko obesitas, lanjutnya, orang tua dapat melakukan langkah preventif dengan memperkaya menu harian yang mempertimbangkan batasan asupan gula, garam dan lemak, serta melakukan aktivitas fisik bersama secara rutin.
"Terkait penyiapan menu harian, mutu bahan makanan menjadi vital. Tingkat kesegaran tidak bisa diabaikan, sebab semakin fresh suatu bahan makanan maka kekayaan nutrisinya lebih terjaga,” sambung dr. Diana.
Membantu orang tua mempersiapkan variasi makanan bernutrisi bagi anak, Beko juga memberikan akses untuk menerapkan pola makan sehat ala profesional melalui buku resep ‘Eat Like A Pro’ yang disusun bersama nutrisionis FC Barcelona.
Baca juga : Hipertensi pada Orang Obesitas Lebih Kompleks
Di Indonesia, Beko menggandeng chef ternama, Steby Rafael, dalam mengkreasikan menu yang bukan hanya sehat, tapi juga lezat dan menarik untuk anak-anak.
“Menumbuhkan ketertarikan anak untuk mengonsumsi makanan sehat dapat dibangun melalui tampilan makanan yang menarik tanpa mengabaikan rasa yang nikmat. Untuk merealisasikannya, tak hanya pada proses memasak, namun dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan dan penyajian harus mendapatkan porsi perhatian yang saksama,” ujar Steby.
Lebih dari seruan untuk mencegah obesitas pada anak, inisiatif Beko ini juga dielaborasi menjadi sebuah langkah edukatif dengan menggandeng UNICEF sebagai mitra.
Secara global, pada 2018, melalui inisiatif ‘Eat Like A Pro’, Beko bersama FC Barcelona berhasil mengumpulkan dana senilai 1 juta euro. Donasi tersebut kemudian disalurkan ke UNICEF yang dimanfaatkan untuk penerapan program edukasi di sekolah-sekolah dasar tentang pola makan dan hidup yang lebih sehat.
"Harapan kami, hadirnya inisiatif ‘Eat Like A Pro’ di Indonesia bisa memperluas kesadaran mengenai mendesaknya tingkat obesitas pada anak, serta membuka mata semakin banyak pihak untuk berkontribusi positif dalam mengurangi kondisi tersebut melalui aktivitas preventif dan edukatif,” tutup Ali. (RO/OL-7)
Simak 7 tips dari dr Mimi Oktafia (IPB University) untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar tampil maksimal saat UTBK-SNBT 2026.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Health Talk.
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Daftar 20 makanan tinggi antioksidan versi USDA, dari blueberry hingga kacang merah. Bantu lawan radikal bebas dan cegah penyakit kronis.
Berdasarkan filosofi keseimbangan Yin dan Yang, jamur kuping dipercaya mampu mengembalikan harmoni organ tubuh yang terganggu akibat penyakit.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved