Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dunia anime olahraga, transformasi karakter seringkali digambarkan melalui kekuatan ajaib atau motivasi instan. Namun, Haikyuu!! karya Haruichi Furudate mengambil pendekatan yang berbeda dan sangat realistis melalui perjalanan Hinata Shoyo ke Brazil. Keputusan Hinata untuk berlatih voli pantai bukan sekadar subplot tambahan, melainkan pondasi utama yang mengubahnya menjadi pemain kelas dunia.
Banyak penggemar bertanya-tanya, mengapa Hinata harus pergi jauh ke Rio de Janeiro hanya untuk bermain di atas pasir? Jawabannya terletak pada keterbatasan Hinata saat masih di SMA Karasuno. Meskipun memiliki lompatan luar biasa, Hinata sangat bergantung pada umpan Kageyama Tobio dan kurang memiliki kemampuan dasar seperti receive dan setting.
Dalam voli pantai format 2v2, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Seorang pemain harus bisa melakukan servis, menerima bola, memberikan umpan, hingga melakukan serangan secara bergantian. Hal ini memaksa Hinata untuk keluar dari zona nyamannya sebagai middle blocker spesialis serangan cepat dan bertransformasi menjadi pemain yang serba bisa.
Berlari dan melompat di atas pasir jauh lebih sulit daripada di lantai kayu. Pasir yang tidak stabil menuntut keseimbangan tubuh (core balance) yang luar biasa. Latihan ini secara otomatis meningkatkan kekuatan ledak (explosive power) Hinata, memungkinkannya melompat lebih tinggi dan lebih stabil saat kembali ke lapangan indoor.
Di luar ruangan, Hinata harus berhadapan dengan angin yang kencang dan silau matahari. Kondisi ini melatih instingnya untuk membaca pergerakan bola dengan lebih akurat. Kemampuan ini membantunya mengembangkan "penglihatan" yang lebih luas di lapangan, sebuah atribut yang sangat penting bagi pemain bertubuh pendek.
Tahukah Anda bahwa ide awal pelatihan ini didukung oleh pelatih Washijo dari Shiratorizawa? Meskipun sempat meremehkan Hinata, Washijo adalah orang yang membantu menghubungkan Hinata dengan kontak di Brazil karena ia ingin melihat seberapa jauh "tinggi badan rendah" bisa bersaing jika dibekali teknik yang sempurna.
Perjalanan Hinata di Brazil tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tantangan hidup yang nyata sebelum akhirnya bisa menyentuh bola di lapangan profesional:
Setelah dua tahun berlatih voli pantai, Hinata kembali ke Jepang dan bergabung dengan tim MSBY Black Jackals di divisi utama V.League. Hasilnya sangat nyata. Ia bukan lagi sekadar umpan, melainkan ancaman nyata di setiap posisi. Ia mampu melakukan receive yang sempurna terhadap servis keras Kageyama dan memberikan umpan akurat kepada rekan setimnya.
| Keahlian | Sebelum ke Brazil (Karasuno) | Setelah dari Brazil (MSBY) |
|---|---|---|
| Receive | Sangat Lemah | Level Elit / Libero |
| Setting | Hampir Tidak Ada | Mampu melakukan Emergency Set |
| Stamina | Tinggi | Luar Biasa / Tidak Terbatas |
Alasan Hinata berlatih voli pantai adalah bentuk dedikasi tertinggi untuk menutupi kelemahan fisiknya dengan teknik yang tak tergoyahkan. Melalui pasir pantai Brazil, Hinata membuktikan bahwa tinggi badan bukanlah penghalang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan beradaptasi dengan cara yang paling sulit sekalipun. (Z-4)
Berbeda dengan turnamen Inter-High yang diadakan di musim panas, Spring High memiliki prestise yang lebih tinggi karena menjadi panggung terakhir bagi para siswa kelas 3
Setelah lulus dari SMA Karasuno, Nishinoya melakukan hal yang tidak terduga. Ia memilih untuk menjadi seorang petualang dunia.
Hubungan Kageyama dan Oikawa bermula di SMP Kitagawa Daiichi. Saat itu, Oikawa adalah setter utama dan kapten, sementara Kageyama adalah pemain tahun pertama yang memiliki bakat fisik
Sejak masa muda mereka, kedua pelatih ini selalu bermimpi untuk bertemu di panggung tertinggi, yaitu Kejuaraan Nasional. Namun, takdir selalu berkata lain.
Pertemuan kembali terjadi di babak kedua turnamen Musim Semi (Spring High). Di sinilah Karasuno akhirnya berhasil meraih kemenangan lewat pertandingan dua set yang dramatis (25-19, 25-22).
Meskipun memiliki postur tubuh yang hampir serupa, keduanya memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap olahraga voli.
Timnas Jepang dalam arc Olimpiade Tokyo digambarkan sebagai tim yang sangat solid dengan kombinasi kekuatan serangan dan pertahanan yang hampir sempurna.
Hinata Shoyo memang terinspirasi oleh Tenma, namun ada alasan fundamental mengapa ia tidak pernah benar-benar menjadi "Raksasa Kecil Kedua".
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved