Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI para penggemar anime dan manga Haikyuu!!, sosok Hinata Shoyo adalah simbol determinasi tanpa batas. Meskipun memiliki tinggi badan di bawah rata-rata pemain voli pada umumnya, Hinata berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mendominasi lapangan. Namun, apa sebenarnya alasan mendasar yang membuat Hinata jatuh cinta pada olahraga ini? Bagaimana seorang bocah dari Yukigaoka bisa berakhir mengenakan jersey kebanggaan Tim Nasional Jepang?
Semua bermula dari sebuah kebetulan di depan toko elektronik. Saat masih duduk di bangku SMP, Hinata melihat tayangan pertandingan voli SMA Karasuno di televisi. Di sana, ia terpaku melihat sosok pemain yang dijuluki "Raksasa Kecil" (Little Giant).
Pemain tersebut memiliki postur tubuh pendek, namun mampu melompat sangat tinggi dan menembus blokade pemain lawan yang jauh lebih besar. Momen ini menjadi titik balik hidup Hinata. Ia melihat sebuah harapan bahwa ia bisa melakukan hal yang sama. Sejak saat itu, alasan Hinata bermain voli adalah untuk menjadi "Raksasa Kecil" berikutnya.
Langkah awal Hinata tidaklah mulus. Di SMP Yukigaoka, ia tidak memiliki klub voli putra yang layak. Pada turnamen pertamanya, Hinata dikalahkan secara telak oleh tim yang dipimpin oleh Kageyama Tobio. Kekalahan menyakitkan itu justru membakar semangatnya. Namun, takdir berkata lain; saat masuk SMA Karasuno, keduanya justru bertemu di tim yang sama dan dipaksa bekerja sama sebagai duet maut.
Setelah lulus SMA, Hinata mengambil keputusan berani dengan pergi ke Brazil untuk bermain voli pantai. Alasan strategisnya adalah untuk mengasah kemampuan individual secara ekstrem. Di voli pantai, Hinata dipaksa untuk melakukan segalanya sendiri—bertahan, mengatur umpan, dan menyerang di medan pasir yang sulit. Pengalaman di Brazil inilah yang mengubahnya menjadi pemain "All-Rounder" yang komplet.
Sekembalinya dari Brazil, Hinata bergabung dengan klub profesional MSBY Black Jackals. Performa gemilangnya membawanya pada pencapaian tertinggi, yakni dipanggil memperkuat Tim Nasional Voli Jepang untuk ajang Olimpiade. Mengenakan nomor punggung 10, Hinata membuktikan bahwa ia bukan lagi sekadar pengejar bayangan, melainkan telah menjadi bintang voli dunia yang disegani. (Z-4)
Pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan telak bagi tim Hinata. Namun, momen krusial terjadi saat Kageyama meneriaki Hinata, mempertanyakan apa yang telah ia lakukan
Banyak penggemar bertanya-tanya, mengapa Hinata harus pergi jauh ke Rio de Janeiro hanya untuk bermain di atas pasir? Jawabannya terletak pada keterbatasan Hinata saat masih di SMA Karasuno.
Berbeda dengan turnamen Inter-High yang diadakan di musim panas, Spring High memiliki prestise yang lebih tinggi karena menjadi panggung terakhir bagi para siswa kelas 3
Setelah lulus dari SMA Karasuno, Nishinoya melakukan hal yang tidak terduga. Ia memilih untuk menjadi seorang petualang dunia.
Hubungan Kageyama dan Oikawa bermula di SMP Kitagawa Daiichi. Saat itu, Oikawa adalah setter utama dan kapten, sementara Kageyama adalah pemain tahun pertama yang memiliki bakat fisik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved