Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERJALANAN panjang Hinata Shoyo dari seorang bocah yang hanya bisa melompat hingga menjadi bintang di panggung internasional telah mencapai puncaknya.
Ending Haikyuu!! tidak hanya memberikan penutupan yang emosional, tetapi juga menyajikan daftar "Monster Generation" yang mengisi skuat Timnas Jepang. Menariknya, panggung dunia ini juga mempertemukan mereka dengan rival lama, Oikawa Tooru, yang membawa kejutan besar dalam karier profesionalnya.
Setelah melewati masa SMA yang kompetitif di Prefektur Miyagi, para pemain terbaik Jepang akhirnya bersatu dalam satu bendera. Timnas Jepang dalam arc Olimpiade Tokyo digambarkan sebagai tim yang sangat solid dengan kombinasi kekuatan serangan dan pertahanan yang hampir sempurna.
Kombinasi ini menyatukan rival-rival lama seperti Kageyama dan Miya Atsumu untuk menyuplai bola kepada spiker penghancur seperti Ushijima dan Bokuto. Keberadaan Hinata yang telah bertransformasi total menjadi pemain "All-Rounder" setelah pelatihannya di Brasil menjadikannya senjata rahasia yang sulit dibaca lawan.
Sebelum bergabung dengan Timnas, Hinata mengambil langkah berani dengan pindah ke Brasil untuk bermain voli pantai. Keputusan ini sempat dipertanyakan penggemar, namun hasilnya terlihat saat ia kembali ke Jepang. Di Brasil, Hinata belajar menguasai angin, pasir, dan yang terpenting, keseimbangan tubuh.
Hasilnya, Hinata bukan lagi sekadar "umpan" (decoy). Di Timnas Jepang, ia mampu melakukan receive yang sempurna, memberikan set yang akurat, dan tetap memiliki lompatan vertikal yang mematikan. Kemampuannya ini membuat ia dijuluki sebagai pemain yang mampu melakukan segalanya di lapangan.
Salah satu kejutan terbesar di ending Haikyuu adalah kemunculan Oikawa Tooru. Alih-alih membela Jepang, sang "Grand King" justru muncul sebagai setter utama untuk Timnas Argentina. Oikawa memilih jalur naturalisasi setelah terinspirasi oleh mentor dunianya, Jose Blanco.
Pertemuan antara Jepang dan Argentina di Olimpiade menjadi panggung pembuktian bagi Oikawa. Ia ingin menunjukkan kepada Kageyama dan Ushijima bahwa bakat yang diasah dengan kerja keras mampu menaklukkan bakat alam. Dengan servis yang lebih mematikan dan kemampuan memaksimalkan potensi rekan setimnya hingga 100%, Oikawa menjadi tembok terakhir yang harus dihadapi oleh Hinata dan kawan-kawan.
Haikyuu!! ditutup dengan pesan kuat bahwa olahraga voli adalah tentang "menghubungkan". Bukan hanya menghubungkan bola di atas net, tetapi juga menghubungkan masa lalu, rivalitas, dan impian. Meskipun cerita berakhir, rivalitas antara Hinata dan Kageyama tetap berlanjut di liga profesional dunia, menunjukkan bahwa tidak ada akhir bagi mereka yang terus ingin berkembang. (Z-4)
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Hinata Shoyo memang terinspirasi oleh Tenma, namun ada alasan fundamental mengapa ia tidak pernah benar-benar menjadi "Raksasa Kecil Kedua".
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved