Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Matoha Mino: Melawan Stigma Pesugihan Gunung Kawi Lewat Nada

Basuki Eka Purnama
06/1/2026 11:14
Matoha Mino: Melawan Stigma Pesugihan Gunung Kawi Lewat Nada
Matoha Mino(MI/HO)

SELAMA puluhan tahun, nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang kerap diidentikkan dengan narasi mistis, tempat mencari pesugihan, hingga sarang makhluk gaib. 

Gerah dengan stereotip yang terus dipelihara oleh tayangan horor di televisi, musisi asli Gunung Kawi, Matoha Mino, memutuskan untuk mengambil langkah nyata lewat karya musik.

Melalui lagu terbarunya yang bertajuk Gunung Kawi, seniman berusia 57 tahun ini mencoba membedah sisi lain dari tanah kelahirannya. 

Matoha mengungkapkan bahwa ide lagu ini sebenarnya telah mengendap sejak periode 2005–2008. Ia merasa sedih melihat Desa Wonosari, tempat ia tumbuh besar, terus disalahpahami oleh masyarakat luas.

“Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang ‘Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan’. Ada pula yang bilang ‘Orang yang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib’. Saya yang lahir dan besar di Gunung Kawi (tepatnya Desa Wonosari), rasanya kesel sekali stereotip itu terus dipelihara film-film horor dan sinetron,” ungkap Matoha.

Wisata Ziarah dan Nilai Sejarah

Melalui liriknya, Matoha ingin menegaskan bahwa Gunung Kawi adalah tempat ziarah yang memiliki nilai sejarah tinggi. Di sana terdapat makam Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono), dua tokoh pejuang yang merupakan laskar Pangeran Diponegoro.

Matoha menekankan bahwa kunjungan ke Gunung Kawi seharusnya menjadi momen untuk merefleksikan doa kepada Tuhan, bukan mencari jalan pintas kekayaan secara mistis. 

“Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat ziarah, tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegasnya.

Kolaborasi Musik dan Keluarga

Matoha, yang sebelumnya dikenal sebagai sosok di balik lagu soundtrack film KKN di Desa Penari, kali ini bereksperimen dengan menggabungkan gamelan Jawa dengan unsur musik Islami berupa iringan terbangan atau musik sholawatan. 

Dalam proses kreatifnya, ia dibantu oleh rekan musisi almarhum Irwan Sumadi serta grup musik Islami Tajidor Kyai Zakaria.

Proyek ini juga menjadi proyek keluarga yang hangat. Putranya, Hanafi Madu W, turut memainkan instrumen, sementara sang istri, Ibu Dwi Siswa, mengoordinasi paduan suara anak-anak setempat. 

Putrinya yang juga seorang penyanyi, Madukina, bertindak sebagai pengarah vokal sekaligus konseptor visual dan strategi perilisan digital.

Pesan Universal

Berbeda dengan karya sebelumnya yang menggunakan bahasa Jawa kuno, Matoha sengaja memilih Bahasa Indonesia agar pesan pelurusan stigma ini bisa menjangkau khalayak yang lebih luas. Ia ingin lirik yang sederhana dan melodi yang mudah diingat mampu meredam interpretasi ganda di tengah masyarakat.

Lagu Gunung Kawi telah resmi dirilis secara digital pada 31 Desember 2025. Melalui karya ini, Matoha berharap masyarakat tidak lagi melihat Gunung Kawi dengan kacamata ketakutan, melainkan sebagai tempat wisata religi yang sarat akan nilai sejarah dan spiritualitas. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya