Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Prilly Latuconsina kembali menguji kemampuan aktingnya lewat layar lebar. Dalam proyek film terbaru berjudul Patah Hati yang Kupilih, Prilly mendapatkan tantangan yang cukup kontras dengan kehidupan pribadinya, yakni memerankan sosok ibu muda bernama Alya.
Bagi Prilly, memerankan karakter Alya bukan sekadar menghafal dialog, melainkan upaya memahami naluri keibuan yang belum pernah ia rasakan di dunia nyata.
Ia mengakui bahwa membangun koneksi dengan karakter seorang ibu dan berinteraksi intens dengan anak kecil menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi.
“Cuma yang ada persamaan antara aku dan karakter Alya, kita sama-sama enggak tahu caranya jadi ibu gitu. Alya belum tahu caranya jadi ibu karena dia menjadi ibu di usia muda. Nah, Prilly juga enggak punya pengetahuan atau memori jadi ibu tuh kayak gimana,” ungkap Prilly dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/12).
Demi memberikan performa yang meyakinkan, Prilly melakukan riset mendalam dan observasi langsung. Fokus utamanya adalah mempelajari pola komunikasi antara ibu muda dan anak, serta bagaimana seorang ibu menekan ego pribadinya demi kepentingan sang buah hati.
Ia memaparkan bahwa transisi emosional dari memikirkan diri sendiri menjadi sosok yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kehidupan anak adalah bagian tersulit. Hal ini membuatnya sering melakukan diskusi intensif dengan sutradara dan rekan peran di lokasi syuting.
“Jadi emosi-emosi menjadi orang tua yang mikirin anak, bukannya cuma mikirin diri sendiri, apa yang terbaik buat anak tuh lumayan, sebenarnya lumayan sulit buat aku. Makanya pas take juga akhirnya suka banyak diskusi,” tuturnya menjelaskan proses di balik layar.
Patah Hati yang Kupilih merupakan drama romansa yang menyoroti lika-liku hubungan Alya (Prilly Latuconsina) dan Ben (Bryan Domani).
Keduanya dikisahkan sebagai mantan kekasih yang sempat terpisah akibat perbedaan agama dan sebuah kesalahan besar di masa lalu. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali melalui kehadiran seorang anak yang lahir dari hubungan tersebut.
Selain Prilly dan Bryan Domani, film ini turut diperkuat oleh deretan aktor lintas generasi seperti Marissa Anita, Rowiena Umboh, Willem Bevers, hingga talenta muda seperti Humaira Jahra, Indian Akbar, Halda Rianta, dan Nike Putra.
Bagi para pencinta film drama tanah air, perjuangan Alya dalam menavigasi cinta dan tanggung jawab sebagai ibu muda ini dapat disaksikan di seluruh bioskop Indonesia mulai 24 Desember 2025. (Ant/Z-1)
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved