Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM konferensi pers film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis, para pemeran utama, Dikta Wicaksono dan Prilly Latuconsina, berbagi cerita tentang tantangan dan proses mendalam di balik peran mereka sebagai Baskara dan Tari.
Karakter yang mereka mainkan terlibat dalam drama emosional yang kompleks, penuh dengan trauma, kebingungan, dan upaya penyembuhan diri.
Dikta Wicaksono, yang memerankan Baskara, mengungkapkan bahwa karakter tersebut sangat berbeda dengan dirinya.
Baca juga : Prilly dan Dikta Eksplorasi Karakter Berbeda di Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis

"Baskara ini sebenarnya sangat berbeda dengan Dikta karena dari latar belakang keluarga aja udah beda, dan beberapa hal lainnya yang membuat saya tidak relate dengan penggambaran karakternya," jelas Dikta.
Namun, Dikta mengatasi perbedaan tersebut dengan melakukan riset mendalam, terutama dengan menggali pengalaman para atlet yang gagal, sebuah elemen yang ia jadikan titik masuk dalam membangun karakter Baskara.
"Untuk masuk ke karakter ini saya berusaha untuk riset dan menghubungkan dengan pengalaman atlet yang gagal, dan akhirnya saya bawa itu jadi ‘persamaan’ nya," tambahnya.
Karakter Baskara diceritakan sebagai sosok yang berusaha keras membantu Tari, meski dirinya sendiri sedang berjuang dengan masalah internal.
"Ini menarik karena pasti relate dengan banyak dari kita yang ingin menolong orang lain, padahal dirinya sendiri itu sedang tidak baik-baik saja," lanjut Dikta.
Baca juga : Para Pemain Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis Ungkap Tantangan dan Pembelajaran Selama Proses Syuting
Melalui perannya, Dikta ingin menyampaikan pesan penting bahwa sebelum kita membantu orang lain, kita harus sembuh dari luka-luka kita sendiri.

Berbeda dengan Dikta, Prilly Latuconsina merasa dirinya memiliki beberapa kesamaan dengan karakter Tari.
Baca juga : Umay Shahab Ungkap Awal Mula Ide Film Bolehkah Sekali Saja Ku Kenangis
Prilly menyoroti bahwa kesamaan tersebut sangat berhubungan dengan sifat mereka sebagai people pleaser.
"Kesamaan aku dan karakter adalah kita sama-sama people pleaser, yang mana aku sebagai public figure harus terus terlihat baik dan menyenangkan semua orang. Namun, akhirnya banyak perasaan yang aku pendam," ungkap Prilly.
Prilly juga mengakui bahwa dirinya belajar banyak dari karakter Tari, terutama dalam hal menyayangi diri sendiri.
"Dengan banyaknya tuntutan kantor yang membuat ia harus jadi pegawai yang terus bilang iya, aku pun mencoba belajar dari karakter aku sendiri sehingga bisa untuk mulai lebih menyayangi diri sendiri," tambahnya.
Selain itu, Prilly membahas bagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya, termasuk social experiments yang ia lakukan, mempengaruhi perannya sebagai Tari.
"Kesamaan sifat antara Tari dan Prilly ini ada juga influence dari Prilly yang sebenarnya dalam karakter tadi. Aku percaya banyak Prilly dan Tari di luar sana yang perlu mendengarkan cerita ini," katanya.
Dalam hal membangun chemistry di layar antara Baskara dan Tari, Dikta dan Prilly mengakui prosesnya lebih mudah karena mereka sudah memiliki dasar komunikasi yang baik dari proyek-proyek sebelumnya.
"Kita lebih banyak gampangnya karena udah sering saling berbagi sebelumnya. Kita banyak diskusi juga, sehingga ketika sampai di project ini pembangunan chemistry-nya udah oke," ungkap keduanya.
Pengalaman dan hubungan profesional mereka sebelumnya mempermudah pendalaman karakter dan interaksi di layar, menciptakan dinamika yang kuat antara dua karakter utama ini.
Melalui peran Baskara dan Tari, baik Dikta Wicaksono maupun Prilly Latuconsina menyampaikan pesan penting mengenai penyembuhan diri, kejujuran emosi, dan perjuangan untuk menemukan keseimbangan dalam hidup.
Karakter mereka mencerminkan realitas banyak orang yang berusaha menyembunyikan rasa sakit sambil terus menolong orang lain, sebuah tema yang relevan dan penuh makna dalam konteks kesehatan mental dan hubungan interpersonal. (Z-1)
Sejak kemunculannya, Nussa telah menjadi ikon animasi yang lekat dengan nilai-nilai positif bagi anak-anak.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Menurut Dian Sastrowardoyo, sosok Kinan dalam film Laut Bercerita adalah representasi perempuan yang sangat inspiratif.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Film Ghost in the Cell garapan sutradara Joko Anwar menjadi debut Magistus Miftah setelah ia berhasil menembus audisi yang diikuti ratusan pendaftar.
Dalam pidato kemenangannya di BAFTA, Robert Aramayo memberikan penghormatan kepada John Davidson, seorang aktivis sindrom Tourette yang menjadi inspirasi di balik pembuatan film I Swear.
Katyana Mawira secara terbuka mengungkapkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Inggris Raya (UK) demi mengejar gelar di bidang ilmu pasti.
Kabar mengejutkan datang dari dunia hiburan Korea Selatan. Dua rising star generasi muda, Shin Eun Soo dan Yu Seon Ho, dikabarkan tengah menjalin hubungan asmara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved