Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM konferensi pers film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis, para pemeran utama, Dikta Wicaksono dan Prilly Latuconsina, berbagi cerita tentang tantangan dan proses mendalam di balik peran mereka sebagai Baskara dan Tari.
Karakter yang mereka mainkan terlibat dalam drama emosional yang kompleks, penuh dengan trauma, kebingungan, dan upaya penyembuhan diri.
Dikta Wicaksono, yang memerankan Baskara, mengungkapkan bahwa karakter tersebut sangat berbeda dengan dirinya.
Baca juga : Prilly dan Dikta Eksplorasi Karakter Berbeda di Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis

"Baskara ini sebenarnya sangat berbeda dengan Dikta karena dari latar belakang keluarga aja udah beda, dan beberapa hal lainnya yang membuat saya tidak relate dengan penggambaran karakternya," jelas Dikta.
Namun, Dikta mengatasi perbedaan tersebut dengan melakukan riset mendalam, terutama dengan menggali pengalaman para atlet yang gagal, sebuah elemen yang ia jadikan titik masuk dalam membangun karakter Baskara.
"Untuk masuk ke karakter ini saya berusaha untuk riset dan menghubungkan dengan pengalaman atlet yang gagal, dan akhirnya saya bawa itu jadi ‘persamaan’ nya," tambahnya.
Karakter Baskara diceritakan sebagai sosok yang berusaha keras membantu Tari, meski dirinya sendiri sedang berjuang dengan masalah internal.
"Ini menarik karena pasti relate dengan banyak dari kita yang ingin menolong orang lain, padahal dirinya sendiri itu sedang tidak baik-baik saja," lanjut Dikta.
Baca juga : Para Pemain Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis Ungkap Tantangan dan Pembelajaran Selama Proses Syuting
Melalui perannya, Dikta ingin menyampaikan pesan penting bahwa sebelum kita membantu orang lain, kita harus sembuh dari luka-luka kita sendiri.

Berbeda dengan Dikta, Prilly Latuconsina merasa dirinya memiliki beberapa kesamaan dengan karakter Tari.
Baca juga : Umay Shahab Ungkap Awal Mula Ide Film Bolehkah Sekali Saja Ku Kenangis
Prilly menyoroti bahwa kesamaan tersebut sangat berhubungan dengan sifat mereka sebagai people pleaser.
"Kesamaan aku dan karakter adalah kita sama-sama people pleaser, yang mana aku sebagai public figure harus terus terlihat baik dan menyenangkan semua orang. Namun, akhirnya banyak perasaan yang aku pendam," ungkap Prilly.
Prilly juga mengakui bahwa dirinya belajar banyak dari karakter Tari, terutama dalam hal menyayangi diri sendiri.
"Dengan banyaknya tuntutan kantor yang membuat ia harus jadi pegawai yang terus bilang iya, aku pun mencoba belajar dari karakter aku sendiri sehingga bisa untuk mulai lebih menyayangi diri sendiri," tambahnya.
Selain itu, Prilly membahas bagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya, termasuk social experiments yang ia lakukan, mempengaruhi perannya sebagai Tari.
"Kesamaan sifat antara Tari dan Prilly ini ada juga influence dari Prilly yang sebenarnya dalam karakter tadi. Aku percaya banyak Prilly dan Tari di luar sana yang perlu mendengarkan cerita ini," katanya.
Dalam hal membangun chemistry di layar antara Baskara dan Tari, Dikta dan Prilly mengakui prosesnya lebih mudah karena mereka sudah memiliki dasar komunikasi yang baik dari proyek-proyek sebelumnya.
"Kita lebih banyak gampangnya karena udah sering saling berbagi sebelumnya. Kita banyak diskusi juga, sehingga ketika sampai di project ini pembangunan chemistry-nya udah oke," ungkap keduanya.
Pengalaman dan hubungan profesional mereka sebelumnya mempermudah pendalaman karakter dan interaksi di layar, menciptakan dinamika yang kuat antara dua karakter utama ini.
Melalui peran Baskara dan Tari, baik Dikta Wicaksono maupun Prilly Latuconsina menyampaikan pesan penting mengenai penyembuhan diri, kejujuran emosi, dan perjuangan untuk menemukan keseimbangan dalam hidup.
Karakter mereka mencerminkan realitas banyak orang yang berusaha menyembunyikan rasa sakit sambil terus menolong orang lain, sebuah tema yang relevan dan penuh makna dalam konteks kesehatan mental dan hubungan interpersonal. (Z-1)
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved