Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTOR laga Indonesia Joe Taslim berharap sineas lokal terus konsisten memproduksi film-film dengan cerita yang berkualitas dan mampu bersaing di kancah global.
Joe menegaskan bahwa kesempatan emas untuk berkarier di luar negeri datang dari keberhasilan film-film yang dibintangi di Indonesia, bukan sebaliknya.
"Banyak teman-teman aku juga bilang, kenapa Joe enggak tinggal di Amerika aja? Disarankan kenapa enggak jadi aktor di situ aja," ujar Joe, dikutip Jumat (19/9).
Namun, ia selalu menolak saran tersebut. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak memulai karier dari luar negeri, melainkan dari industri film Indonesia.
Ia menceritakan bagaimana sutradara Kenji Tanigaki sampai terbang ke Jakarta hanya untuk menawarkannya untuk bergabung dalam pembuatan film The Furious.
Joe menjelaskan bahwa Kenji bersikukuh ingin datang langsung dan bertemu dengannya, padahal Joe sudah menawarkan untuk melakukan pertemuan secara daring.
"Jadi, dia datang ke Jakarta benar-benar untuk menawarkan proyek ini doang. Dia cuma dua jam di Indonesia, lalu hari itu pergi lagi," kenang Joe.
Ia merasa terharu menerima perlakuan sutradara tersebut kepada calon aktornya.
Menurut Joe, sikap Kenji adalah cerminan dari meningkatnya apresiasi dunia internasional terhadap bakat-bakat perfilman Indonesia.
Hal ini juga menjadi bukti bahwa aktor dan kru dari film Indonesia yang berkualitas dapat dipandang penting di mata sineas dunia.
Joe sendiri merasa pintu kariernya terbuka berkat film Indonesia yang dibuat dengan sepenuh hati, yaitu The Raid.
Film tersebut, kata Joe, berhasil dihargai dan diakui di seluruh dunia. Bahkan, hingga kini, ia merasa banyak orang di luar negeri masih membandingkan film aksi mereka dengan The Raid.
"Aku merasa kalau lagi syuting ke mana-mana, orang-orang tuh selalu bilang, mereka belajar banyak dari The Raid dan selalu membandingkan
dengan The Raid," kata Joe.
Menurut Joe, industri film Indonesia memiliki potensi besar untuk dilirik dunia. Kuncinya sederhana, yaitu menciptakan film yang dikerjakan dengan sepenuh hati dan dapat dinikmati oleh penonton global.
Hal ini terbukti dari pengalamannya bersama Iko Uwais dan Yayan Ruhian, yang juga mencuat dari film yang sama.
"Jujur film itu juga buat aku keluar dari Indonesia. Aku enggak pernah keluar dari Asia. Pertama kali aku pergi ke luar negeri, keluar Asia
itu ke Toronto (Festival Film Internasional Toronto)," kenang Joe.
"Jadi itulah sebenarnya, sesimpel itu sebenarnya. Emang yang dibuat dengan 'passion' itu akhirnya yang dilihat oleh dunia," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved