Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM Bayang-bayang Anak Jahanam tidak hanya menyajikan ketegangan horor, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi para pemainnya. Ali Fikry, yang berperan sebagai Agni, dan Rizky Hanggono, yang berperan sebagai Gani, menceritakan pengalaman mereka berperan dalam film tersebut.
Ali Fikry mengatakan Bayang-bayang Anak Jahanam merupakan debutnya di genre horor. Sebagai film horor pertamanya, pengalaman ini menjadi langkah penting dalam kariernya, terlebih dengan kesempatan bekerja bersama aktor-aktor berpengalaman.
"Jujur aku deg-degan banget, karena ini film horor pertama aku. Apalagi langsung kerja bareng aktor-aktor luar biasa," kata Ali saat sesi wawancara di acara Press Screening & Press Conference Film Bayang-bayang Anak Jahanam di CGV Grand Indonesia, Senin (13/1).
Ali mengaku film ini akan selalu menjadi kenangan istimewa dalam kariernya.
Menurutnya, film Bayang-bayang Anak Jahanam adalah film horor yang membuka jalan untuk peran-peran horor selanjutnya dalam kariernya.
Salah satu momen berkesan bagi Ali adalah bekerja dengan almarhum Yayu Unru. Ia merasa banyak belajar dari kedisiplinan dan totalitas sang aktor, yang menjadi inspirasi besar bagi pengembangan kemampuan aktingnya.
Aktor kelahiran Surakarta ini juga menceritakan tantangannya selama syuting yaitu menjalani proses make up prostetik yang memakan waktu hingga 3-4 jam dan sulitnya memakai soft lens.
"Tantangannya cukup berat, terutama dengan penggunaan soft lens yang membuat tidur menjadi sulit, apalagi jika syuting berlangsung hingga malam. Prosesnya juga cukup merepotkan karena harus melepas dan memasang soft lens berkali-kali," tambah Ali.
Sementara itu, Rizky Hanggono, yang berperan sebagai Gani, kepala keluarga di film ini, mengaku bahwa perannya penuh tantangan emosional.
"Sebagai suami dan ayah, saya pikir banyak orang bisa relate dengan konflik di film ini. Kadang kita merasa kenal keluarga kita, tapi tiba-tiba dihadapkan dengan situasi tak terduga," jelasnya.
Proses membangun chemistry dengan Taskya Namya sebagai Gina dan Ali Fikry pun menjadi kunci penting dalam menciptakan dinamika yang kuat dalam film ini.
"Kami memulai dengan reading, mengenal karakter masing-masing, dan menyambungkan emosi sesuai kebutuhan cerita," ujar Rizky.
Rizky Hanggono juga berbagi bahwa perannya sebagai Gani dalam film Bayang-bayang Anak Jahanam memiliki kedalaman emosional yang mendalam. Ia merasa terhubung dengan karakter Agni yang diperankan oleh Ali Fikry, terutama karena usia karakter tersebut hampir sama dengan anaknya di dunia nyata.
Hubungan emosional ini membuat Rizky mampu menggambarkan konflik batin seorang ayah yang dihadapkan pada situasi sulit, menjadikan performanya terasa kuat dan dapat menyentuh hati penonton.
Film Bayang-bayang Anak Jahanam menghadirkan horor yang tidak hanya menyeramkan tetapi juga menyentuh emosi dengan menggambarkan perjuangan cinta dan pengorbanan keluarga.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Januari 2025. Jangan lupa saksikan dan rasakan ketegangan serta emosi mendalam yang akan menguji keberanian Anda! (Z-1)
Lagu Sikilku Iso Muni dibawakan langsung oleh dua aktor utama film Na Willa, yakni Luisa Adreena dan Azamy Syauqi.
The King's Warden sendiri merupakan sebuah drama sejarah atau sageuk yang mengangkat kisah emosional Raja Danjong, raja keenam dari Dinasti Joseon yang penuh dengan intrik politik.
Leo Pictures perkenalkan 10 aktor baru hasil online casting untuk film Jangan Buang Ibu. Simak daftar pemain dan perjalanan sukses Saputra Kori di sini.
Rio Dewanto menegaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang agar pesan dan ceritanya dapat dicerna dengan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam film Jangan Buang Ibu, Nirina Zubir bertransformasi secara drastis untuk memerankan karakter Ristiana melalui tiga fase usia yang berbeda.
Bagi Reza Rahadian, bergabung dalam jagat sinema Suzzanna merupakan penantian yang cukup panjang.
Ali, yang berperan sebagai Adi, adalah satu dari tiga bersaudara yang menjadi biang dari rentetan teror mistis yang menghantui desa tempat mereka tinggal.
Mereka ialah Direktur Business and Property Development PT Summarecon Agung Syarif Budiman dan Herman Nagaria
"Mungkin kesulitannya waktu itu karena waktu kita ngisi suara belum ada gambarnya kali ya. Soalnya kita biasanya kalo dubbing film itu kita ngelihat gambarnya."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved