Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM Racun Sangga menghadirkan cerita horor psikologis yang mendalam, diwarnai perjuangan emosional dan fisik dua karakter utama, Maya dan Andi.
Fredericka Cull dan Fahad Hydra berbagi pengalaman mereka saat mempersiapkan diri memerankan pasangan yang menghadapi tekanan berat akibat ancaman santet Racun Sangga dalam wawancara ekslusif bersama Media Indonesia, Jumat (22/11).
Fredericka Cull menjelaskan untuk memerankan karakter Maya, ia diberikan waktu dua bulan untuk melakukan berbagai persiapan intensif. Proses ini mencakup membaca naskah, riset bersama penulis, dan bertemu langsung dengan Maya yang asli.
"Saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Maya yang asli beberapa kali. Saya memastikan untuk mengetahui secara baik apa yang dirasakan seorang Maya lewat cerita langsung dengannya, sehingga detail yang saya tampilkan adalah hasil dari riset mendalam," ujar Fredericka.
Selain itu, ia dibantu acting coach yang mendukung pengembangan karakternya dan pelatih dialek untuk mempelajari Bahasa Banjar, yang digunakan dalam beberapa dialog di film ini.
"Kami juga dibantu dengan pelatih dialek karena kebetulan film ini ada Bahasa Banjar-nya. Semua ini membantu saya mendalami karakter Maya," tambahnya.
Fahad Hydra, yang memerankan karakter Andi, mengakui perannya membawa tantangan besar. Karakter Andi digambarkan sebagai sosok yang mengalami perubahan drastis, dari kondisi sehat hingga terpuruk akibat penyakit misterius yang dipicu oleh Racun Sangga.
"Karakter Andi ini cukup berat buat aku karena dinamis. Aku harus memperlihatkan bagaimana dia saat masih sehat hingga akhirnya sakit parah," jelas Fahad.
Untuk mendalami perannya, Fahad melakukan diskusi mendalam dengan Maya yang asli, yang merupakan istri Andi. Ia menggali detail tentang kehidupan Andi, mulai dari masa sehatnya hingga penderitaan yang dialaminya.
"Bertemu dengan Maya yang asli memberi aku banyak informasi soal bagaimana suaminya dulu. Itu sangat membantu, ditambah lagi dengan proses reading dan pengalaman saat syuting," ujarnya.
Salah satu pengalaman paling berat adalah memerankan Andi di saat-saat terburuknya, dengan tubuh penuh luka yang divisualisasikan secara nyata selama proses syuting.
"Saat syuting, aku tampil dengan kondisi penuh luka. Itu membuat aku makin bisa mendalami bagaimana tersiksanya Andi ini," kata Fahad.
Fredericka dan Fahad sepakat bahwa memerankan karakter berdasarkan kisah nyata memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menghormati pengalaman emosional dan fisik para korban.
Proses riset dan pendalaman karakter menjadi kunci bagi keduanya untuk memberikan performa yang otentik di layar. (Z-1)
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved