Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA perfilman Indonesia kembali menghadirkan sebuah karya yang mengangkat sisi gelap budaya lokal.
Racun Sangga adalah film horor karya kolaborasi terbaru antara produser Sunil Soraya dan sutradara Rizal Mantovani.
Sebelumnya, keduanya sukses bekerja sama dalam film-film populer seperti 5 cm (2012), Supernova (2012), dan Eiffel I’m in Love 2 (2018).
Dalam film ini, Sunil dan Rizal menghidupkan kisah menyeramkan tentang pasangan suami istri yang menjadi korban santet racun sangga khas Kalimantan yang menawarkan cerita yang berbeda dari horor pada umumnya.
Mengadaptasi kisah nyata, Racun Sangga mengisahkan Maya (Fredericka Cull) dan Andi (Fahad Hydra), pasangan yang menghadapi serangkaian teror setelah rumah tangga mereka menjadi sasaran dari ritual santet tersebut.
Film ini tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga mengeksplorasi konflik emosional dan dinamika hubungan yang terkoyak oleh kekuatan gelap.
Dalam wawancara eksklusif bersama Media Indonesia, Jumat (22/11), kedua pemeran utama berbagi cerita tentang keterlibatan mereka dalam proyek film ini, riset yang mereka lakukan, dan tantangan memerankan karakter yang terinspirasi dari kisah nyata.
Ketika ditanya apa yang membuat mereka tertarik untuk bergabung dengan proyek ini, Fredericka Cull menjelaskan bahwa kesempatan untuk memerankan tokoh nyata merupakan pengalaman baru yang sangat menantang.
"Yang membuat aku tertarik karena ini diangkat dari kisah nyata. Sebelumnya, aku belum pernah memerankan cerita dari tokoh asli, dan itu menjadi tantangan bagi seorang aktor untuk memerankan seseorang yang masih hidup," ungkap Fredericka.
Selain itu, ia menyoroti keunikan cerita Racun Sangga yang tidak melibatkan hantu, tetapi mengusung elemen horor yang berfokus pada psikologi.
"Racun Sangga ini adalah santet dari Kalimantan yang beda dari cerita santet lain. Ini horor tanpa hantu yang lebih banyak diproduksi saat ini, jadi menarik buatku karena dia ini psychological horror," tambah Fredericka
Fahad Hydra, yang memerankan tokoh Andi, menggemakan pendapat Fredericka. Ia mengaku tertarik karena film ini menawarkan elemen-elemen baru yang jarang ditemukan dalam cerita horor.
"Film ini berbeda karena banyak unsur baru yang jarang diangkat dalam horor. Terornya sangat mengganggu, tidak hanya secara fisik tapi juga psikis," ujarnya.
Salah satu keunikan Racun Sangga adalah akurasi cerita yang didasarkan pada pengalaman nyata.
Untuk memahami latar belakang santet Racun Sangga, Fredericka dan Fahad melakukan riset mendalam dengan korban asli dan penulis skenario, yang merupakan warga asli Banjarmasin, Kalimantan.
"Kami langsung berdiskusi dengan korban aslinya dan penulisnya, yang kebetulan berasal dari Kalimantan. Dari sana, kami belajar tentang tahap-tahap Racun Sangga dan tujuannya, yang sering kali untuk memisahkan rumah tangga," jelas Fredericka.
Fahad menambahkan riset ini membuka mata mereka tentang kompleksitas dan dampak besar santet ini terhadap para korban, baik secara fisik maupun psikologis.
"Santet ini tidak hanya menyerang tubuh bagian dalam, tetapi juga luar. Dari riset ini, kami semakin paham bahwa teror yang diciptakan Racun Sangga sangat merusak," katanya.
Dengan narasi yang kuat, akting mendalam, dan latar belakang budaya yang otentik, Racun Sangga siap menjadi salah satu film horor yang paling dinantikan tahun ini. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 12 Desember 2024. (Z-1)
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa MERCY dirancang untuk memadukan ketegangan cerita dengan pendekatan visual berbasis layar digital atau Screenlife.
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Fredericka Cull mengakui mendalami karakter Maya membawa dampak besar pada dirinya. Proses penggalian emosi dan memahami penderitaan Maya sering kali mengganggu kondisi mentalnya sendiri.
Fredericka Cull menjelaskan untuk memerankan karakter Maya, ia diberikan waktu dua bulan untuk melakukan berbagai persiapan intensif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved