Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Faradina Mufti membagikan pengalamannya menjadi seorang ibu sekaligus menjalanibagikan pengalaman jadi seorang ibu sekaligus berkarier di dunia film.
Faradina mengungkapkan, sebelum menikah, dirinya terbiasa dengan mobilitas yang tinggi, selalu mandiri dalam melakukan segala hal. Namun, setelah menikah dan menjadi seorang ibu, segalanya berubah.
Faradina mengaku merasa harus memperhatikan kesehatan dan kondisi fisiknya yang mungkin tertentu, serta tidak dapat terlibat dalam proyek film karena tidak memungkinkan bagi ibu hamil.
Baca juga : Faktor Signifikan yang Membuat Anak Bahagia
"Aku tuh tidak bisa berdiam diri, karena memang dari sebelum menikah aku selalu nyetir sendiri, kalau ada kerjaan pergi sendiri, kemanapun pergi sendiri, dan itu mobilitasnya lumayan tinggi banget," kata Faradina, dikutip Senin (25/3)
"Begitu menikah, aku tidak bisa ngapa-ngapain dengan artian harus menjaga kesehatan, kondisi fisik yang mungkin tertentu, dan tidak semua film bisa kan karena tidak mungkin ya ibu hamil," lanjutnya.
Meskipun pada awal kehamilan masih sempat melakukan syuting, setelahnya, kesempatan kerja mulai berkurang drastis.
Baca juga : Emily Blunt Rehat Sejenak dari Dunia Akting
Faradina merasa harus mengikhlaskan untuk istirahat selama kehamilan demi pertumbuhan anaknya. Bahkan setelah melahirkan, keputusan untuk tidak mengambil pekerjaan juga didasari oleh keinginannya untuk tidak meninggalkan pertumbuhan anaknya sedikitpun.
"Walaupun memang pas pertama awal kehamilan masih sempet shooting, sampai aku bilang kayanya masih bisa deh sebelum perutnya kelihatan cuma Tuhan berkehendak lain ya kayanya, tidak ada sama sekali yang dapet kerjaan, padahal ada tuh yang kaya ngajak projek ini itu, tiba-tiba tidak jadi. Jadi, yaudah kayanya harus ikhlas nih untuk istirahat selama kehamilan, mau gamau berkegiatan di rumah," ungkapnya.
Meskipun begitu, Faradina masih merasa tertarik dengan kesempatan kerja yang mungkin muncul. Namun, dia tidak mau melakukannya setengah-setengah.
Baca juga : Zero-Dose Imunisasi Anak Ditargetkan Berkurang 25% pada 2024
Baginya, jika dia memutuskan untuk kembali bekerja, dia ingin memilih proyek yang benar-benar layak dari segala sisi dan aspek.
Peran suami Faradina juga sangat besar dalam mendukungnya, namun dia juga menegaskan pentingnya untuk tidak mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.
"Balik lagi peran suami sangat besar, dia sangat mendukung, tapi tidak mau keinginan aku mengurus anak jadi terbengkalai gitu. Katanya jangan terburu-buru, pikirin dulu aja, kesempatan akan selalu ada kok, sabar aja. Dia selalu kaya gitu," ujar Faradina.
Dengan begitu, meskipun merasa tertarik untuk kembali bekerja, Faradina masih harus mempertimbangkan dengan matang apakah keputusan tersebut memungkinkan untuk dilakukan tanpa mengorbankan waktu bersama keluarga dan anak-anaknya yang masih membutuhkan perhatian ekstra. (Ant/Z-1)
Aktris Della Dartyan dan Faradina Mufti menilai peningkatan produksi film Indonesia belakangan ini menjadi bukti kemajuan ekosistem industri perfilman Tanah Air.
Menurut Rio Dewanto, tantangan utama dalam proyek ini adalah menggambarkan karakter yang berada dalam keadaan bingung, hanya melalui ekspresi wajah dan gerakan tubuh.
Siksa Kubur tampil sebagai film Indonesia satu-satunya di program Mad MaxX BIFAN 2024.
Film Siksa Kubur yang dibintangi Faradina diputar di BIFAN 2024 yang berlangsung di Bucheon, Korea Selatan, 4 - 14 Juli 2024.
Faradina memainkan peran sebagai Sita. Sita adalah seorang anak yang mencari jawaban besar atas pertanyaan besar dalam hidupnya.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved