Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Hanung Bramantyo mengungkapkan penggarapan film Miracle in Cell No 7, yang merupakan remake atau adaptasi dari film berjudul sama asal Korea Selatan, lebih menantang dari film-film adaptasi yang pernah dia garap sebelumnya.
Menurut dia, penggarapan adaptasi atau remake dari film membawa beban yang lebih berat sebab penonton sudah mengetahui alur cerita, aktor, dan visualisasi dari film aslinya. Apalagi, Miracle in Cell No 7 termasuk film yang sukses dan populer di seluruh dunia dan telah di-remake di beberapa negara.
"Saya mengadaptasi dari film. Kalau film kan orang lihatnya gambar, jelas. Jadi aktornya seperti apa dan adegannya seperti apa, itu tergambar jelas," kata Hanung saat konferensi pers, dikutip Minggu (4/9).
Baca juga: Vino G Bastian Sebut Miracle in Cell No 7 Kisahkan Cinta Seorang Ayah
"Kalau novel, orang berbeda persepsi kan wajar. Minke (tokoh di Bumi Manusia), misalnya. Sepuluh pembaca di Indonesia pasti mereka membayangkan 10 Minke di kepalanya. Tapi film kan enggak, gambarnya jelas. Artinya kalau saya tidak lebih bagus dari itu (film sebelumnya), habislah," sambungnya.
Hanung menambahkan, berbeda dengan film adaptasi novel, pendapat mengenai film remake dari film yang sudah ada akan sulit didebat.
"Kalo dari novel kan, lebih bagus filmnya daripada novelnya, atau lebih bagus novelnya daripada filmnya. Itu kan debatable, karena satu teks satunya lagi gambar, kalau ini kan sama-sama gambar," ujar Hanung.
"Ibaratnya membandingkan bakso di Ampera dan bakso di Pasar Minggu enakan mana? Ya sama-sama bakso jadi lebih berat. Tapi kalau bandingin bakso sama pempek kan, yang bandinginnya gimana," lanjutnya.
Meski demikian, Hanung bersyukur dirinya dikelilingi tim produksi yang sangat kompeten dan dibantu oleh sinematografer Yunus Pasolang dan art director Frans Faat sehingga film dapat dikemas dengan baik.
"Mereka dua insinyur visual yang menurut saya luar biasa. Teman-teman bisa melihat trailer-nya seperti apa, kekuatan sinematik itu ternyata penting sekali. Saya beruntung bisa dikawani oleh Yunus dan Frans," tutur Hanung.
Tidak lupa, Hanung juga memuji para aktor yang bermain dalam film garapannya itu.
Menurut Hanung, para aktor mulai dari Vino G Bastian, Indro Warkop, Bryan Domani, Indra Jegel, Tora Sudiro, dan yang lainnya mampu memerankan karakter mereka dengan baik.
"Pemain-pemain ini buat saya luar biasa dan mereka menulis sendiri skenario di lapangan. Jadi saya terbantukan. Mereka menulis sendiri skenario di lapangan dan mereka memainkan itu. Jadi saya sekedar menaruh kamera aja sudah jadi," tutup Hanung.
Film Miracle in Cell No 7 siap tayang di bioskop mulai 8 September 2022. (Ant/OL-1)
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
"Kita compare medium yang 1,5 jam (film Ipar adalah Maut) sama medium yang berpuluh-puluh episode, jadi pasti ada sisi Aris yang tidak terlihat di film akan muncul juga di sini (series),"
Deva Mahenra masih didapuk untuk memerankan Aris seperti di film. Sementara pemeran Nisa dalam series ini adalah Tatjana Saphira dan Rani diperankan oleh Nicole Parham
“Harapan aku, pada punya energi ya untuk nonton, karena kayak naik roller coaster, semua bergejolak. Bagi kamu yang mengalami pengkhianatan, dibohongi, agar film ini menjadi suara buat kamu,”
FILM La tahzan: Cinta, Dosa, Luka garapan sutradara Hanung Bramantyo menceritakan drama sebuah keluarga dengan isu perselingkuhan. Dibintangi oleh Deva Mahenra, Marshanda, dan Ariel Tatum.
Gowok adalah sebutan untuk perempuan dalam kebudayaan Jawa yang disewa untuk mengajarkan perihal rumah tangga dan seksualitas kepada laki-laki berusia remaja atau sebelum menikah
SINEAS Hanung Bramantyo merilis film terbarunya, Gowok: Kamasutra Jawa. Secara garis besar, film yang dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 5 Juni 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved