Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
ARIE Kriting dan Indah Permatasari membagikan pengalaman mereka menjalani ibadah puasa jelang bulan Ramadan kedua bersama, setelah pasangan itu menikah, Januari tahun lalu.
Ketika momen sahur, Arie mengaku dirinya kerap memasak dan menyiapkan makanan mengingat istrinya, Indah, sulit menghilangkan rasa kantuk saat harus bangun dari tidur pada waktu pagi buta.
"Sahur itu biasanya malah saya yang masak, soalnya kalau Nona itu dia biasanya bangun sahur bisa, cuma dia biasanya kalau bangun sahur dia ngantuk banget orangnya, ngantukan. Jadi biasanya malah saya yang masakin," kata Arie saat ditemui wartawan di Jakarta, ditulis Jumat (1/4).
Baca juga: Dhini Aminarti Ajak Berbuat Kebaikan untuk 1.000 Santri dan UMKM
Menu yang disantap untuk sahur, kata Arie, merupakan masakan dan minuman yang mudah dibuat seperti nasi putih, mie instan, ikan goreng, telur goreng, sayur bening, hingga teh manis hangat.
Arie sendiri lebih memilih memasak menu sederhana untuk sahur ketimbang memasak makanan berat seperti rendang dan opor yang membutuhkan persiapan waktu cukup lama.
"Kalau sahur masak rendang kayaknya agak berat ya, agak-agak capek, opor gitu kayaknya enggak perlu ya. Kadang-kadang sih paling goreng ikan, goreng telur, gitu-gitu masih bisalah ke-handle sama saya," ujarnya.
Sementara untuk menu berbuka puasa, Arie mengaku dirinya tidak bisa meminum minuman serba dingin, ia lebih memilih minuman hangat seperti teh manis hangat.
Selain itu, Arie juga memilih makanan manis sebagai pelengkap seperti cake dan kurma dalam jumlah ganjil.
Sementara itu, Indah mengatakan Ramadan kali ini lebih istimewa karena dirinya sudah menjalani kehidupan rumah tangga. Menjalani ibadah puasa bersama suami, kata Indah, lebih terasa hikmat.
Meski begitu, Indah juga mengaku dirinya masih khawatir dengan situasi pandemi covid-19 yang masih berlangsung hingga Ramadan tahun ini ia berpikir dua kali apakah akan melaksanakan salat tarawih di luar rumah.
"Yang paling dirindukan sih sebenarnya situasinya, keadaan ketika sebelum pandemi itu lebih syahdu dan bisa lebih leluasa ngapa-ngapain, misalnya jalan ke tarawih segala macam. Kalau sekarang kan jadi lebih worry," kata Indah.
Ia mengatakan tahun ini belum mematangkan rencana apakah akan mudik ke kampung halaman atau tidak, bergantung perkembangan situasi pandemi.
"Keluargaku sebenarnya ada sebagian di sini juga, ada juga di Makassar. Jadi dilihat situasinya saja. Kalau misalkan memungkinkan untuk pulang kampung, ya, pulang kampung. Kalau enggak, ya, enggak," tuturnya.
Terkait keberlangsungan bulan Ramadan, Arie berharap dirinya bisa meningkatkan serta memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah. Ia juga berharap para pedagang makanan diperbolehkan berjualan sehingga mereka bisa mendapatkan rezeki. (Ant/OL-1)
Para tamu Ramadan Fusion Feast di Hotel Ciputra Jakarta dapat menikmati beragam hidangan khas Nusantara, Timur Tengah, Arab, Western, lengkap dengan aneka dessert manis.
Tahun ini, The Papandayan kembali mengajak masyarakat Bandung menikmati kehangatan tersebut melalui Pasar Ramadan di Pago Restaurant
Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan memperkuat pengawasan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tahun ini, Imlek dirayakan berdekatan dengan bulan suci Ramadan, menghadirkan suasana kebersamaan dua tradisi besar, masyarakat Tionghoa dan umat Muslim.
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Puasa justru menjadi momentum terbaik untuk terapi lambung karena organ pencernaan mendapatkan waktu istirahat.
Ketidaksiapan mental sering kali memicu kecemasan saat menghadapi perubahan pola hidup selama sebulan penuh saat Ramadan.
Pemicu utama maag atau dispepsia adalah naiknya asam lambung akibat pola makan yang tidak terjaga.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Oahraga yang dilakukan sesaat setelah sahur sangat tidak dianjurkan. Hal ini karena aktivitas fisik di pagi hari saat berpuasa dapat memicu dehidrasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved