Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ketimpangan yang Mengkhianati Pancasila: Ketika Usaha tidak Selalu Menentukan Hasil

Filza Khalisha, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
19/12/2025 16:26
Ketimpangan yang Mengkhianati Pancasila: Ketika Usaha tidak Selalu Menentukan Hasil
Filza Khalisha(DOK PRIBADI)

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar nasihat klasik: “Jangan berkecil hati, tetap berusaha. Takdir tak ada yang tahu.”

Kalimat ini terdengar bijak dan menenangkan. Namun, jika kita selisik lebih dalam, nasihat tersebut tidak selalu mampu menjawab kompleksitas realitas sosial yang melingkupi masyarakat Indonesia. Ada kesenjangan besar antara idealisme 'usaha menentukan hasil' dengan kenyataan bahwa titik awal setiap orang berbeda, bahkan sangat timpang.

Secara sederhana, bagaimana mungkin seseorang menyamakan peluang antara anak dari keluarga berkecukupan dengan mereka yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem? Ketika ada yang berkata, “Mereka miskin karena tidak berusaha,” pernyataan tersebut menjadi bias, menafikan struktur sosial yang membuat sebagian orang tidak pernah memiliki kesempatan layak sejak awal kehidupannya.

Di kota-kota besar ada para pemulung, buruh kasar, pekerja informal yang hidup dari hari ke hari. Apakah benar mereka ingin hidup dalam kondisi tersebut? Tentu tidak. Namun, pilihan mereka kerap terbatas, bahkan hampir tidak ada.

Sering kali, muncul anggapan bahwa orang miskin adalah mereka yang enggan bersekolah atau malas bekerja. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya, mereka adalah korban dari kurangnya akses pendidikan sejak kecil. Banyak dari mereka tidak mengenyam bangku sekolah bukan karena tidak mau, tetapi karena orangtua tidak mampu membiayai.

Ketika hak dasar untuk belajar saja tidak dapat diraih, bagaimana mungkin seseorang dapat 'berjuang' setara dengan mereka yang sejak awal mendapat akses pendidikan, gizi cukup, dan lingkungan yang mendukung?.

Peran Pancasila dalam Menjamin Kesempatan yang Setara bagi Seluruh Indonesia

Ideologi Pancasila, terutama sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa negara dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk memastikan setiap warga memperoleh kesempatan yang layak untuk berkembang. Kedua sila tersebut tidak hanya menjadi pedoman etis, tetapi juga menuntut terciptanya tatanan sosial yang adil bagi semua orang.

Sila kedua mengandung pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat sejak lahir seperti akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan dasar adalah hak kemanusiaan yang harus dijamin. Dan sila kelima menegaskan pentingnya pemerataan kesempatan sebagai bagian dari keadilan sosial.

Keadilan dalam perspektif Pancasila bukan sekadar pembagian hasil yang merata, melainkan juga penyediaan peluang yang setara. Dari kedua sila Pancasila itu mengingatkan bahwa ketimpangan bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan yang harus direspons melalui kebijakan negara.

Usaha tak Cukup: Pentingnya Akses dan Pemerataan

Mengharapkan seseorang 'berjuang lebih keras' tanpa menyediakan akses yang adil sama saja seperti meminta dua pesepeda berpacu, namun satu bersepeda di lintasan datar, sedangkan yang lain harus melewati jurang terjal dan batu. Kenyataan menunjukkan sistem sosial kita masih jauh dari kesetaraan. Dalam struktur yang tidak merata, usaha seseorang tidak selalu sebanding dengan hasil yang didapat.

Artinya, penting untuk kita mengubah cara pandang. Kemiskinan bukan semata kegagalan individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan solusi kolektif. Ketika seseorang mengatakan 'berusaha pasti berhasil', kalimat ini mengandung harapan, tetapi sekaligus menutup mata terhadap fakta bahwa sebagian orang bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk memulai usaha tersebut.

Pancasila mengingatkan kita agar tidak terjebak pada cara pandang individualistis. Sebaliknya, bangsa ini dibangun atas dasar gotong royong, sebuah nilai yang menolak ketimpangan sosial dan mendorong pemerataan kesempatan. Jika kita ingin benar-benar mengamalkan Pancasila, maka tugas kita bukan hanya menyuruh orang lain berjuang, melainkan juga memastikan mereka mempunyai jalur untuk berjuang.

Pada akhirnya, tidak semua orang memulai hidup dari garis start yang sama. Ada yang berlari dari titik aman, ada yang dari kosong, dan ada pula yang memulai dari titik minus. Mengadili mereka atas dasar 'kurang usaha' merupakan bentuk ketidakpekaan sosial. Pancasila mengajak kita melihat manusia secara utuh, tidak hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari kondisi dan hambatan yang mereka hadapi sejak awal.


Sumber referensi

Dhanani, S., & Islam, I. (2000). Poverty, inequality and social protection: lessons from the Indonesian crisis. UNSFIR.
Rahayu, A. S. (2017). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Bumi Aksara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik