Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, konsumsi masyarakat selama momentum lebaran 2026 cenderung tertahan, yang mencerminkan sikap kehati-hatian masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Indikasi itu, menurut Wijayanto, terlihat dari penurunan jumlah pemudik serta tingkat okupansi hotel di sejumlah daerah tujuan wisata dibandingkan periode Lebaran sebelumnya.
“Dari jumlah pemudik yang menurun dan occupancy rate hotel di beberapa kota (termasuk Yogya) yang menurun, terasa sekali kali ini masyarakat sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya,” kata Wijayanto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis (26/3).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat saat Lebaran tahun ini lebih bersifat selektif. Selain itu, hasil survei Bank Indonesia memperkuat indikasi tersebut.
Pada Februari 2026, masyarakat tercatat hanya membelanjakan sekitar 72 persen dari pendapatannya, sementara 11 persen digunakan untuk membayar cicilan dan sekitar 17 persen ditabung.
“Proporsi yang ditabung termasuk tertinggi pascaCOVID-19, sementara yang dikonsumsi dan digunakan untuk membayar cicilan justru yang paling rendah. Ini menunjukkan masyarakat kita sangat cautious saat ini, khawatir dengan prospek pendapatannya di masa mendatang,” tuturnya.
Meski demikian, Wijayanto memandang momentum Lebaran tetap memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional, terutama pada kuartal I 2026.
Ia menyebut hampir seluruh dampak ekonomi dari aktivitas mudik dan Lebaran tahun ini terserap pada kuartal I, sementara efek lanjutan pada kuartal II relatif terbatas.
“Ini lebih didominasi belanja oleh masyarakat daerah yang menerima dana dari para pemudik,” kata dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perputaran uang selama Lebaran tetap berperan dalam mendorong pemerataan ekonomi di daerah.
Diperkirakan sekitar Rp135 triliun hingga Rp145 triliun dana yang dibelanjakan pemudik mengalir ke daerah, baik dalam bentuk konsumsi langsung maupun transfer ke keluarga.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi perlambatan ekonomi pada periode setelah Lebaran. Hal ini seiring berakhirnya dorongan musiman konsumsi serta sejumlah risiko eksternal dan domestik.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II hingga IV 2026 berpotensi lebih moderat. Ini dipengaruhi antara lain oleh berakhirnya efek Lebaran, potensi gangguan produksi pangan akibat El Nino, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta tekanan inflasi impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
"Mulai kuartal III 2026, saya perkirakan mayoritas pemda akan mengalami kesulitan dana akibat pemangkasan transfer darah, hal ini akan menyebabkan peran daerah sebagai motor pertumbuhan ekonomi akan tergerus," tambahnya. (Ant/P-3)
Ia menambahkan, pertumbuhan sektor riil bahkan melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga menopang kinerja ekonomi secara keseluruhan.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan dampak stimulus yang digelontorkan pemerintah akan terlihat pada triwulan IV 2025.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun 2025 menjadi sebuah paradoks dari daya beli yang sedang menurun.
"Harapan satu-satunya adalah memberikan booster terhadap daya beli melalui kebijakan yang pro kepada daya beli,”
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Wonosobo, Jawa Tengah, mengakui adanya penurunan daya beli masyarakat daerah itu sejak awal Bulan Ramadan ini.
Di tengah pelemahan daya beli dan perubahan perilaku konsumen pascapandemi, geliat pasar hunian premium justru menunjukkan arah baru.
Pemerintah sebaiknya fokus kepada optimalisasi pemungutan pajak, melalui peningkatan kepatuhan dan perbaikan mekanismenya.
ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12% memberi sinyal bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki pondasi yang kuat.
Gerakan Belanja di Indonesia Aja (BINA) didorong dipadukan dengan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2025 sebagai upaya meningkatkan daya beli masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved