Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Perkuat Ketahanan Pangan, Indonesia Amankan Pasokan 3,5 Juta Ton Kedelai AS per Tahun

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 20:32
Perkuat Ketahanan Pangan, Indonesia Amankan Pasokan 3,5 Juta Ton Kedelai AS per Tahun
Ilustrasi--Pekerja memindahkan tahu berbahan kedelai impor di Sentra Industri Tahu LS, Candisari, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (5/7/2025).(ANTARA/Aprillio Akbar)

PEMERINTAH Indonesia resmi memperkuat kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) melalui kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia-AS. 

Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah komitmen pasokan kedelai asal 'Negeri Paman Sam' sebanyak 3,5 juta ton per tahun untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

Langkah strategis ini mendapat dukungan penuh dari pelaku industri. Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo), Hidayatullah Suralaga, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan pondasi penting bagi stabilitas stok kedelai di tanah air.

“Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional, dan menjaga kelancaran distribusinya,” ujar Hidayatullah dalam keterangan resmin di Jakarta, Kamis (26/2).

Menjamin Kepastian Stok dan Hilirisasi

Hidayat mengungkapkan bahwa AS selama ini memang menjadi mitra utama Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kedelai. Dengan adanya struktur kerja sama yang lebih formal melalui ART, program ketahanan pangan nasional diharapkan menjadi lebih kokoh.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor kedelai Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 2,56 juta ton, ketika 90% dari jumlah tersebut berasal dari AS. 

Dengan kebutuhan nasional yang berada di kisaran 2,7 juta hingga 2,9 juta ton per tahun, komitmen pasokan hingga 3,5 juta ton ini memberikan ruang bagi peningkatan konsumsi protein nabati masyarakat.

Akindo memproyeksikan tambahan pasokan ini dapat diserap secara optimal melalui berbagai program strategis pemerintah, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Selain itu, melimpahnya stok kedelai juga membuka peluang besar bagi penguatan industri hilir dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” imbuh Hidayat.

Dorongan Ekspor Produk Olahan

Kepastian bahan baku ini diharapkan memicu ekspansi pasar ekspor untuk produk olahan kedelai khas Indonesia, seperti tempe, tahu, susu kedelai, hingga kecap. Dengan kapasitas produksi yang meningkat, daya saing produk lokal di pasar internasional pun diyakini akan semakin kuat.

Meski menyambut baik kerja sama ini, Akindo juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perdagangan global dan domestik. 

Hidayat berharap kesepakatan dagang dengan AS tidak mengganggu hubungan kerja sama yang telah terjalin antara importir swasta dengan pemasok dari negara lain.

Di sisi lain, Akindo mengingatkan agar kerja sama internasional ini tetap berjalan selaras dengan program peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Hal ini krusial agar target pemerintah dalam mencapai swasembada pangan tetap berada di jalur yang tepat. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya