Mata Uang Rupiah kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan pertengahan pekan ini, Rabu, 28 Januari 2026. Setelah sempat tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 pada pekan sebelumnya, niali tukar rupiah hari ini berhasil rebound (bangkit) dan bergerak di zona hijau.
Di pasar spot antarbank Jakarta, Rupiah dibuka menguat di kisaran Rp16.717 - Rp16.730 per Dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring dengan ambruknya Indeks Dolar AS (DXY) ke level terendah dalam empat tahun terakhir (di kisaran 96.20), dipicu oleh spekulasi pasar bahwa The Federal Reserve akan mengambil langkah dovish (lunak) pada pertemuan FOMC mendatang.
Tabel Kurs Referensi Antarbank (Spot Market)
Berikut adalah data nilai tukar mata uang utama dunia terhadap Rupiah berdasarkan pantauan pasar spot pukul 09:30 WIB:
| Mata Uang | Simbol | Kurs Tengah (Estimasi) | Tren Harian |
|---|---|---|---|
| Dolar Amerika Serikat | USD | Rp 16.733 | ▼ Melemah (Rupiah Menguat) |
| Dolar Singapura | SGD | Rp 13.211 | ▼ Stabil |
| Euro | EUR | Rp 20.020 | ▲ Menguat Tipis |
| Yen Jepang | JPY | Rp 109,18 | ▼ Melemah |
| Dolar Australia | AUD | Rp 11.661 | ▲ Menguat |
Info Kurs Jual-Beli di Bank Besar (BCA & Mandiri)
Bagi Anda yang memiliki kebutuhan transaksi valas hari ini, berikut adalah referensi kurs e-Rate dan Special Rate dari dua bank BUMN dan swasta terbesar:
| Bank | USD (Dolar AS) | SGD (Dolar Singapura) | ||
|---|---|---|---|---|
| Beli (Nasabah Terima) | Jual (Nasabah Bayar) | Beli | Jual | |
| BCA (e-Rate) | Rp 16.662 | Rp 16.722 | Rp 13.211 | Rp 13.257 |
| Bank Mandiri (Special Rate) | Rp 16.710 | Rp 16.740 | Rp 13.225 | Rp 13.256 |
*Data diambil pukul 09:45 WIB. Kurs dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Analisis Pasar: Mengapa Rupiah Menguat?
Penguatan Rupiah hari ini didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang positif:
- Faktor Eksternal (Sell America): Investor global sedang melakukan aksi jual Dolar AS secara masif. Pasar mengantisipasi kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang diprediksi akan menahan atau bahkan memangkas suku bunga lebih cepat guna menghindari resesi, membuat aset Emerging Market seperti Rupiah kembali menarik.
- Intervensi Bank Indonesia (BI): Gubernur BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), yang sukses meredam volatilitas liar pekan lalu.
- Arus Modal Masuk (Inflow): Terpantau adanya aliran modal asing kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia karena imbal hasil (yield) yang kompetitif di angka 6,8% - 7,0%.
(E-3)
