Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

BI Terus Intervensi Jaga Nilai Tukar Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

Insi Nantika Jelita
27/1/2026 18:15
BI Terus Intervensi Jaga Nilai Tukar Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (ketiga dari kiri) bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (ketiga dari kanan), dan para Deputi Gubernur (dari kiri) Aida S. Budiman, Doni P. Joewono, Juda Agung dan Filianingsih Hendarta memberikan pemapa(Antara Foto)

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bank sentral terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah tersebut ditempuh untuk meredam tekanan jangka pendek terhadap rupiah sekaligus memastikan pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.

Pada penutupan perdagangan Selasa (27/1), nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,08 persen ke level Rp16.768 per dolar AS.  Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini bersifat teknikal dan dipicu meningkatnya ketidakpastian global.

"Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar Asia, Eropa, dan Amerika," kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (27/1).

Di dalam negeri, BI melakukan intervensi di pasar tunai (spot) maupun domestic non-deliverable forward. Selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia juga mencermati perkembangan inflasi, khususnya inflasi inti yang tetap terjaga. 

Sementara itu, ia mengatakan tekanan inflasi yang bersumber dari harga pangan dinilai bersifat jangka pendek dan bergejolak (volatile food). Untuk mengatasinya, BI memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan.

Perry menegaskan, secara fundamental nilai tukar rupiah memiliki prospek menguat. Hal ini didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan membaik, serta imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik. 

"Nilai tukar secara fundamental akan menguat. Apa indikator fundamental? Inflasi yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang akan membaik," ucapnya. 

Dengan bauran kebijakan tersebut, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai tetap mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dari sisi moneter, BI menempuh kebijakan penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit.

Selain itu, sinergi kebijakan fiskal-moneter juga diperkuat melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta pemanfaatan sebagian kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia untuk mendukung pendanaan stimulus fiskal. (H-4)


 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya