Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Ekonomi Global Mulai Stabil di 2026, Asia Tetap Jadi Penopang Pertumbuhan

Ihfa Firdausya
22/1/2026 12:47
Ekonomi Global Mulai Stabil di 2026, Asia Tetap Jadi Penopang Pertumbuhan
Ilustrasi(Antara)

Memasuki awal 2026, lanskap ekonomi global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang lebih nyata dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tekanan inflasi di sejumlah negara utama mulai mereda, memberi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter secara bertahap. Di saat yang sama, arah kebijakan fiskal dan moneter global menjadi lebih terbaca, meski risiko geopolitik dan tantangan fiskal di negara maju masih membayangi.

Penurunan suku bunga yang berlangsung gradual, ditopang oleh kinerja korporasi yang relatif solid serta keberlanjutan investasi pada sektor-sektor peningkat produktivitas seperti kecerdasan buatan dan digitalisasi, menciptakan lingkungan global yang lebih kondusif bagi pengambilan risiko secara terukur. Dalam konteks ini, kawasan Asia dinilai tetap memiliki daya tarik kuat, terutama karena kekuatan permintaan domestik, fleksibilitas kebijakan, serta reformasi struktural yang terus berjalan di berbagai negara.

Dalam outlook pasar paruh pertama 2026 yang dirilis dari Hong Kong, Manulife Investment Management menilai bahwa kombinasi penurunan inflasi dan kebijakan moneter yang semakin akomodatif membuka peluang bagi investor untuk kembali mengambil risiko secara selektif, baik di pasar saham, obligasi, maupun portofolio multi-aset di Asia.

Dari perspektif makro, Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, menilai ekonomi global mulai bergerak menuju keseimbangan baru setelah periode volatilitas ekstrem. Menurutnya, bank sentral kini memiliki ruang lebih besar untuk mendukung pertumbuhan, seiring tekanan harga yang menurun. Meski ketidakpastian kebijakan dan geopolitik belum sepenuhnya hilang, arah kebijakan moneter global dinilai semakin dapat diprediksi, menciptakan iklim investasi yang lebih konstruktif.

“Menuju 2026, kondisi makroekonomi global terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya. Inflasi mulai turun di banyak negara besar, sehingga bank sentral dapat kembali focus mendorong pertumbuhan ekonomi daripada hanya menahan kenaikan Harga," ujar Shao melalui keterangan resmi, Kamis (22/1).

Asia, lanjut Shao, berada pada posisi yang relatif diuntungkan dari pelonggaran kebijakan global dan potensi pelemahan dolar AS, ditambah dengan karakter siklus ekonomi kawasan yang berbeda dari negara-negara maju. Perbedaan siklus inilah yang terus membuka peluang diversifikasi bagi investor global.

Dari sisi strategi multi-aset, Manulife melihat optimisme yang tetap dijaga secara disiplin. Preferensi terhadap saham masih sedikit lebih besar dibandingkan obligasi, sejalan dengan dukungan fiskal dan pelonggaran moneter. Namun, tingginya valuasi aset, dinamika inflasi, ketegangan geopolitik, serta perubahan struktural global menuntut pendekatan alokasi aset yang selektif dan adaptif. Untuk pendapatan tetap, obligasi berdurasi pendek dan peluang kredit terpilih di Asia serta pasar berkembang dinilai lebih menarik di tengah volatilitas imbal hasil jangka panjang.

“Memasuki tahun 2026, kami tetap sedikit lebih memilih saham dibandingkan dengan obligasi, pilihan yang didasarkan pada kinerja yang tangguh, pengeluaran fiskal yang mendukung, dan pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap," tutur Global Head of Multi-Asset Solutions, Senior Portfolio Manager, Head of Multi-Asset Solutions, Asia, Luke Browne.

Pada pasar saham Asia, prospek dinilai tetap positif menjelang paruh pertama 2026. Peningkatan visibilitas laba, dinamika mata uang yang lebih mendukung, serta masih rendahnya alokasi investor global ke saham Asia menjadi faktor penopang. Di luar Jepang, kinerja saham Asia sepanjang 2025 dinilai kuat, dan proyeksi pertumbuhan laba pada 2026–2027 masih memberikan dasar yang solid bagi valuasi.

Secara struktural, kejelasan kebijakan di China melalui Rencana Lima Tahun ke-15 mendorong sektor-sektor berbasis inovasi seperti kecerdasan buatan, energi baru, dan manufaktur canggih. Taiwan tetap memegang peran penting dalam ekosistem AI global, sementara negara-negara ASEAN mendapat dorongan dari diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, dan pertumbuhan permintaan domestik. India dan Korea Selatan juga dinilai menunjukkan perbaikan fundamental melalui kebijakan domestik dan reformasi tata kelola.

Di pasar pendapatan tetap, momentum positif obligasi Asia diperkirakan berlanjut hingga 2026. Penurunan suku bunga AS, berkembangnya pasar obligasi berimbal hasil tinggi di Asia, serta tren diversifikasi mata uang memperluas peluang investasi. Namun, perbedaan kebijakan, fundamental kredit, dan kondisi pasar antarnegara menegaskan pentingnya pengelolaan aktif dan manajemen risiko.

Dengan kombinasi stabilisasi ekonomi global, arah kebijakan yang lebih jelas, dan fondasi struktural Asia yang relatif kuat, kawasan ini dipandang tetap berperan sebagai sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang relevan bagi investor dalam menghadapi dinamika ekonomi global menuju 2026. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya