Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Purbaya: Rupiah Melemah ke Rp17.000 tak Terkait Spekulasi Indepedensi BI

Insi Nantika Jelita
19/1/2026 18:38
Purbaya: Rupiah Melemah ke Rp17.000 tak Terkait Spekulasi Indepedensi BI
Ilustrasi(Antara)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu oleh spekulasi pasar mengenai potensi terganggunya independensi Bank Indonesia (BI). Isu tersebut mencuat seiring wacana pengisian posisi Deputi Gubernur BI oleh Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono. Thomas diketahui merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, putra Biantiningsih Miderawati yang merupakan kakak kandung Presiden Prabowo Subianto.

Sementara, rupiah hari ini, pada perdagangan Senin (19/1) sore, ditutup melemah 68 poin ke level Rp16.955 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati angka psikologis Rp17.000 per dolar AS.

“Orang spekulasi independensinya (BI) akan hilang. Saya pikir tidak akan begitu,” ujar Purbaya di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (19/1).

Ia menegaskan, pergerakan nilai tukar rupiah pada dasarnya ditentukan oleh fundamental ekonomi. Menurutnya, selama fondasi ekonomi dijaga dengan baik, pelemahan rupiah bersifat sementara dan akan kembali menguat. 

“Nanti kalau begitu insaf, rupiahnya langsung menguat lagi, karena fondasi ekonominya kita jaga supaya semakin membaik ke depan. Pertumbuhan ekonomi juga akan semakin cepat,” katanya.

Bendahara Negara menjelaskan, upaya menjaga fondasi ekonomi dilakukan dengan berbagai upaya. Pertama, memastikan likuiditas sistem keuangan tetap memadai, yang telah disepakati untuk dijaga bersama oleh otoritas terkait. Kedua, mempercepat realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun agar mampu mendorong aktivitas ekonomi. 

"Dengan likuiditas yang cukup, sektor-sektor ekonomi diharapkan berjalan (optimal)," katanya.

Selain itu, pemerintah juga berfokus memperbaiki iklim investasi melalui pembentukan satuan tugas debottlenecking atau menghilangkan hambatan. Upaya ini, kata Purbaya, mencakup pembenahan sisi penawaran dan permintaan ekonomi, investasi, serta sinkronisasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil. 

Purbaya optimistis target pertumbuhan ekonomi 6% dapat dicapai. “Taget 6% itu tidak terlalu sulit. Tahun ini bisa, karena respon ekonomi terhadap stimulus memang cenderung agak lambat, sekitar beberapa bulan, (baru terlihat dampaknya),” ujarnya.

Ia menambahkan, indikasi pemulihan sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Aktivitas ekonomi pada Januari dinilai lebih bergairah dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Purbaya juga menyinggung kinerja pasar saham yang terus menguat. Menurutnya, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan. 

“IHSG naik bukan karena pemain pasar bodoh. Mereka orang-orang pintar. IHSG sekarang all time high di level 9.133,” katanya.

Ia menilai investor, termasuk investor asing, melakukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi ekonomi, prospek investasi, serta arah kebijakan pemerintah sebelum menentukan posisi. Hal tersebut tercermin dari arus modal asing yang tercatat positif dalam tiga bulan terakhir.

Dalam kesempatan sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae berpandangan, pelemahan rupiah merupakan salah satu risiko pasar yang harus dihadapi oleh industri perbankan. 

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah perlu dinilai secara individual oleh masing-masing bank sesuai dengan profil risikonya.

Ia menjelaskan, setiap bank akan melakukan asesmen termasuk melalui uji ketahanan (stress test) untuk mengukur sejauh mana tekanan yang ditimbulkan terhadap kinerja perbankan. 

"Tentu ada semacam stress test, di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu," ucapnya. 

Penilaian tersebut dilakukan secara rutin oleh perbankan, sejalan dengan pengawasan yang juga dilakukan oleh OJK. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik