Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Bank Indonesia: Rupiah Melemah karena Tekanan di Pasar Keuangan Dunia

Insi Nantika Jelita
14/1/2026 10:57
 Bank Indonesia: Rupiah Melemah karena Tekanan di Pasar Keuangan Dunia
Ilustrasi(Antara)

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pelemahan rupiah terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS) akibat tekanan di pasar keuangan dunia seiring memanasnya tensi geopolitik. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G. Hutapea mengungkapkan, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. Pihaknya mencatat rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1), atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date. Hari ini, Rabu (14/1), mata uang garuda anjlok 0,04% ke level Rp16,871 per dolar AS.

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju," ungkap Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (14/1).

Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed ke depan dan di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun turut mempengaruhi tekanan di pasar keuangan. Kendati demikian, BI menilai pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

Erwin menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi Non-deliverable forward (NDF) atau kontrak derivatif valuta asing di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.

"Serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder," ucapnya.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 basis points (bps).

Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

Bank sentral, tegas Erwin, akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia juga akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas.

"BI secara konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

Terpisah, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah masih sejalan dengan tren yang terjadi di kawasan Asia. Bukan hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS akibat meningkatnya tensi global.

Kondisi tersebut memicu perpindahan dana dari negara-negara emerging market ke negara maju (developed market). Aliran dana ini tercermin dari koreksi yang terjadi di pasar obligasi pemerintah dan pasar saham domestik.

"Ini mengindikasikan adanya potensi hot money outflow (dana asing jangka pendek mulai keluarl)," ucapnya.

Meski demikian, dari sisi fundamental, kondisi likuiditas valuta asing (valas) Indonesia dinilai masih kuat. Myrdal mencatat cadangan devisa Indonesia pada Desember 2025 meningkat tajam dibandingkan November, dengan kenaikan lebih dari US$5 miliar. Kenaikan ini menunjukkan bahwa secara agregat, likuiditas valas di dalam negeri sebenarnya berada pada level yang tinggi.

Namun, tekanan terhadap rupiah muncul karena adanya ketidakseimbangan (mismatch) antara suplai dan permintaan valas di pasar domestik. Permintaan dolar dari importir dan pemilik utang luar negeri yang harus membayar cicilan dan bunga setiap bulan belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh suplai valas di dalam negeri, meskipun cadangan devisa secara keseluruhan cukup besar.

Karena itu, menurut Myrdal, otoritas seperti pemerintah dan Bank Indonesia perlu mendorong pemilik devisa, khususnya eksportir, untuk mengonversi dan menempatkan valasnya di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan dolar domestik.

"Jika tidak, ketidakseimbangan suplai dan permintaan dolar akan terus berlanjut dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah," terangnya.

Padahal, dari sisi neraca transaksi berjalan, kondisi Indonesia relatif solid. Pada kuartal III lalu, current account tercatat surplus, dan untuk kuartal IV 2025 maupun kuartal I tahun ini diperkirakan tetap berada pada posisi yang baik atau hanya defisit rendah. Selain itu, neraca perdagangan juga konsisten mencatat surplus, minimal sekitar US$2 miliar per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa secara struktural, suplai dan likuiditas valas di dalam negeri sebenarnya masih berlimpah. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya