Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
ANALIS pasar modal Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengungkapkan rupiah kian terdepresiasi, saat ini nilai tukar rupiah bergerak di level 16.686 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menunjukkan meningkatnya tekanan pada mata uang domestik, yang lebih dalam dibandingkan periode sama tahun lalu, ketika rupiah berada di kisaran 15.700–15.900 per dolar AS.
Kondisi tersebut menuntut peningkatan intervensi untuk menahan laju depresiasi, terutama di tengah risiko global yang berpotensi memicu sentimen risk-off atau menghindari risiko dan memperberat tekanan terhadap mata uang garuda.
"Perlu peningkatan intervensi karena rupiah melemah cukup dalam dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ujarnya kepada Media Indonesia, Minggu (9/11).
Ia menjelaskan beberapa faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah saat ini. Pertama, perbedaan suku bunga (interest differential) yang tipis, yakni hanya 0,75%, sehingga ruang bagi rupiah untuk melemah cukup terbatas tanpa adanya dukungan dari faktor domestik atau harga komoditas.
Kedua, penguatan indeks dolar AS (DXY) hingga level 100 dan kenaikan imbal hasil obligasi AS 10 tahun (UST 10Y) ke 4,174% menambah tekanan pada rupiah.
"Dengan demikian, arah pergerakan DXY menjadi faktor penentu dalam jangka pendek," kata Oktavianus.
Di sisi lain, harga komoditas yang relatif stabil menjadi bantalan fundamental bagi rupiah. Harga batu bara stabil di sekitar US$110 per ton, sementara minyak kelapa sawit mentah atau CPO mendapat dukungan struktural dari permintaan biodiesel.
Namun, aliran modal menjadi risiko jika terus mengalami outflow atau arus kas keluar dalam jangka pendek.
Analis pasar modal Kiwoom Sekuritas itu menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang dan kebijakan untuk melakukan intervensi, dengan cadangan devisa per Oktober 2025 sebesar US$149,9 miliar atau sekitar Rp2.501 triliun (asumsi kurs Rp16.686), yang dapat digunakan untuk menahan volatilitas dan menjaga nilai rupiah.
Dalam skenario kuantitatif selama empat bulan ke depan, rupiah diperkirakan akan stabil di rentang 16.500–16.900 per dolar AS, dengan catatan DXY tetap di bawah 100, aliran portofolio positif, harga komoditas stabil.
"Serta, BI melakukan intervensi aktif melalui pasar valas dan Domestic Non- Deliverable Forward (DNDF)," terangnya.
Ia menambahkan rupiah berpotensi menghadapi tekanan lebih dalam hingga level Rp17.000 per dolar AS. Hal ini jika indeks DXY naik di atas 102, lalu harga komoditas melemah, misal batu bara di bawah US$100 per ton. Kemudian, terjadi outflow modal terutama dari SBN, atau imbal hasil UST kembali naik tajam di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
"Level psikologis 17.000 per dolar AS menjadi batas atas," katanya.
Terpisah, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pada Jumat (7/11) rupiah ditutup melemah di level Rp16.690 per dolar AS. Dalam satu minggu ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.600–Rp16.800 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) diprediksi bergerak antara 99,15–99,90, bahkan berpotensi menembus level 100.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, meskipun kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan relatif stabil.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04% pada kuartal terakhir, lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang berkisar 4,7–4,8%. Peningkatan ini didorong oleh belanja pemerintah, terutama untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta tingginya konsumsi masyarakat yang mendapat dukungan dari stimulus pemerintah.
“Meskipun ekonomi menunjukkan kinerja positif, rupiah tetap menghadapi tekanan,” ujarnya.
Ia berpandangan salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah persepsi pasar terkait aliran dana pemerintah. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, menyatakan dana sebesar Rp200 triliun yang dipindahkan dari Bank Indonesia ke bank-bank Himbara tidak ditujukan untuk konglomerat besar. Padahal, dalam praktiknya, konglomerat menjadi penggerak utama pasar valuta asing.
"Nah, ini yang salah kaprah. Kita harus lihat bahwa yang menggerakkan pasar itu adalah konglomerat," ucap Direktur PT Traze Andalan Futures itu. (H-3)
Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS hari ini, Jumat 6 Februari 2026, dibuka melemah ke level Rp16.870 akibat tekanan yield obligasi AS.
INDONESIA Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menilai nilai tukar rupiah masih memiliki ruang untuk menguat ke depan, meskipun belum seoptimistis proyeksi pemerintah.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang dipicu ketidakpastian pasar keuangan global.
Menkeu Purbaya optimistis rupiah bisa menguat hingga Rp15.000 per dolar AS. Ia menilai BI mampu mendorong penguatan lewat fundamental ekonomi.
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Selasa dengan penguatan tipis. Rupiah tercatat naik 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp16.762 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah hari ini, SeninĀ 2 Februari 2026, menunjukkan adanya dinamika.
INDONESIA Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menilai indeks dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY) masih bergerak dalam gejolak (volatile).
PENUNJUKAN Thomas Aquinas Muliatna (AM) Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi menekan pasar keuangan domestik, khususnya nilai tukar rupiah.
Menurutnya, optimalisasi belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menyatakan pemerintah percaya penuh terhadap langkah dan strategi bank sentral.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan pelemahan nilai tukar rupiah dipicu isu pencalonan Thomas A. M. Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
KEPALA Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai peluang pembalikan tren pelemahan rupiah dalam jangka pendek hingga menengah masih terbuka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved