Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rupiah kian Terdepresiasi, Intervensi Perlu Ditingkatkan

Insi Nantika Jelita
09/11/2025 14:07
Rupiah kian Terdepresiasi, Intervensi Perlu Ditingkatkan
Karyawan memperlihatkan pecahan rupiah dan dolar AS.(Dok. MI/Usman Iskandar)

ANALIS pasar modal Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengungkapkan rupiah kian terdepresiasi, saat ini nilai tukar rupiah bergerak di level 16.686 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menunjukkan meningkatnya tekanan pada mata uang domestik, yang lebih dalam dibandingkan periode sama tahun lalu, ketika rupiah berada di kisaran 15.700–15.900 per dolar AS.

Kondisi tersebut menuntut peningkatan intervensi untuk menahan laju depresiasi, terutama di tengah risiko global yang berpotensi memicu sentimen risk-off atau menghindari risiko dan memperberat tekanan terhadap mata uang garuda.

"Perlu peningkatan intervensi karena rupiah melemah cukup dalam dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ujarnya kepada Media Indonesia, Minggu (9/11).

Ia menjelaskan beberapa faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah saat ini. Pertama, perbedaan suku bunga (interest differential) yang tipis, yakni hanya 0,75%, sehingga ruang bagi rupiah untuk melemah cukup terbatas tanpa adanya dukungan dari faktor domestik atau harga komoditas.

Kedua, penguatan indeks dolar AS (DXY) hingga level 100 dan kenaikan imbal hasil obligasi AS 10 tahun (UST 10Y) ke 4,174% menambah tekanan pada rupiah.

"Dengan demikian, arah pergerakan DXY menjadi faktor penentu dalam jangka pendek," kata Oktavianus.

Di sisi lain, harga komoditas yang relatif stabil menjadi bantalan fundamental bagi rupiah. Harga batu bara stabil di sekitar US$110 per ton, sementara minyak kelapa sawit mentah atau CPO mendapat dukungan struktural dari permintaan biodiesel.
Namun, aliran modal menjadi risiko jika terus mengalami outflow atau arus kas keluar dalam jangka pendek.

Analis pasar modal Kiwoom Sekuritas itu menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang dan kebijakan untuk melakukan intervensi, dengan cadangan devisa per Oktober 2025 sebesar US$149,9 miliar atau sekitar Rp2.501 triliun (asumsi kurs Rp16.686), yang dapat digunakan untuk menahan volatilitas dan menjaga nilai rupiah.

Dalam skenario kuantitatif selama empat bulan ke depan, rupiah diperkirakan akan stabil di rentang 16.500–16.900 per dolar AS, dengan catatan DXY tetap di bawah 100, aliran portofolio positif, harga komoditas stabil.

"Serta, BI melakukan intervensi aktif melalui pasar valas dan Domestic Non- Deliverable Forward (DNDF)," terangnya.

Ia menambahkan rupiah berpotensi menghadapi tekanan lebih dalam hingga level Rp17.000 per dolar AS. Hal ini jika indeks DXY naik di atas 102, lalu harga komoditas melemah, misal batu bara di bawah US$100 per ton. Kemudian, terjadi outflow modal terutama dari SBN, atau imbal hasil UST kembali naik tajam di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

"Level psikologis 17.000 per dolar AS menjadi batas atas," katanya.

Rupiah Seminggu ke Depan

Terpisah, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pada Jumat (7/11) rupiah ditutup melemah di level Rp16.690 per dolar AS. Dalam satu minggu ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.600–Rp16.800 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) diprediksi bergerak antara 99,15–99,90, bahkan berpotensi menembus level 100.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, meskipun kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan relatif stabil.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04% pada kuartal terakhir, lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang berkisar 4,7–4,8%. Peningkatan ini didorong oleh belanja pemerintah, terutama untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta tingginya konsumsi masyarakat yang mendapat dukungan dari stimulus pemerintah.

“Meskipun ekonomi menunjukkan kinerja positif, rupiah tetap menghadapi tekanan,” ujarnya.

Ia berpandangan salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah persepsi pasar terkait aliran dana pemerintah. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, menyatakan dana sebesar Rp200 triliun yang dipindahkan dari Bank Indonesia ke bank-bank Himbara tidak ditujukan untuk konglomerat besar. Padahal, dalam praktiknya, konglomerat menjadi penggerak utama pasar valuta asing.

"Nah, ini yang salah kaprah. Kita harus lihat bahwa yang menggerakkan pasar itu adalah konglomerat," ucap Direktur PT Traze Andalan Futures itu. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik