Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Ekonom Nilai Pembalikan Pelemahan Rupiah masih Berpeluang dengan Tiga Syarat Utama

Media Indonesia
20/1/2026 19:37
Ekonom Nilai Pembalikan Pelemahan Rupiah masih Berpeluang dengan Tiga Syarat Utama
Ilustrasi(Antara)

KEPALA Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai peluang pembalikan tren pelemahan rupiah dalam jangka pendek hingga menengah masih terbuka. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada terpenuhinya tiga prasyarat utama yang saling berkaitan, baik dari sisi global maupun domestik.

Syarat pertama adalah meredanya tekanan eksternal, seperti tidak adanya kenaikan lanjutan suku bunga Amerika Serikat (AS) atau melemahnya dolar AS. Kedua, perbaikan sentimen domestik melalui kejelasan arah kebijakan fiskal serta komunikasi kebijakan yang mampu membangun keyakinan pasar.

Syarat ketiga, menurut Josua, adalah kembalinya arus modal asing secara lebih konsisten dan stabil.

"Ketiga, arus dana kembali masuk secara lebih stabil," kata Josua saat dihubungi.

Ia mengingatkan bahwa persepsi pasar saat ini masih cenderung memandang risiko pelemahan nilai tukar rupiah ke arah negatif. Bahkan, terdapat proyeksi rupiah berpotensi bergerak melewati level Rp17.000 per dolar AS apabila sentimen pasar tidak segera membaik. Selain itu, faktor musiman seperti mendekati bulan Ramadhan serta musim pembagian dividen dinilai dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

"Karena itu, mitigasi bank sentral tidak cukup hanya mengandalkan langkah stabilisasi rutin di pasar valuta," kata Josua.

Josua menilai intervensi tetap perlu dilakukan guna mencegah pelemahan rupiah yang berlangsung terlalu cepat sekaligus menjaga kepercayaan pelaku pasar. Ia mencatat bahwa bank sentral terlihat semakin aktif menahan laju pelemahan mendekati Rp17.000 per dolar AS, termasuk melalui penguatan komunikasi kebijakan.

Namun demikian, ia menekankan bahwa persoalan utama terletak pada premi risiko dan tingkat keyakinan pasar. Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu memastikan likuiditas rupiah tetap terjaga agar tidak memicu kepanikan, memperkuat instrumen pengelolaan likuiditas, meningkatkan pasokan valuta asing melalui koordinasi kebijakan devisa dan arus modal, serta menegaskan komitmen terhadap disiplin fiskal dan independensi kebijakan moneter guna menurunkan persepsi risiko.

Secara umum, Josua mencatat bahwa pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS belakangan ini dipersepsikan pasar sebagai hasil kombinasi tekanan global dan domestik.

"Dalam dua hari terakhir saja, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.923 per dolar AS lalu menembus rekor terlemah sekitar Rp16.988 per dolar AS, sehingga level 17.000 menjadi jangkar psikologis yang sangat diperhatikan pasar," katanya.

Dari sisi global, arah pergerakan dolar AS dan kebijakan suku bunga AS masih menjadi faktor dominan karena berpengaruh langsung terhadap aliran dana ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Ada fase ketika dolar melemah tipis, tetapi pasar tetap berhati-hati menunggu data ekonomi AS dan dinamika kebijakan AS yang meningkatkan ketidakpastian, sehingga permintaan safe haven asset mudah muncul lagi saat sentimen memburuk," kata Josua menjelaskan.

Sementara dari dalam negeri, pasar juga mencermati risiko pelebaran defisit fiskal serta kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh isu mengenai persepsi independensi bank sentral setelah muncul kabar penunjukan figur yang dinilai dekat dengan kekuasaan ke dalam jajaran otoritas moneter.

Kondisi tersebut mendorong peningkatan premi risiko Indonesia, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sekitar 25 basis poin menjadi 6,32%.

"Apakah ini alarm yang mengkhawatirkan? Secara arah, pasar memang sedang memberi sinyal kewaspadaan karena pelemahan nilai tukar yang disertai kenaikan imbal hasil menunjukkan ada unsur kekhawatiran kepercayaan, bukan sekadar faktor musiman," ujar Josua.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis. Menurutnya, fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif kuat, tercermin dari inflasi yang terkendali serta cadangan devisa yang tercatat tinggi pada 2025, sehingga ruang untuk meredam gejolak masih tersedia.

"Yang perlu dicermati justru kualitas respons kebijakan dan konsistensi stance kebijakan fiskal. Jadi jika pasar melihat arah kebijakan jelas dan disiplin terjaga, tekanan kurs biasanya lebih cepat mereda," kata Josua. (Ant/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya