Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menilai indeks dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY) masih bergerak dalam gejolak (volatile). Tetapi, secara fundamental arah pergerakannya lebih condong melemah ketimbang menguat dalam jangka menengah.
William mengatakan, dari sisi pandangan DBS, USD kemungkinan besar akan melemah namun tetap dalam rentang stabil tanpa potensi penguatan signifikan dalam waktu dekat. Hal ini didukung oleh kondisi utang Amerika Serikat yang masih berada pada level tinggi dan belum menunjukkan tanda stabilisasi. Kondisi tersebut dinilai salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan dolar saat ini.
“Kalau kita lihat, memang saat ini posisi utang AS masih tinggi dan belum ada stabilisasi berarti. Ini jadi salah satu alasan kenapa kami melihat USD belum punya potensi penguatan yang kuat,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/2).
William juga menyinggung potensi perubahan arah kebijakan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang baru, khususnya terkait sikap The Fed. William menilai, meskipun beberapa figur baru di Federal Reserve memiliki historis hawkish, perubahan kepemimpinan politik bisa membawa dinamika berbeda terhadap kebijakan moneter AS.
“Walaupun figur baru di Fed punya histori hawkish, arah kebijakan di bawah kepemimpinan baru ini bisa memberikan uncertainty atau ketidakpastian tersendiri. Ini jadi salah satu faktor yang membuat dolar masih memiliki kelemahan namun belum kuat untuk kembali menguat,” katanya.
Pandangan ini, tambahnya, juga tercermin dalam proyeksi para analis global yang memperkirakan tekanan terhadap dolar masih akan berlanjut pada 2026, dengan potensi penurunan indeks dolar lebih lanjut jika The Fed melonggarkan kebijakan lebih jauh. Prospek ini memakan waktu seiring data ekonomi dan kebijakan suku bunga AS semakin jelas.
William melanjutkan bahwa volatilitas dan ketidakpastian dalam kebijakan AS, termasuk dinamika suku bunga dan kondisi fiskal negara tersebut, turut mempengaruhi sikap investor global terhadap dolar. Meskipun demikian, posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia masih menjadi penopang bagi stabilitas jangka panjang. (E-4)
PENUNJUKAN Thomas Aquinas Muliatna (AM) Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi menekan pasar keuangan domestik, khususnya nilai tukar rupiah.
Menurutnya, optimalisasi belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menyatakan pemerintah percaya penuh terhadap langkah dan strategi bank sentral.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan pelemahan nilai tukar rupiah dipicu isu pencalonan Thomas A. M. Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
KEPALA Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai peluang pembalikan tren pelemahan rupiah dalam jangka pendek hingga menengah masih terbuka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved