Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Rupiah Hari Ini 20 Januari 2026: Sudah Diperdagangkan di Level Rp17.000

Andhika Prasetyo
20/1/2026 09:25
Rupiah Hari Ini 20 Januari 2026: Sudah Diperdagangkan di Level Rp17.000
Ilustrasi(Antara)

Nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Berdasarkan data referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah hari ini bertengger di level yang mengkhawatirkan, yakni menyentuh Rp16.978 per dolar AS

Data Kurs Referensi JISDOR Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) menetapkan kurs referensi JISDOR hari ini dengan rincian sebagai berikut:

Mata Uang Kurs Beli (Rp) Kurs Jual (Rp)
USD (Dolar AS) 16.795,60 16.964,40
SGD (Dolar Singapura) 13.031,97 13.168,05
EUR (Euro) 17.921,00 18.100,00
JPY (Yen Jepang) 107,21 108,41

Kurs Dolar AS di Bank Besar Nasional (BCA, Mandiri, BNI, BRI)

Sejumlah beberapa bank besar nasional pun mulai mematok harga jual dolar AS di level Rp17.000 ke atas untuk transaksi retail (TT Counter). Berikut rinciannya:

Nama Bank Kurs Beli (Rp) Kurs Jual (Rp)
BCA (TT Counter) 16.765 17.065
Bank Mandiri (TT Counter) 16.700 17.000
BNI (Bank Notes) 16.760 17.060
BRI (E-Rate) 16.918 16.990

Kondisi ini memicu kekhawatiran di sektor impor dan pasar modal, mengingat volatilitas yang tinggi sejak pembukaan pasar pagi tadi. Simak rincian data kurs terbaru dan analisis pemicu pelemahan rupiah di bawah ini.

Mengapa Rupiah Anjlok Hari Ini?

Analisis ekonomi menunjukkan ada tiga faktor utama yang menyebabkan nilai tukar rupiah babak belur di awal tahun 2026:

  • Ketidakpastian Global: Tensi geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah dan Eropa Timur mendorong investor global untuk memindahkan aset mereka ke mata uang safe haven seperti Dolar AS.
  • Kebijakan Suku Bunga AS: Sinyal dari The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi (high for longer) membuat aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
  • Defisit Neraca Perdagangan: Meningkatnya permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan impor energi di awal tahun memberikan tekanan tambahan pada cadangan devisa.

Waspada: Bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan valas untuk pendidikan atau bisnis, disarankan untuk melakukan strategi hedging atau mencicil pembelian dolar guna menghindari lonjakan harga yang lebih ekstrem di kemudian hari.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya