Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Rupiah Terangkat Minat Global Bond Euro dan Sentimen Tarif AS

Media Indonesia
26/2/2026 17:00
Rupiah Terangkat Minat Global Bond Euro dan Sentimen Tarif AS
Petugas melayani penukaran uang rupiah pecahan kecil pada mobil kas keliling Bank Indonesia di pelataran Tugu Religi, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (25/2/2026).(Antara/Andry Denisah)

NILAI tukar mata uang rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (26/2/2026), bergerak menguat 41 poin atau 0,24 persen menjadi 16.759 per dolar AS dari sebelumnya 16.800 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor domestik yang solid dan dinamika kebijakan perdagangan global.

Tingginya Minat Investor pada Obligasi Pemerintah

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa penguatan kurs rupiah sangat dipengaruhi oleh minat pelaku pasar yang tetap tinggi terhadap obligasi pemerintah Indonesia.

"Minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah masih tinggi karena masih memberikan imbal hasil yang kompetitif sementara fiskal masih akan dikelola dengan baik," kata Rully di Jakarta.

Salah satu indikator kuat adalah laporan mengenai global bond euro pemerintah Indonesia yang mengalami over subscribe hingga 3,4 kali. Tercatat permintaan mencapai 9,2 miliar euro dari total yang ditawarkan sebesar 2,7 miliar euro. Kondisi ini menunjukkan bahwa sumber pembiayaan pemerintah untuk memperlebar ruang fiskal masih sangat memadai dengan biaya yang relatif rendah.

Statistik Penutupan Kurs Rupiah (26 Februari 2026):
  • Pasar Spot: Rp16.759 per dolar AS (Menguat 0,24%)
  • Kurs JISDOR BI: Rp16.758 per dolar AS
  • Oversubscribe Global Bond: 3,4 Kali

Respons Pasar terhadap Pidato Donald Trump

Di sisi global, penguatan rupiah juga dipicu oleh respons pasar atas pidato Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan tarif. Saat ini, Amerika Serikat mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10 persen, dengan rencana peningkatan hingga 15 persen menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan langkah tarif resiprokal sebelumnya.

Dalam pidatonya di depan Kongres AS, Trump menyebut banyak negara dan perusahaan ingin mempertahankan kesepakatan tarif lama. Namun, kebijakan proteksionisme ini justru diprediksi akan menurunkan ketergantungan terhadap mata uang dolar AS dalam jangka pendek.

"Perang tarif diperkirakan akan mengurangi volume perdagangan dengan AS sehingga kebutuhan dolar, baik untuk ekspor-impor maupun untuk cadangan devisa akan turun," ungkap Rully.

Kurs JISDOR Bank Indonesia

Sejalan dengan penguatan di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga ditutup menguat ke level Rp16.758 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya di level Rp16.813 per dolar AS. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya