Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

BI Sebut Kurs Rupiah Undervalued dan Siapkan Intervensi Masif

Media Indonesia
19/2/2026 19:17
BI Sebut Kurs Rupiah Undervalued dan Siapkan Intervensi Masif
Petugas bank memperlihatkan uang baru pada pelayanan penukaran Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di halaman Masjid Suada Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (19/2/2026).(Antara/Akbar Tado)

BANK Indonesia (BI) memandang nilai tukar rupiah saat ini telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Posisi ini dianggap tidak selaras dengan konsistensi pengendalian inflasi nasional yang ditargetkan tetap berada pada sasaran 2,5 plus minus 1 persen untuk periode 2026 dan 2027.

“Untuk itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui intervensi di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar dalam negeri,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Proyeksi Stabilitas Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Perry menegaskan bahwa ke depan, BI memandang nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat. Keyakinan ini didukung oleh langkah-langkah stabilisasi yang masif serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh.

Beberapa indikator penguat fundamental tersebut antara lain imbal hasil aset keuangan yang menarik, tingkat inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang terus menunjukkan tren peningkatan.

Adapun data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 berada di level 16.880 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,56 persen (point to point/ptp) jika dibandingkan dengan level pada akhir Januari 2026.

Pemicu Tekanan Kurs dan Kondisi NPI

Berdasarkan catatan BI, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Di sisi domestik, terdapat peningkatan permintaan valuta asing (valas) dari sektor korporasi seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi nasional.

Meskipun menghadapi tekanan global, BI memprakirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap dalam kondisi sehat. Pada triwulan IV 2025, NPI terjaga berkat surplus neraca perdagangan Desember 2025 yang mencapai US$2,5 miliar didorong oleh ekspor komoditas sumber daya alam.

Kinerja ini diprediksi berlanjut pada triwulan I 2026 saat neraca perdagangan berpotensi kembali surplus didukung oleh perbaikan ekspor nonmigas.

Statistik Kunci Aliran Modal & Cadangan Devisa:
  • Net Inflows (Hingga 13 Feb 2026): US$1,6 miliar (Terutama ke SRBI dan SBN).
  • Cadangan Devisa (Januari 2026): US$154,6 miliar.
  • Ketahanan: Setara 6,3 bulan impor (Di atas standar internasional 3 bulan).

Perry menyimpulkan bahwa defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan tetap sehat dalam kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen dari PDB. “Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi untuk memitigasi dampak negatif ketidakpastian pasar global,” pungkasnya. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya