Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan bahwa pergerakan rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS lebih tepat dibaca sebagai refleksi tekanan sentimen pasar global ketimbang cerminan pelemahan fundamental ekonomi domestik.
“Secara makro, fondasi ekonomi Indonesia masih relatif solid: pertumbuhan tetap terjaga, defisit eksternal berada pada level yang dapat dikelola, dan cadangan devisa masih memadai sebagai bantalan stabilisasi,” ucap dia saat dihubungi, Minggu (18/1).
Namun, tambah Rizal, pasar keuangan bersifat antisipatif. Hal ini tercermin dari ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama, penguatan dolar AS sebagai aset aman, serta penyesuaian portofolio investor asing dari emerging markets menjadi faktor dominan yang menekan rupiah dalam jangka pendek.
“Artinya, level mendekati Rp17.000 ini lebih mencerminkan dinamika arus modal dan psikologi pasar, bukan sinyal pelemahan struktural ekonomi Indonesia,” tegas dia.
Apabila tren pelemahan rupiah berlanjut, Rizal menyebut bahwa sektor yang paling rentan adalah sektor dengan ketergantungan impor tinggi dan eksposur utang valas yang besar, khususnya yang tidak terlindungi oleh skema lindung nilai. Ia menilai, industri manufaktur berbasis bahan baku impor, transportasi, serta sektor energi akan menghadapi kenaikan biaya yang berpotensi menekan margin dan daya saing.
“Sebaliknya, sektor berbasis ekspor terutama komoditas dapat memperoleh keuntungan jangka pendek dari depresiasi rupiah, meskipun sangat bergantung pada pergerakan harga global,” imbuhnya.
Maka dari itu, Rizal menegaskan bahwa tantangan kebijaka nke depan bukan sekadar menahan level nilai tukar tertentu, melainkan menjaga stabilitas ekspektasi pasar agar tekanan sentimen tidak berkembang menjadi risiko fundamental. “Dalam konteks ini, kredibilitas kebijakan dan komunikasi Bank Indonesia menjadi kunci untuk memastikan volatilitas tetap terkendali dan tidak mengganggu pemulihan ekonomi secara keseluruhan,” tandasnya. (H-2)
INDONESIA Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menilai indeks dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY) masih bergerak dalam gejolak (volatile).
PENUNJUKAN Thomas Aquinas Muliatna (AM) Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi menekan pasar keuangan domestik, khususnya nilai tukar rupiah.
Menurutnya, optimalisasi belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menyatakan pemerintah percaya penuh terhadap langkah dan strategi bank sentral.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan pelemahan nilai tukar rupiah dipicu isu pencalonan Thomas A. M. Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
KEPALA Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai peluang pembalikan tren pelemahan rupiah dalam jangka pendek hingga menengah masih terbuka.
Mata uang rupiah ditutup melemah ke 16.787 per dolar AS (27/2). Ketegangan Iran-AS dan tarif panel surya 104% jadi pemicu utama. Simak ulasan lengkapnya.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu tercatat melemah 19 poin atau sekitar 0,11% ke level Rp16.848 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Rabu 25 Februari 2026, dibuka melemah ke level Rp16.848. Ketidakpastian global menjadi pemicu utama.
Nilai tukar rupiah melemah ke 16.829 per dolar AS pada 24 Februari 2026. Simak analisis penyebab tekanan eksternal dan proyeksi suku bunga The Fed di sini.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah pada Selasa pagi (24/2/2026) melemah 10 poin ke level Rp16.835 per dolar AS. Simak analisis penyebab pelemahan rupiah hari ini.
RUPIAH berada di bawah tekanan seiring kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang menembus level 6,45% pada perdagangan Jumat, (20/2).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved