Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

MBG Bawa Dampak Positif yang Beragam

Ihfa Firdausya
31/12/2025 13:57
MBG Bawa Dampak Positif yang Beragam
Ilustrasi(Antara)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berlangsung hampir satu tahun dinilai membawa perubahan besar bagi arah pembangunan nasional. Bukan sekadar program sosial, MBG dinilai menjadi instrumen penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia secara lebih sistematis. Hal ini disampaikan pakar ekonomi sekaligus pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didin S Damanhuri.

Menurutnya, MBG menawarkan pendekatan baru dalam ekonomi pembangunan. Selama ini, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih menekankan peningkatan pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin, meskipun terkadang harus mengorbankan pemerataan. Sebaliknya, MBG hadir membawa paradigma human resource economics, yakni pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan.

Didin menilai, apabila berjalan konsisten dan berjangka panjang, MBG berpotensi menggeser pola pikir ekonomi nasional menuju pembangunan berbasis kualitas manusia.

"Program ini tidak hanya menyentuh sektor infrastruktur, tetapi langsung menyasar persoalan ketimpangan gizi dan akses pendidikan, terutama bagi masyarakat lapisan bawah. Intervensi gizi dari negara sangat strategis karena dampaknya mampu menekan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin, mengingat program ini menyasar sekitar 50 persen masyarakat kelas bawah," jelas Didin.

Dampak MBG juga terlihat di tingkat sekolah. Di SMAN 1 Taraju, Cibuntu, Tasikmalaya, program ini disebut mengubah kebiasaan makan siswa menjadi lebih sehat. Alfi Alfian, siswa kelas XI, mengaku tidak lagi harus membeli jajanan seadanya seperti sebelumnya, bahkan keluarganya merasa terbantu dengan adanya makanan bergizi di sekolah. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nurhayati, menambahkan bahwa kebiasaan jajan siswa berkurang dan pengeluaran harian juga menurun. Ia melihat kehadiran MBG turut meningkatkan kedisiplinan dan semangat belajar karena siswa mendapatkan asupan gizi yang lebih baik.

Di sisi lain, MBG juga memberi manfaat tambahan bagi para guru honorer yang ikut membantu distribusi makanan. Insentif dari program ini menambah penghasilan mereka, sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai pusat dukungan sosial bagi siswa. Kebijakan MBG yang tetap berjalan meski memasuki masa libur sekolah juga dinilai sebagai bukti komitmen negara dalam memastikan nutrisi anak tetap terjaga dan upaya pencegahan stunting berjalan berkelanjutan.

Dampak ekonomi lokal pun ikut terasa melalui keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di berbagai daerah, SPPG tak hanya membuka peluang kerja bagi pegawai dan relawan, tetapi juga menyerap hasil produksi petani dan peternak setempat. Mitra SPPG Cibuntu, Tasikmalaya, Tino Rirantino, menyebut keberadaan SPPG membantu menggerakkan pasar lokal sekaligus menjadi jembatan antara pelaku ekonomi daerah dan program pemenuhan gizi.

Didin menilai, tantangan teknis yang sempat muncul pada awal pelaksanaan MBG kini semakin terkonsolidasi melalui Badan Gizi Nasional. Ia melihat kondisi ini sebagai tanda optimisme jangka panjang, karena pembangunan diarahkan secara berkesinambungan menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

"Dengan demikian, tidak hanya kelompok tertentu yang bisa berpartisipasi, tetapi seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati manfaat pembangunan," tuturnya

Melalui konsistensi kebijakan dan penguatan implementasi, ia berharap MBG akan terus berkembang sebagai program strategis yang tidak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya