Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dunia Usaha Masih Wait and See, Kredit Mengganggur masih Tinggi

Insi Nantika Jelita
08/12/2025 17:49
Dunia Usaha Masih Wait and See, Kredit Mengganggur masih Tinggi
Ilustrasi(Antara)

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengungkapkan fasilitas pinjaman perbankan yang belum ditarik atau undisbursed loan masih tinggi. Hingga Oktober 2025, jumlahnya mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97% dari total plafon kredit yang tersedia. Menurutnya, tingginya angka tersebut dipengaruhi sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi dan melemahnya daya beli masyarakat.

"Undisbursed loan masih tinggi di perbankan. Artinya, kredit yang sudah disetujui bank belum ditarik debitur karena mereka menunggu waktu yang tepat, wait and see melihat apakah bisnis ini profitable atau tidak," ujarnya dalam Bisnis Indonesia Group Conference, Jakarta, Senin (8/12).

Selain itu, Hery menyebut pertumbuhan kredit sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga masih melemah pascapandemi dan belum pulih sepenuhnya. Menurut dia, terdapat tekanan margin dan risiko kredit yang harus diwaspadai. Namun dari sisi likuiditas, kondisi perbankan masih stabil berkat penurunan suku bunga acuan dan kebijakan moneter yang longgar sehingga menurunkan biaya dana (cost of fund).

"Selama 2025, industri perbankan masih mencatat pertumbuhan moderat," kata Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) itu.

Hingga Juni 2025, total aset perbankan tumbuh 9,43%, kredit atau pembiayaan hanya 7,7% dan dana pihak ketiga (DPK) naik 8,4%. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 84,2%. Menurut Hery, LDR yang masih rendah menunjukkan perbankan masih memiliki ruang yang luas untuk menyalurkan kredit.

Dari sisi profitabilitas, net interest margin (NIM) berada pada level 4,58%. Sementara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) mencapai 26,2%. Adapun rasio loan at risk terus membaik dan kini berada di bawah 10%, sedangkan non-performing loan (NPL) gross terjaga di level 2,2% per Juni 2025.

Untuk 2026, likuiditas perbankan diperkirakan tetap longgar didukung kebijakan Bank Indonesia, termasuk kelonggaran giro wajib minimum. Pemulihan daya beli masyarakat serta percepatan proyek infrastruktur melalui alokasi APBN juga diharapkan mampu mendorong permintaan kredit. Namun, pertumbuhan kredit diperkirakan masih berada pada rentang satu digit di tahun depan.

"Bank Indonesia dan perbankan memprediksi pertumbuhan kredit masih single digit pada 2026," tegas Hery.

Dari sisi makroekonomi, perbankan dan Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 berada di kisaran 5,1% hingga 5,33% secara tahunan (yoy).

"Untuk 2026 mungkin lebih capaian ekonominya dari 2025," katanya.

Meski optimistis, Hery menilai tantangan yang harus dihadapi antara lain melemahnya daya beli masyarakat dan minimnya ekspansi dunia usaha.

Ia juga menyoroti rencana konsolidasi perbankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat struktur industri. Saat ini, bank di Indonesia diklasifikasikan dalam empat kelompok berdasarkan modal inti, yakni KBMI 1 hingga KBMI 4. KBMI 1 merupakan kelompok terbesar dengan 65 bank bermodal hingga Rp6 triliun, sedangkan KBMI 4 hanya mencakup empat bank besar, yakni BRI, Mandiri, BNI, dan BCA.

Menurut Hery, rata-rata CAR di kelompok KBMI 1 berada di level 31,50% dan masih dinilai sehat, meski return on asset (ROA) kelompok ini relatif rendah dibandingkan KBMI 4 yang mencapai 3,38%. (E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya