Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUMBUHAN kredit industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) pada 2026 berada di level dua digit. Prospek tersebut ditopang oleh masih lebarnya credit gap di Indonesia, yakni kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan masyarakat dan penyaluran kredit oleh perbankan.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan, melemahnya kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perbankan mendorong pelaku usaha kecil dan menengah mencari sumber pembiayaan alternatif.
"Pelaku usaha seperti UMKM akan mencari alternatif financing, contohnya dari pindar. Tahun ini kita masih prediksi kredit P2P lending masih di angka dua digit," kata Nailul dalam Diskusi Digital untuk Desa: Potensi Fintech Dorong Ekonomi di Jakarta, Jumat (23/1).
Ia menekankan pertumbuhan pindar pada 2026 akan sangat bergantung pada sisi pemberi dana (lender). Ia mengakui, sejumlah kasus yang sempat terjadi di industri fintech lending sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap laju penyaluran kredit.
"Secara umum masih cukup positif. Pertumbuhan kredit pindar bisa berada di kisaran 20% atau setidaknya tetap di atas 15% secara tahunan," ramalnya.
Pertumbuhan tersebut, lanjutnya, sangat didorong oleh masih besarnya kebutuhan pembiayaan yang belum terlayani perbankan. Di tengah pertumbuhan yang tinggi itu, Nailul mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kredit, khususnya rasio TWP 90 (tingkat wanprestasi di atas 90 hari).
Pada November 2025, TWP 90 industri pindar tercatat sudah mencapai sekitar 4%, relatif setara dengan rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM di perbankan yang juga berada di kisaran 4%. Perbedaannya, kata Nailul, perbankan cenderung menahan atau memperlambat penyaluran kredit UMKM karena dianggap berisiko.
Sebaliknya, peluang justru masih terbuka lebar di industri pinjaman daring untuk terus mendorong pembiayaan, selama risiko dapat dikelola dengan baik. Salah satu upaya pengendalian risiko dilakukan melalui peran agen, seperti yang diterapkan oleh sejumlah platform, untuk membantu menjaga TWP agar tidak meningkat.
Lebih jauh, Nailul menyoroti kesenjangan antara permintaan kredit masyarakat dan pasokan dari perbankan tidak hanya berdampak pada pertumbuhan pindar. Kehadiran pinjaman daring juga ikut mendorong berkembangnya koperasi simpan pinjam (KSP) di desa-desa. "Sekaligus meningkatkan jumlah agen keuangan di wilayah pedesaan," katanya.
Menariknya, semakin banyak platform pinjaman daring yang beroperasi di desa, permintaan terhadap layanan pembayaran nontunai juga ikut meningkat. Transaksi tersebut kerap difasilitasi melalui agen bank di desa, yang perannya menjadi semakin relevan.
Dalam kesempatan sama, Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menilai pertumbuhan ekonomi di daerah belum ekspansif yang diharapkan, terutama di luar Pulau Jawa dan pada lapisan masyarakat bawah. Hal tersebut tercermin dari pola permintaan pembiayaan mitra Amartha yang cenderung stabil. "Yang kita rasakan, ekonomi di daerah-daerah tidak seagresif pertumbuhan ekonominya," tuturnya.
Katanya, banyak mitra Amartha yang sudah lama bergabung, biasanya setelah melunasi satu siklus pinjaman, mereka akan mengajukan pembiayaan yang lebih besar. Namun saat ini, sebagian besar justru tidak merasa perlu menambah pinjaman.
Menurut Taufan, kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha mikro dan kecil lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. "Pembiayaan tetap diarahkan agar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mitra, sehingga tetap mendukung aktivitas ekonomi tanpa menambah risiko berlebihan," jelasnya.
Memasuki 2026, Amartha melihat tantangan ke depan tidak hanya pada pengembangan bisnis, tetapi juga pada penguatan tata kelola dan manajemen risiko. Hal ini menjadi penting untuk membangun kepercayaan institusi dan investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
"Investor global kini sangat selektif. Mereka mencari platform yang memiliki kapabilitas pengelolaan risiko yang baik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga jika dibandingkan dengan Hong Kong, India, Filipina, Thailand, hingga Tiongkok," kata Andi.
Sejalan dengan itu, Amartha akan terus memperluas jangkauan layanan ke berbagai daerah di luar Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Upaya ini ditujukan agar lebih banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Selain ekspansi wilayah, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga menjadi fokus perusahaan. Amartha berupaya mengimplementasikan AI untuk memperkuat analisis dan pemetaan profil risiko UMKM di Indonesia.
"Era bisnis telah bergeser dari sekadar digitalisasi menuju pemanfaatan AI. Teknologi ini kami gunakan untuk mengenali profil risiko mitra secara lebih akurat, sehingga pembiayaan bisa lebih tepat sasaran," tutupnya. (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved